Banyak orang mengartikan literasi hanya
sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi jauh lebih luas
dan mendalam. Literasi adalah kemampuan siswa untuk bernalar, mengenal,
memahami, serta mengartikan berbagai bentuk simbol dan lambang yang ada di
sekitarnya. Simbol-simbol ini tidak hanya berupa tulisan atau huruf, tetapi
juga mencakup gambar, lambang visual, hingga angka-angka. Menginterpretasikan
makna dari sebuah gambar atau memahami pesan yang tersirat dalam bentuk visual
adalah bagian dari kemampuan literasi.
Selain itu, kemampuan memahami instruksi, memahami isi soal cerita, dan menafsirkan berbagai bentuk teks atau informasi juga merupakan bagian dari ruang lingkup literasi. Intinya, literasi bukan sekadar mampu membaca tulisan, melainkan kemampuan untuk menalar dan memaknai segala bentuk simbol dan lambang yang diterima. Kata kunci utama dari literasi adalah mengolah informasi — mulai dari membaca dan mengenali simbol, memahami maknanya, hingga mampu merespons atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut.
Jika literasi berfokus pada pengolahan
informasi dalam berbagai bentuk simbol, numerasi berkaitan erat dengan
kemampuan siswa dalam hal bilangan dan data. Numerasi adalah kemampuan untuk
mengoperasikan bilangan, memahami, mengolah, dan menafsirkan data yang
disajikan dalam berbagai bentuk. Ruang lingkup numerasi mencakup kemampuan
membaca infografik, memahami jumlah data yang disajikan, melakukan perhitungan
sederhana maupun kompleks, serta menarik kesimpulan berdasarkan data yang ada.
Sama seperti literasi, numerasi tidak hanya berlaku dalam mata pelajaran Matematika. Kemampuan ini dibutuhkan dalam berbagai mata pelajaran, misalnya saat membaca data statistik dalam Ilmu Pengetahuan Sosial, mengolah data hasil pengamatan dalam Ilmu Pengetahuan Alam, atau memahami data ukuran dalam Seni Budaya. Kata kunci dari numerasi adalah mengoperasikan bilangan dan data, yang menjadikan kemampuan ini alat penting untuk memahami dunia yang penuh dengan angka dan informasi kuantitatif.
Untuk memastikan pengembangan kemampuan
literasi dan numerasi berjalan efektif, diperlukan langkah pengukuran yang
tepat sejak awal, yaitu melalui asesmen awal. Asesmen awal literasi dan
numerasi adalah kegiatan pengukuran kemampuan dasar siswa yang dilakukan pada
awal pembahasan sebuah topik atau bab materi. Secara ideal, asesmen ini juga
dapat dilaksanakan di awal semester untuk memetakan kemampuan siswa secara
menyeluruh sebelum memulai rangkaian pembelajaran.
Hal yang paling penting untuk
diperhatikan adalah asesmen awal ini wajib dilakukan di setiap mata pelajaran,
bukan hanya pada mata pelajaran yang dianggap berkaitan erat dengan bahasa atau
angka. Hal ini karena setiap mata pelajaran memiliki bentuk simbol, informasi,
data, atau konsep yang harus dipahami siswa, sehingga kemampuan literasi dan
numerasi menjadi dasar pemahaman di setiap bidang ilmu.
Namun, sebelum melaksanakan asesmen awal, ada dua hal yang harus ditentukan terlebih dahulu, yaitu tujuan pembelajaran dan prasyarat konten. Tujuan pembelajaran menjadi acuan aspek apa saja yang akan diukur, sedangkan prasyarat konten adalah pengetahuan atau kemampuan dasar yang seharusnya sudah dimiliki siswa sebelum mempelajari materi baru. Dengan menentukan kedua hal ini, asesmen awal akan menjadi alat yang akurat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa, sehingga guru dapat merancang strategi pembelajaran yang tepat, apakah perlu memberikan penguatan materi dasar atau langsung masuk ke materi inti.
Jadi, literasi dan numerasi
adalah dua kompetensi dasar yang menjadi fondasi keberhasilan siswa dalam
mengikuti pembelajaran dan menghadapi tantangan kehidupan nyata. Literasi
mengajarkan siswa mengolah segala bentuk informasi dan simbol, sedangkan
numerasi melatih kemampuan mengelola bilangan dan data. Melalui pelaksanaan
asesmen awal yang terencana, dilakukan di setiap mata pelajaran, dan didasari
oleh tujuan pembelajaran yang jelas, sekolah dan guru dapat memastikan setiap
siswa mendapatkan dukungan yang tepat untuk mengembangkan kedua kemampuan ini
secara maksimal. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan pembelajaran yang
bermakna dan menghasilkan siswa yang cakap, kritis, dan siap menghadapi masa
depan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar