Minggu, Juni 21

MEMBANGUN LITERASI DAN NUMERASI: PEMBIASAAN BERKELANJUTAN DAN ASESMEN TERSTRUKTUR

Pemahaman mendalam terhadap segala hal tidak dapat tercapai secara instan; segala sesuatu yang ingin dikuasai dengan baik harus ditempuh melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten. Prinsip ini berlaku sepenuhnya dalam upaya membangun serta mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi pada peserta didik. Kedua kompetensi dasar ini bukan sekadar kemampuan keterampilan, melainkan fondasi berpikir yang harus dibentuk dan dilatih secara berulang agar menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri siswa. 

Ragam Jenis Literasi dan Integrasi dalam Pembelajaran

Literasi memiliki cakupan yang luas dan beragam, melampaui sekadar kemampuan membaca dan menulis. Terdapat berbagai jenis literasi yang perlu dikembangkan, antara lain literasi baca tulis sebagai dasar utama, literasi finansial yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan, literasi digital untuk memahami dan memanfaatkan teknologi dengan bijak, serta literasi matematik yang berhubungan dengan penalaran dan pemahaman konsep bilangan.

Agar kemampuan ini tumbuh dan berkembang, literasi dan numerasi harus dibiasakan dan diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran, tidak hanya terbatas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Matematika saja. Di setiap materi yang diajarkan, guru perlu menyisipkan unsur pengolahan informasi, pemahaman simbol, pengelolaan data, dan penalaran. Selain itu, pembiasaan juga dibangun melalui variasi bentuk soal yang disajikan, mulai dari pilihan ganda, soal kompleks yang menuntut analisis mendalam, hingga soal esai yang melatih kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur. Variasi ini melatih siswa untuk berpikir luwes dan siap menghadapi berbagai bentuk tantangan informasi.

Tahapan Asesmen Literasi dan Numerasi

Pembiasaan literasi dan numerasi juga harus tercermin dalam sistem penilaian atau asesmen yang diterapkan di sekolah. Asesmen tidak hanya dilakukan di akhir pembelajaran, melainkan berjalan beriringan dengan proses belajar melalui tiga tahapan utama: asesmen awal literasi dan numerasi, asesmen formatif yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, dan asesmen sumatif di akhir pembahasan materi atau akhir periode.

Penyusunan instrumen asesmen ini dapat diatur dengan cara yang terstruktur dan efisien. Sekolah dapat menyusun satu dokumen standar asesmen awal yang berlaku untuk semua mata pelajaran dan digunakan bagi seluruh siswa, sehingga pengukuran kemampuan dasar dilakukan dengan acuan yang seragam. Di sisi lain, untuk kebutuhan pembiasaan dalam proses pembelajaran, masing-masing guru berwenang dan berkewajiban menyusun soal-soal asesmen literasi dan numerasi yang disesuaikan dengan karakteristik materi dan mata pelajaran yang diampu.

Tujuan dan Manfaat Asesmen

Pelaksanaan asesmen awal memiliki tujuan yang sangat krusial. Pertama, asesmen ini berfungsi untuk memetakan dan mengetahui kemampuan awal literasi dan numerasi yang telah dimiliki setiap anak sebelum menerima materi baru. Kedua, asesmen ini berfungsi untuk mengukur ketercapaian kemampuan prasyarat yang harus dikuasai siswa agar dapat mengikuti dan memahami materi yang akan disampaikan dengan baik.

Hasil dari asesmen tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuannya, yaitu kategori mahir, sedang, dan rendah. Pengelompokan ini bukan untuk membedakan, melainkan sebagai dasar bagi guru untuk merancang pendekatan pembelajaran yang tepat, memberikan bantuan tambahan bagi yang membutuhkan, serta memberikan tantangan yang sesuai bagi siswa yang sudah memiliki kemampuan lebih.

