Jumat, Agustus 7

Tujuh Pokok Pikiran Gerakan Muhammadiyah: Landasan Langkah Menuju Kebaikan

SANGKULIRANG _ Sabtu, 8 Agustus 2026 dilaksanakan pengajian rutin warga Muhammadiyah di Pondok Pesantren At-Tanwir Jalan Projasam KM. 08 Benua Ilir Baru, Kecamatan Sangkulirang. Yang berkesempatan hadir dalam pengajian ini adalah PCM Kaubun, Warga Muhammadiyah, Simpatisan, dan Santriwan/santriwati. Adapun yang menjadi penceramah adalah Kiyai H. Hasim Abdullah. Kajian berlangsung selama satu jam, dimulai jam 9.00 wita sampai jam 10.00 wita. Diakhir kajian diadakan sesi tanya jawab. 

Diawal kajiannya kiyai Hasim menjelaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid pemurnian ajaran Islam berdiri tegak di atas tujuh pokok pikiran utama. Ketujuh hal ini bukan sekadar daftar prinsip, melainkan jiwa dan arah setiap langkah perjuangannya yang telah berjalan lebih dari satu abad. Berikut adalah penjelasan mendalam pak Yai Hasim mengenai setiap pokok pikiran tersebut:

1. Meng-Esakan Allah (Tauhid)

Tauhid adalah fondasi paling dasar dari seluruh ajaran Islam, sekaligus pijakan pertama Muhammadiyah. Prinsip ini mengajarkan bahwa hanya Allah SWT yang Tuhan semesta alam, satu-satunya yang berhak disembah, dimintai pertolongan, dan menjadi tujuan segala harapan. Bagi Muhammadiyah, pemahaman tauhid yang benar akan melahirkan akhlak yang lurus, pikiran yang jernih, serta keberanian untuk menegakkan kebenaran tanpa takut pada siapa pun selain Allah. Tanpa tauhid yang kokoh, seluruh amal perbuatan dan perjuangan akan kehilangan arah dan hakikatnya.

2. Hidup Bermasyarakat

Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya hidup menyendiri atau memisahkan diri dari lingkungan. Sebaliknya, Islam adalah agama yang penuh kasih sayang untuk seluruh alam semesta. Oleh karena itu, pokok pikiran ini mengajak setiap warga Muhammadiyah untuk hidup hadir di tengah masyarakat, merasakan apa yang dirasakan masyarakat, dan berjuang bersama-sama memecahkan masalah yang ada. Baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi, Muhammadiyah hadir bukan untuk memisahkan diri, melainkan untuk menjadi bagian dari solusi kemajuan bersama.

3. Menerapkan Hukum Allah

Menerapkan hukum Allah bukan berarti sekadar menuntut peraturan negara, melainkan memulainya dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan seluas-luasnya. Hukum Allah mencakup seluruh aturan baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Muhammadiyah meyakini bahwa kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan yang hakiki hanya akan terwujud jika kehidupan berjalan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Pencipta alam semesta.

4. Menegakkan Agama Islam

Tujuan utama berdirinya Muhammadiyah adalah menegakkan agama Islam sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Penegakan agama ini dilakukan dengan cara mendakwahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, membersihkan ajaran Islam dari segala kotoran, takhayul, bid’ah, dan khurafat yang menyimpang. Penegakan agama bukan dengan kekerasan atau paksaan, melainkan dengan nasihat yang baik, perbuatan yang nyata, dan ilmu yang bermanfaat.

5. Mengikuti Jejak Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia. Mengikuti jejak beliau berarti meneladani seluruh sifat, perilaku, serta cara beliau berdakwah dan membangun peradaban. Mulai dari kejujuran, amanah, sampaikan, tabligh, hingga semangat belajar dan bekerja keras. Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sumber ajaran, sehingga setiap langkah gerakannya selalu merujuk pada apa yang diajarkan dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW.

6. Berorganisasi Muhammadiyah

Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia, diperlukan wadah yang rapi, teratur, dan bersatu. Muhammadiyah mengajarkan bahwa persatuan dalam organisasi adalah kekuatan yang besar. Melalui organisasi, kekuatan yang terpecah-pecah dapat disatukan, kemampuan yang terbatas dapat saling melengkapi, dan cita-cita yang besar dapat dicapai secara bersama-sama. Kehidupan berorganisasi juga melatih kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan semangat bekerja sama demi tujuan yang lebih tinggi dari kepentingan pribadi atau golongan.

