SEKOLAH UNGGULAN
Kemudian Armin juga mengharapkan semua sekolah SMA/SMK harus berlomba-lomba menjadi sekolah unggul jika tidak mampu menjadi sekolah unggulan. Sekolah unggul ini paling tidak sesuai dengan potensi lokal masing-masing, pengetahuan dan keterampilan apa yang dapat diandalkan dari lulusan sekolah tersebut, ada keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di daerah lain.
Menjadi sekolah unggulan memang sulit karena banyak hal yang harus dipenuhi. Ukuran sekolah unggulan adalah bukan seberapa pintar gurunya, semegah apa gedungnya, dan seberapa gagah kepala sekolahnya tetapi berapa banyak lulusan yang masuk Perguruan Tinggi Negeri ternama dan kampus-kampus luar negeri. sekadar informasi, sekolah unggulan di Indonesia ada 12 sekolah tiga diantaranya ada di Kalimantan Timur yakni SMA 10 Samarinda, SMA 3 tenggarong, dan SMA 2 Sangatta. Sekolah-sekolah ini sudah ditunjuk langsung oleh Presiden Probowo Subianto, sekolah unggulan ini juga akan ditransformasi menjadi sekolah Garuda dan menjadi binaan Kementrian Pendidikan.
Sekolah unggulan identik dengan mutu lulusan, di Indonesia sekolah unggulan lebih sedikit dari negara lain misalnya dengan Singapura. Perbedaan mutu Indonesia dengan Singapura adalah 20 dan 80 persen, anak indoensia hanya mampu membaca teks tetapi tidak mampu membaca konteks sedangkan Singapura sudah mampu membaca teks dan konteks. Tingkat literasi Singapura lebih tinggi dari literasi Indonesia sehingga di Singapura rata-rata sekolah unggulan.
Sekolah harus berkerjasama dengan orang tua, bagaimana sekolah bisa merubah mindset atau cara berpikir orang tua bahwa pendidikan itu penting sehingga tidak ada lagi orang tua yang melarang anaknya untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Pemerintah Kaltim sudah menyiapkan pendidikan gratis sehingga anak dapat bersekolah sampai perguruan tinggi. Kemudian ada anak yang ingin kuliah tapi kendala biaya. Kaitannya dengan ha ini memang ada program pendidikan gratis, pemerintah yang kita sebut “gratispoll” tetapi tidak menyentuh akar masalahnya. Masalahnya adalah anak-anak tersebut tidak mampu mengakses pendidikan gratis tersebut, harusnya pemerintah 'jemput bola' dengan mendata siswa disetiap sekolah yang ingin kuliah dan memastikan mereka sudah duduk di bangku Perguruan tinggi.
Untuk mewujudkan sekolah unggulan tentu salah satu yang menjadi prioritas adalah kualifikasi guru, pendidikan guru minimal S2 atau Master Pendidikan. Untuk itu Guru, dosen, pengawas, dan widiaswara dalam menempuh pendidikan S2 gratis tidak dibatasi oleh umur selagi dia sehat dan mampu memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan melalui program gratispool.
Armin menyadari betul bahwa masalah sekolah unggulan saat ini meliputi potensi kesenjangan kualitas pendidikan, ketidakadilan akses, dan pelabelan negatif bagi siswa dari sekolah lain. Sekolah unggulan dengan fasilitas canggih dan guru berkualitas dapat memperburuk ketidaksetaraan, sementara sekolah lain yang tidak memiliki sumber daya serupa mungkin tertinggal lebih jauh. Selain itu, sekolah unggulan dapat memicu masalah sosio-psikologis seperti kecemburuan dan stigma.
Sekolah unggulan sering kali memiliki fasilitas, sumber daya, dan guru berkualitas lebih tinggi, yang menciptakan jurang perbedaan dengan sekolah lain yang mungkin hanya memiliki sumber daya dasar.
Proses seleksi masuk yang ketat tidak menjamin akses yang adil bagi semua siswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu yang mungkin tidak memiliki akses informasi yang baik atau sumber daya untuk mengikuti seleksi. Kondisi tidak adil ini memberi preseden buruk bagi dia pendidiakan.
Adanya label "unggulan" dan "non-unggulan" dapat menciptakan stigma negatif yang mempengaruhi kepercayaan diri siswa dan memperkuat stereotip sosial, stigmatisasi semacam ini menimbulkan perpecahan.
Perbedaan kualitas dan fasilitas dapat menimbulkan kecemburuan antar siswa, orang tua, dan bahkan guru di sekolah yang berbeda hal ini menjadi masalah sosio spiskoligis. Terkadang, anggaran untuk sekolah unggulan bisa menjadi tidak efisien jika tidak disesuaikan dengan kebutuhan riil pendidikan dasar dan menengah secara keseluruhan.
Dengan adanya masalah tersebut dinas pendidikan memprioritaskan pemenuhan hak atas pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas secara merata di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Kemudian menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah non-unggulan dan memastikan mereka memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Lalu Menerapkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan tidak diskriminatif agar setiap siswa mendapatkan kesempatan dan layanan pendidikan yang setara, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi mereka.
SEKOLAH BILINGUL
Sekolah bilingual adalah sekolah yang menerapkan dua bahasa dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah. Program ini harus disesuaikan dengan kesiapan tenaga pengajar di sekolah misalnya guru bahasa Inggris atau bahasa lain yang sekira bisa dikembangkan. misalnya, Guru bahasa Inggris bertanggungjawab penuh terhadap bilingual ini karena dia harus menjadi role model dalam berkomunikasi, mengajarkan, memperbaiki ucapan, dan menyusun program, dll. Semua warga sekolah harus belajar menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi khususnya guru dalam membuka dan menutup kegiatan pembelajaran bahkan dalam mengajarkan materi pelajaran. oleh karena itu, semua guru mengajarkan mata pelajaran yang diampuhnya dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa ibu (bahasa Indonesia) dan bahasa asing (bahasa Inggris).
Siswa diajarkan berbagai mata pelajaran menggunakan kedua bahasa tersebut, bukan hanya mengajarkan bahasa asing sebagai mata pelajaran terpisah. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya mahir dalam bahasa tersebut tetapi juga mampu berpikir, berkomunikasi, dan menguasai materi pelajaran secara menyeluruh dalam kedua bahasa.
Program sekolah Billingual ini menarik memang tetapi sepertinya sulit untuk dilakukan apalagi menjadi tanggung jawab guru bahasa Inggris karena jumlahnya terbatas, guru yang bersangkutan memiliki beban kerja yang tinggi, jam mengajarnya banyak hampir tidak ada perkerjaan lain yang bisa dilakukan kecuali mengajar. Kemudian komitmen yang kurang terbangun dari seluruh warga sekolah untuk menggunakan bahasa Inggris dalam beraktivitas di sekolah.
Adapun manfaat dari sekolah bilingual ini diantaranya Siswa bilingual cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, seperti kemampuan memecahkan masalah dan mengerjakan berbagai tugas sekaligus. Siswa dapat menguasai kedua bahasa secara seimbang dan lebih terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ini juga mendorong keberagaman dan pemahaman budaya dengan memperkenalkan siswa pada cara berpikir yang berbeda.