Semangat Belajar Menuju Transformasi Zaman

Di balik seluruh upaya pembiasaan dan penilaian ini, ada satu semangat utama yang harus dibangun dan ditanamkan, yaitu semangat belajar untuk bertransformasi. Dunia terus berubah dengan sangat cepat, ditandai dengan perkembangan teknologi dan ledakan informasi yang masif. Literasi dan numerasi adalah bekal utama yang memampukan siswa untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan yang bijak di tengah perubahan tersebut. Melalui pembiasaan yang terus-menerus dan asesmen yang terarah, kita tidak hanya membangun kemampuan akademik, tetapi juga menyiapkan generasi yang cakap, mandiri, dan mampu bersaing serta berkontribusi sesuai tuntutan zaman.

 


MEMAHAMI LITERASI, NUMERASI, DAN PENTINGNYA ASESMEN AWAL DALAM PEMBELAJARAN

Pendidikan di masa kini tidak hanya berfokus pada penguasaan materi pelajaran semata, tetapi juga pada pembentukan kemampuan dasar yang memungkinkan siswa beradaptasi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Dua kemampuan dasar yang sangat mendasar dan menjadi pilar utama dalam pembelajaran adalah literasi dan numerasi. Kedua kemampuan ini tidak hanya berlaku dalam mata pelajaran tertentu, melainkan menjadi kompetensi yang harus dikembangkan di seluruh mata pelajaran, dengan penerapan asesmen awal sebagai langkah strategis untuk merancang pembelajaran yang efektif.

Banyak orang mengartikan literasi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi jauh lebih luas dan mendalam. Literasi adalah kemampuan siswa untuk bernalar, mengenal, memahami, serta mengartikan berbagai bentuk simbol dan lambang yang ada di sekitarnya. Simbol-simbol ini tidak hanya berupa tulisan atau huruf, tetapi juga mencakup gambar, lambang visual, hingga angka-angka. Menginterpretasikan makna dari sebuah gambar atau memahami pesan yang tersirat dalam bentuk visual adalah bagian dari kemampuan literasi.

Selain itu, kemampuan memahami instruksi, memahami isi soal cerita, dan menafsirkan berbagai bentuk teks atau informasi juga merupakan bagian dari ruang lingkup literasi. Intinya, literasi bukan sekadar mampu membaca tulisan, melainkan kemampuan untuk menalar dan memaknai segala bentuk simbol dan lambang yang diterima. Kata kunci utama dari literasi adalah mengolah informasi — mulai dari membaca dan mengenali simbol, memahami maknanya, hingga mampu merespons atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut.

Jika literasi berfokus pada pengolahan informasi dalam berbagai bentuk simbol, numerasi berkaitan erat dengan kemampuan siswa dalam hal bilangan dan data. Numerasi adalah kemampuan untuk mengoperasikan bilangan, memahami, mengolah, dan menafsirkan data yang disajikan dalam berbagai bentuk. Ruang lingkup numerasi mencakup kemampuan membaca infografik, memahami jumlah data yang disajikan, melakukan perhitungan sederhana maupun kompleks, serta menarik kesimpulan berdasarkan data yang ada.

Sama seperti literasi, numerasi tidak hanya berlaku dalam mata pelajaran Matematika. Kemampuan ini dibutuhkan dalam berbagai mata pelajaran, misalnya saat membaca data statistik dalam Ilmu Pengetahuan Sosial, mengolah data hasil pengamatan dalam Ilmu Pengetahuan Alam, atau memahami data ukuran dalam Seni Budaya. Kata kunci dari numerasi adalah mengoperasikan bilangan dan data, yang menjadikan kemampuan ini alat penting untuk memahami dunia yang penuh dengan angka dan informasi kuantitatif.

Untuk memastikan pengembangan kemampuan literasi dan numerasi berjalan efektif, diperlukan langkah pengukuran yang tepat sejak awal, yaitu melalui asesmen awal. Asesmen awal literasi dan numerasi adalah kegiatan pengukuran kemampuan dasar siswa yang dilakukan pada awal pembahasan sebuah topik atau bab materi. Secara ideal, asesmen ini juga dapat dilaksanakan di awal semester untuk memetakan kemampuan siswa secara menyeluruh sebelum memulai rangkaian pembelajaran.

Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah asesmen awal ini wajib dilakukan di setiap mata pelajaran, bukan hanya pada mata pelajaran yang dianggap berkaitan erat dengan bahasa atau angka. Hal ini karena setiap mata pelajaran memiliki bentuk simbol, informasi, data, atau konsep yang harus dipahami siswa, sehingga kemampuan literasi dan numerasi menjadi dasar pemahaman di setiap bidang ilmu.

Namun, sebelum melaksanakan asesmen awal, ada dua hal yang harus ditentukan terlebih dahulu, yaitu tujuan pembelajaran dan prasyarat konten. Tujuan pembelajaran menjadi acuan aspek apa saja yang akan diukur, sedangkan prasyarat konten adalah pengetahuan atau kemampuan dasar yang seharusnya sudah dimiliki siswa sebelum mempelajari materi baru. Dengan menentukan kedua hal ini, asesmen awal akan menjadi alat yang akurat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa, sehingga guru dapat merancang strategi pembelajaran yang tepat, apakah perlu memberikan penguatan materi dasar atau langsung masuk ke materi inti.

Jadi, literasi dan numerasi adalah dua kompetensi dasar yang menjadi fondasi keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan menghadapi tantangan kehidupan nyata. Literasi mengajarkan siswa mengolah segala bentuk informasi dan simbol, sedangkan numerasi melatih kemampuan mengelola bilangan dan data. Melalui pelaksanaan asesmen awal yang terencana, dilakukan di setiap mata pelajaran, dan didasari oleh tujuan pembelajaran yang jelas, sekolah dan guru dapat memastikan setiap siswa mendapatkan dukungan yang tepat untuk mengembangkan kedua kemampuan ini secara maksimal. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menghasilkan siswa yang cakap, kritis, dan siap menghadapi masa depan.

 

Selasa, Mei 12

KONFERCAB PGRI KAUBUN KUATKAN SOLIDITAS DAN SOLIDARITAS MENUJU PGRI YANG BERKUALITAS

CEREMONILA KEGIATAN
KAUBUN- Acara Pembukaan Konferensi Cabang Masa Bakti Ke-XXIII PGRI Cabang Kaubun dilaksanakan di Aula SMP Negeri 1 Kaubun (Selasa, 12 Mei 2026) acara dimulai jam 9.00. Hadir dalam acara pembukaan ini adalah Ketua PGRI Kabuten Kutai Timur serta Sekertaris umum dan bendahara, Pimpinan Manajemen PT. GAM beserta tim, Korwil Kecamatan Kaubun, Pengawas, Kepala Sekolah dan delegasi 3 orang guru persekolah TK-SMA. Acara pembukaan ini dimeriahkan oleh marcin band dan tari dayak.

Dalam laporannya ketua panitia pelaksana, Matkaeni menyampaikan bahwa jumlah peserta yang diundang dalam kegiatan ini adalah 82 orang yang merupakan perwakilan dari tiap sekolah TK-SMA. Perihal anggran kegiatan tidak ada bantuan dari pihal lain.  

Peserta yang mengikuti konfercab berjumlah 82 orang yang merupakan representif dari perwakilan guru masing-masing sekolah. Cara ini diambil sesuai dengan aturan pemilihan ketua yang terkandung dalam AD/ART organisasi dan pertimbangan efisiensi dan efektivitas masing-masing sekolah, idealnya sekolah-sekolah saat ini masih sibuk mempersiapkan ujian semester genap. Dan Adapun biaya yang digelontorkan untuk kegiatan konfercab ini adalah murni dari kas PGRI, Ungkap Matkaeni  

Ketua PGRI Kabupaten Kutai Timur, Yetti Arika Desiviana selaku Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur, dalam sambutannya mengajak semua elemen yang berkecimpung dalam dunia pendidik untuk bersinergi dalam membangun dan memajukan organisasi PGRI.

PGRI adalah organisasi kita semua guru, kepala sekolah, pengawas, dan staf kariawan. Organisasi PGRI adalah organisasi intelek, bagaimana PGRI ini kita bangun, kita rencanakan, dan kita laksanakan menjani organisasi yang kuat dan mandiri,” ajak Yetti.