7. Berideologi Muhammadiyah

Berideologi Muhammadiyah berarti meyakini dan menjadikan prinsip-prinsip Muhammadiyah sebagai panduan hidup dan cara berpikir. Ideologi ini berakar pada Islam yang murni, berpikiran maju, moderat, dan selalu berusaha memperbarui pemahaman ajaran agama sesuai dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Hal ini menjadikan Muhammadiyah tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman yang berubah-ubah, namun tetap relevan dan selalu hadir menjawab tantangan masa dengan ajaran Islam yang benar dan damai. 

Ketujuh pokok pikiran ini saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Sebagai satu kesatuan, ia menjadi kompas yang menuntun gerakan Muhammadiyah untuk terus berkhidmat bagi agama, nusa, dan bangsa, serta memberikan manfaat seluas-luasnya bagi seluruh umat manusia.














Kamis, Juli 23

GTK SE-KECAMATAN KAUBUN PERKOH IMAN DEMI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MAJELIS ADZ-DZIKRA

KAUBUN Rabu, 22 Juli 2026, Majelis Taklim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) se-Kecamatan Kaubun kembali digelar, sebagai sarana memperkuat iman dan takwa yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kualitas pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik. Kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap tiga bulan sekali ini dilaksanakan di SDN 003 Kaubun SP 1 Desa Bumi Etam. Majelis taklim ini dilaksanakan dibawah bendera PGRI Kecamatan Kaubun. Acara dimulai jam 9.00 wita sampai jam 11.30 wita.

Dalam laporannya, Ayatman menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya kegiatan. “Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru, staf serta karyawan dari jenjang TK, SD, SMP, MTs hingga SMA se-Kecamatan Kaubun. Kehadiran Bapak Korwil Bidang Pendidikan, Pengawas Sekolah, Bapak Camat Kaubun, Bapak Pastur, serta Kepala Desa Bumi Etam menjadi kehormatan besar bagi kita semua,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Nurhadi selaku penceramah, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kaubun dan menjabat pula sebagai Dai Pembangunan.

Sambutan Korwil dan Camat Kaubun

Dalam sambutannya, Korwil Bidang Pendidikan sekaligus Ketua PGRI Kecamatan Kaubun menyoroti sejumlah hal penting terkait manajemen dan kesejahteraan GTK. Antara lain kewajiban melapor lebih awal bagi guru yang akan memasuki masa pensiun, aturan mengenai jumlah anak PNS yang menjadi tanggungan negara, serta peluang beasiswa dari  pemerintah bagi GTK yang ingin melanjutkan pendidikan.

Tak hanya itu, wilayah Kecamatan Kaubun juga patut berbangga atas berbagai prestasi yang diraih. Beberapa sekolah telah menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata dari Bupati Kutai Timur, salah satunya SMP Negeri 4 Kaubun. Di samping itu, para guru juga mengharumkan nama daerah dengan meraih juara pada ajar Piala Ball dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Kutai Timur.

Sementara itu, Camat Kaubun, Saprani, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan capaian yang telah diraih segenap elemen pendidikan. “Saya sangat bangga dan berterima kasih, karena Bapak Ibu Guru tak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga rutin menggelar majelis taklim untuk menebarkan kebaikan dan nilai agama di tengah masyarakat,” ungkap Saprani. Beliau pun mengajak seluruh GTK untuk bersinergi mewujudkan Kecamatan Kaubun yang agamis.

Peringatan Penting dari Ustaz Nurhadi

Ustaz Nurhadi dalam ceramahnya memuji dedikasi tinggi para guru dalam dunia pendidikan, namun sekaligus mengingatkan untuk menjauhi paham sinkretisme yang bertentangan dengan prinsip ukhuwah Islamiyah. Beliau juga mengingatkan dalam memilih pemimpin, utamakan yang memiliki etika dan keluhuran budi pekerti, bukan sekadar melihat popularitas semata.

