Namun akhir-akhir ini sosok guru itu menjadi ironi dibeberapa sekolah yang kadang kala hadir di sekolah, mengisi daftar hadir, masuk di ruang guru, berkumpul dan bercanda ria, bercerita tanpa arah sampai lupa waktu mengajar. Yang terjadi kemudian ruang kelas kosong, murid menunggu lama sampai bosan bahkan sampai ketiduran akhirnya kesempatan belajar murid terganggu dan semangat belajarnya menurun. Kondisi ini merupakan potret realita yang acap kali terjadi. Sesekali kepala sekolah menegur dan memberikan peringatan tetapi tidak membuat guru langsung sadar. Jika fakta ini terus terjadi maka tujuan mulia pendidikan nasional untuk mencerdaskan anak bangsa hanya menjadi pepesan belaka.
Padahal menurut teori belajar Konstruktivisme bahwa belajar terjadi melalui interaksi langsung antara guru dan murid. Jadi tanpa adanya guru di kelas proses membangun pengetahun terhenti, proses belajar mengajar tidak terjadi sehingga murid kehilangan kesempatan untuk memahami materi, kehilangan peluang untuk bertanya jawab, kehilangan momentum untuk menyampaikan ide dan gagasan bahkan kehilangan makna pembelajaran itu sendiri. Disini jelas guru sangat penting sekali kehadirannya dalam membangun ilmu pengetahuan murid melalui interaksi positif.
Lalu, jika ditelusuri melalui teori Bevafiorisme maka teladan guru adalah penguat yang paling kuat bagi perilaku murid. Teori ini menegaskan pentingnya keteladan, guru harus menjadi teladan, selaras anatara ucapan perbuatan dan tindakan. Misalnya, guru tidak menghargai waktu belajar maka muridpun begitu mereka menganggap waktu itu tidak penting dan tidak menjadi prioritas. Jadi, semangat belajar murid menurun bukan karena malas tetapi karena guru tidak menjadi teladan yang baik bagi mereka. Pendidikan karakter yang ingin dibangun hanya di atas kertas. Dititik ini guru kehilangan marwah dan menyalahi Trilogi Pendidikan yang digagas oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Suntolodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” Artinya guru harus menjadi teladan, menyemangati, dan memberi dorongan.
Sementara itu, teori pendidikan Humanistik mengingatkan kita bahwa tugas guru tidak hanya mentransfer materi pelajaran atau ilmu pengetahuan melainkan menemani murid untuk tumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik menuju kematangan berpikir dan kedewasaan berperilaku. Jadi, Kehadiran guru di kelas tidak sekedar menyelesaikan materi pelajaran melainkan memanusiakan murid menjadi manusia seutuhnya yakni manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri. Jadi, teori ini mengisyaratkan perlunya nasehat yang baik, motivasi yang kuat, dan komunikasi yang efektif yang dilakukan guru kepada murid.
Melalui tulisan ini penulis mengajak semua guru agar kembali kefitrah guru sesungguhnya. Guru adalah role model, guru adalah contoh dan tauladan yang baik, guru adalah sosok yang mentukan generasi emas. Maka dari itu, mari kita satukan niat bulatkan tekat menjadi guru seutuhnya. Yakni guru yang profesional, disiplin, dan bertanggungjawab. Mengutamakan tugas pokok daripada tugas tambahan, mengutamakan kepentingan murid daripada kepentingan keluarga dan golongan, guru yang tidak memberi tugas tetapi mengutamakan interaksi, guru yang selalu mendampingi bukan menyiasati, guru teladan bukan tertekan, dan guru yang menginspirasi bukan materi.
Semoga!!!