Ketua PGRI Kabupaten Kutai Timur juga memaparkan bahwa PGRI cabang Kaubun merupakan salah satu cabang PGRI yang banyak melaksanakan kegiatan, untuk itu perlu didukung, salah satunya dengan menertibkan pembayaran iuran wajib anggota. Disamping itu, beliau juga berharap kepengurusan yang terpilih nanti lebih giat lagi, kepengurasan harus melibatkan perempuan dan melibatkan guru dimasing-masing jenjang.

PGRI Kaubum sudah banyak menorehkan prestasi dan penghargaan. Mari kita sama-sama besarkan PGRI ini dengan tetap membayar iuran wajib anggota. Iuaran ini pertingkatan akan berbeda-beda begitu juga dengan kegiatannya khusus cabang lebih banyak berkegiatan. Masa kepengurusan 5 tahun setelahnya akan dipilih kembali, mari kita buat organisasi ini lebih maksimal lagi, kepengurusan yang baru harus lebih intens lagi. Persentase perempuan masuk dalam kepengurusan adalah 30%, semua elemen dirangkul khususnya guru dari TK, SD, SMP, dan SMA,” Sambung Yetti.

Muhammad Abdurahman selaku Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Kaubun dalam sambutannya menegaskan pentingnya memilih ketua dan pengurus yang berkompeten.

“Organisasi PGRI adalah organisasi guru yang merupakan kumpulan orang-orang terdidik maka dari itu penting sekali kita memilih ketua dan pengurus yang berkompeten sehingga organisasi ini berjalan dengan baik sesuai harapan kita bersama,” tegas Abdurahman.

Diakhir sambutannya korwil, pria yang disapa Abdurahman tersebut membuka kegiatan konfercab secara resmi.

Adapun laporan pertanggungjawaban pengurus demosioner disampaikan oleh Budi Handoko ketua PGRI periode 2018-2026. Dalam laporannya beliau memaparkan beberapa program kegiatan yang telah suksus dilaksanakan dan berdampak bagi sekolah, guru, dan peserta didik.

“Beberapa program kerja yang sudah kami laksanakan adalah peningkatan kapasitas atau kompetensi guru melalui worksop yang diikuti oleh guru disetiap jenjang, bantuan sosial, penggalangan dana kemanusiaan, aktif mengikuti lomba ditingkat kecamatan dan kabupaten, Advokasi hukum atau bantuan hukum untuk guru dan tenaga kependidikan, dalam bidang ekonimi iuran wajib anggota dan koperasi PGRI yang berkembang pesat, bidang sosial dan kerjasama selalu terbantukan baik dengan masayarakat, Perusahaan, maupun pemerintah desa dan kecamatan. Aktif juga dalam merayakan hari besar nasional misalnya hari pendidikan, hari guru, HUT RI, dan aktif dalam kegiatan lomba tingkat sekolah dan kabupaten,” tegas Handoko.

Laporan keuangan disampaikan secara global oleh bendahara umum, Puspitasari. Berdasarkan laporan keuangan yang yang dibagikan bahwa selama 2018 – 2026 mengelola uang sebesar Rp. 331.621.000,- dengan rincian pemasukan iuran anggota Rp. 220.346.000,- bantuan hibah Rp. 111.275.000,- Kemudian pengeluaran selama kepengurusan Rp. 317.929.402,- dengan rincian kegiatan organisasi Rp. 246.294.402, rapat dan operasional Rp. 51.477.000, kegiatan sosial Rp. 20.158.000,- hingga saldo akhir atau sisa kas per 12 Mei 2026 sebesar Rp. 13.691.598,-

Berakhirnya laporan kepengurusan ini manjadi akhir dari semua rangkaian kegiatan acara pembukaan atau ceremonial Konfercab PGRI Masa Bakti Ke-XXIII. Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

DINAMIKA RAPAT PLENO
Konferensi cabang dilaksanakan melalui sidang pleno dan rapat komisi, mulai dari  sidang pleno 1 sampai dengan sidang pleno 5, berikut penjelasan singkatnya.  