Lebih lanjut, Ustaz Nurhadi menguraikan enam perkara yang dapat menghapus pahala kebaikan, khususnya menjadi perhatian bagi seorang pendidik:

  1. Mencari kesalahan orang lain karena rasa iri dan dengki. Guru harus memegang prinsip: perbaiki yang keliru, dukung yang benar.
  2. Kurang rasa malu saat berbuat keliru, seperti lalai dalam tugas, serta terlibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
  3. Keras hati dan sulit menerima nasihat. Guru wajib bersabar, rendah hati, menjadi teladan, serta mendoakan murid agar hatinya lembut.
  4. Angan-angan tinggi namun enggan berusaha. Cita-cita mulia harus dibarengi dengan kerja keras nyata.
  5. Terus-menerus berbuat kezaliman dan maksiat, seperti mabuk-mabukan, berjudi, mencuri, dan menipu.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar seluruh amanat yang disampaikan dapat menjadi pedoman, sehingga GTK se-Kecamatan Kaubun senantiasa menjadi pendidik yang beriman, bertakwa, dan mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia.
















 

Jumat, Juni 26

Membangun Insan Berkarakter; Meneladani Nilai Hidup Kiai Ahmad Dahlan

Tulisan ini merupakan hasil Kajian Dhuha di Pondok Pesantren At-Tanwir Jalan Projasam KM. 08 Benua Baru Ilir, Kecamatan Sangkulirang bersama Drs. HM. Jafron, M. Si. Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Kalimantan Timur. Kajian dimulai jam 9.00 wita, dihadiri oleh lebih kurang 30 orang warga muhammadiyah, hadir pula PCM Kaubun dan PCM Sangkukirang. Berikut detail penjelasan kajiannya. 

Pendidikan sejati tidak hanya bertujuan mencetak orang yang cerdas secara pikiran, tetapi juga manusia yang berbudi luhur, beriman, dan bermanfaat bagi sesama. Nilai-nilai luhur yang menjadi landasan kehidupan ini sangat sejalan dengan gagasan dan perjuangan Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang senantiasa mengajak umat untuk menyelaraskan kebutuhan dunia dan persiapan menuju akhirat. Berikut adalah uraian mendalam mengenai sepuluh prinsip penting dalam membangun diri dan lingkungan yang berlandaskan iman serta ilmu:

1. Memperkuat Akidah sebagai Pondasi Utama

Akidah yang lurus adalah fondasi seluruh kehidupan seseorang. Tanpa keyakinan yang kokoh kepada Tuhan, segala perbuatan baik yang dilakukan bisa mudah goyah saat menghadapi ujian atau godaan. Memperkuat akidah berarti senantiasa meyakini bahwa setiap langkah, perkataan, maupun niat selalu diawasi oleh Allah SWT. Hal ini menjadikan seseorang tidak hanya berbuat baik karena dilihat manusia, melainkan karena kesadaran penuh akan kewajiban sebagai hamba yang beriman. Ketika akidah kuat, keteguhan hati dan kebenaran sikap akan selalu terjaga.

2. Bersedekah dengan Harta sebagai Perwujudan Kasih Sayang

Harta yang dimiliki sejatinya hanyalah titipan dari Sang Pencipta. Menggunakannya untuk bersedekah bukan berarti mengurangi kekayaan, melainkan membersihkannya dari sifat kikir dan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama. Bersedekah mengajarkan kita untuk tidak terikat berlebihan pada kemewahan dunia, sekaligus menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan meringankan beban orang lain. Semakin kita berbagi, semakin hati kita terlatih untuk tidak serakah dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kebermanfaatan bagi orang lain.

3. Dunia adalah Ladang untuk Menggapai Akhirat

Kehidupan di dunia ini ibarat tanah yang subur dan waktu yang kita miliki adalah musim tanam. Segala aktivitas yang kita lakukan—mulai dari belajar, bekerja, berkeluarga, hingga berinteraksi—adalah benih yang kita tabur. Hasilnya baru akan kita petik kelak di kehidupan yang kekal abadi. Pandangan ini mengubah cara kita menjalani hidup: segala hal yang dikerjakan di dunia tidak lagi sekadar untuk mencari kesenangan sesaat, melainkan diarahkan sebagai amal jariyah yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

4. Menerapkan Satu Ayat Lebih Baik daripada Menghafal Satu Juz

Menguasai ilmu agama tidak dinilai dari seberapa banyak teks yang diingat, melainkan seberapa dalam pemahaman dan seberapa nyata penerapannya dalam kehidupan. Menghafal ayat Al-Quran atau ajaran agama adalah hal yang mulia, namun akan menjadi kurang bermakna jika tidak dihayati dan diamalkan. Lebih baik kita memahami satu ayat tentang kejujuran lalu melaksanakannya dalam setiap perbuatan, daripada menghafal banyak hal namun tingkah laku belum berubah menjadi lebih baik. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

5. Memadukan Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama

Pendidikan yang utuh adalah pendidikan yang mengantarkan manusia menguasai rahasia alam semesta sekaligus mengenal Penciptanya. Ilmu umum membuka wawasan kita tentang hukum alam, teknologi, dan cara mengelola kehidupan, sedangkan ilmu agama memberikan arah, batasan, dan tujuan agar ilmu tersebut digunakan dengan benar. Keduanya tidak boleh dipisahkan, karena ilmu umum tanpa nilai agama bisa menimbulkan kerusakan, sedangkan ilmu agama tanpa wawasan dunia akan sulit menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

6. Ilmu Tanpa Iman Itu Lumpuh, Iman Tanpa Ilmu Itu Buta

Ada keterkaitan erat antara iman dan ilmu. Seseorang yang memiliki banyak ilmu namun tidak didasari keimanan yang kuat ibarat kendaraan canggih tanpa pengemudi yang benar—ia bisa melaju namun tidak tahu arah dan berpotensi menabrak apa saja. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keimanan tinggi namun tidak dibekali ilmu pengetahuan ibarat orang yang berjalan dengan hati-hati namun tidak bisa melihat jalan yang dilalui, sehingga mudah tersesat atau ragu mengambil langkah. Keduanya harus berjalan beriringan agar menjadi kekuatan yang utuh.

7. Wajib Pintar Agama dan Pintar Dunia

Umat yang unggul adalah umat yang tidak hanya saleh secara rohani, tetapi juga tangguh secara kemampuan. Kita dituntut untuk memahami ajaran agama dengan baik agar ibadah benar, sekaligus menguasai berbagai keterampilan dan pengetahuan kekinian agar mampu berkarya, mandiri, dan menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Menjadi orang yang alim namun tidak memiliki keahlian, atau menjadi orang yang pandai namun melanggar aturan Tuhan, keduanya belumlah lengkap. Keseimbangan inilah yang akan melahirkan generasi yang kuat dan dihormati.

8. Membekali Diri Ilmu Agama Sebagai Perisai Diri

Kehidupan selalu dikelilingi berbagai godaan, tantangan, dan hal-hal yang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Tanpa bekal ilmu agama yang cukup, hati kita mudah tergoda oleh hal-hal yang tampak indah namun sesungguhnya merusak. Ilmu agama berfungsi sebagai cahaya penerang yang membedakan mana jalan yang benar dan mana yang salah, serta menjadi perisai yang melindungi diri dari perbuatan tercela. Semakin dalam kita mempelajari agama, semakin kuat pula benteng pertahanan diri kita.

9. Orang Tua Sebagai Teladan dan Pemimpin Pertama

Lingkungan pertama tempat anak tumbuh adalah keluarga, dan orang tualah pemimpin utamanya. Nilai-nilai baik yang kita bahas di atas akan sulit tertanam jika tidak dimulai dari keteladanan orang tua. Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihatnya dilakukan oleh ayah dan ibunya, daripada apa yang hanya didengarnya lewat perkataan. Menjadi pemimpin dalam keluarga berarti berani memperbaiki diri terlebih dahulu, menjadi contoh kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, sebelum mengajarkannya kepada anak-anak.

10. Menjadikan Kiai Ahmad Dahlan Sebagai Teladan Hidup

Seluruh prinsip di atas adalah cerminan dari semangat perjuangan Kiai Ahmad Dahlan. Beliau adalah sosok yang gigih mengajak umat kembali pada kemurnian ajaran agama, sekaligus berjuang keras memajukan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Beliau mengajarkan bahwa kemunduran umat terjadi karena menjauh dari ajaran agama dan tertinggal dalam ilmu pengetahuan. Menjadikan beliau teladan berarti meneladani semangat pantang menyerah, keberanian memperbaiki diri, serta kesetiaan mengabdi untuk kemaslahatan agama, bangsa, dan negara

Nilai-nilai ini bukan sekadar teori untuk dibaca, melainkan pedoman hidup yang jika dijalankan secara konsisten akan melahirkan pribadi, keluarga, dan masyarakat yang lebih baik, beradab, serta selalu siap mengarungi tantangan dunia demi meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
















Tujuh Pokok Pikiran Gerakan Muhammadiyah: Landasan Langkah Menuju Kebaikan

SANGKULIRANG _ Sabtu, 8 Agustus 2026 dilaksanakan pengajian rutin warga Muhammadiyah di Pondok Pesantren At-Tanwir Jalan Projasam KM. 08 Be...