Sidang pleno 1 dipimpin oleh Selvi, membahas tentang laporan pemeriksaan mandat persekolah dan pembacaan tatatertib sidang. Berdasarkan laporan tersebut mandat diberikan kepada 24 sekolah yakni TK-SMA, masing-masing sekolah mendelegasikan tiga orang sebagai peserta konferensi.

Sidang pleno 2 dipinpin oleh Sudi Hartoyo yang mebahas tentang laporan program dan laporan keuangan yang disampaikan oleh ketua dan bendahara demosioner. Pada sesi ini dinamika muncul untuk menanyakan kelengkapan detail laporan keuangan. Semestinya laporan keuangan harus dibuat rinci peritem berdasarkan pemasukan dan pengeluaran mengingat kuangan meruapakan hal yang sensitif.

Sidang pleno 3 dipimpin oleh Ahmad Kusairi, membahasa tentang rapat komisi A, B, dan C. Komisi A (Organisasi dan Kaderisasi) Membahas tentang penguatan organisasi PGRI tingkat cabang, Fokus pada kaderisasi pengurus, Digitalisasi organisasi, dan Pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan PGRI. Komisi B (Program Kerja/Pendidikan) tentang Menyusun rencana kerja umum atau program prioritas untuk satu tahun ke depan, Membahas program peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran, Pengembangan ilmu pengetahuan dan pelatihan guru. Komisi C (Kesejahteraan dan Perlindungan Guru) Fokus pada upaya memperjuangkan kesejahteraan anggota (guru), Membahas perlindungan profesi guru, dan Perbaikan kebijakan tata kelola guru dan peningkatan kualitas Pendidikan. Beberapa usulan yang muncul dalam rapat komisi ini adalah :

  1. 1.    Menolak iuran wajib anggota sebesar Rp. 25.000,00,- perbulan
  2. 2.    Mendorong agar insentif guru dan tendik dinaikan kembali.
  3. 3.    Kaderisasi anggota atau seminar anggota tentang organisasi.
  4. 4.    Advokasi status P3K menjadi ASN.
  5. 5.    Pembuatan website PGRI sebagai pusat informasi dan komunisi.
  6. 6.    Menetapkan iuran wajib anggota sebesar Rp. 15.000,00,- perbulan

Sindang pleno 4 dipimpin ole Subianto, membahas tentang bakal calon dan penentuan calon ketua dan wakil ketua serta penyampaian visi dan misi. Sebelumnya usulan nama-nama calon ketua dan wakil ketua sudah dilakukan melalui ranting atau sekolah masing. Adapun calon ketua dan wakil ketua PGRI yang diusulkan;

Calon ketua;

No

Nama

NPA

Keterangan

1.

M. Abdurahman, S.Pd.,M.AP

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

2.

Sujarwo, S.Pd

 

Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

3.

Fitriyana, M.Pd

 

Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

4.

Sigit Aljihad, S.Pd

 

Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

5.

Aspita Sri W, M.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun


Calon Wakil Ketua;

No

Nama

NPA

Keterangan

1.

Jamiludin,M.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

2.

Sudi Hartoyo,S.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

3.

Subiyanto,S.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

4.

Siti Nur Aisyah,S.PdI. , M.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

5.

Candra Birawa,M.Pd

 

Pengurus dan Anggota Aktif PGRI Cabang Kaubun

Sidang pleno 5 dipimpin oleh Mursalam, sidang pleno 5 merupakan penguman dan pengesahan ketua dan wakil ketua PGRI terpilih. Adapun ketua Ketua dan wakil ketua PGRI terpilih beserta sekertaris dan bendahara melalui rapat formatur adalah sebagai berikut :

Ketua                       : Muhammad Abdurrahman

Wakil Ketua             : Jamiludin

Sekertaris                : Siti Nur Aisyah

Bendahara               : Aspita Sri Wahyuni

Semoga pengurus terpilih dapat menjalankan tugasnya dengan baik.































GTK SE-KECAMATAN KAUBUN PERKOH IMAN DEMI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MAJELIS ADZ-DZIKRA

KAUBUN – Rabu, 22 Juli 2026, Majelis Taklim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) se-Kecamatan Kaubun kembali digelar, sebagai sarana memperku...