Selasa, Januari 27

MUSCAB MUHAMMADIAYAH KEC. KAUBUN “MENGHIDUPKAN GERAKAN DAN MEMPERKOKOH UKHUWA ISLAMIAYAH”


KAUBUN-BumiRapak: Muhammadiyah Cabang Kaubun menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) Muhammadiyah ke-1 di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Bumi Rapak, pada hari Ahad (25/1/2025) jam 9.00 wita. Agenda utama dalam Muscab ini adalah pemilihan pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM)  Kecamatan Kaubun periode 2026 - 2030. Muscab ini dirangkai dengan Bakti Sosial (Baksos) oleh Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sadaqah Muhammadiyah) Kabupaten Kutai Timur. Pada kesempatan ini Lazismu menyalurkan 60 paket sembako untuk 60 mustahik dari Desa Bumi Rapak dan Desa Bumi Jaya.

Adapun Tema yang diusung adalah "Menghidupkan Gerakan dan Memperkokoh Ukhuwa Islamiah". Muscab ini dihadiri oleh PDM, Pimpinan Aisiah, dan Ketua Lazismu Kabupaten Kutai Timur. Muscab dibuka dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Mars Kabupaten Kutai Timur, dan Mars Muhammadiyah. Kemudian dilanjutkan dengan laporan ketua panitia pelaksana (Ahmad Sofikun) lalu sambutan ketua lazismu (H. Subhan) Setelah itu, sambutan sekaligus tausiah singkat yang disampaikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kutai Timur (K.H Suyuti). Muscab dibuka secara resmi oleh PDM.

Dalam sambutannya, Ahmad Sofikun menyampaikan ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada semua peserta dan tamu undangan yang hadir.

"Mewakili warga muhammadiyah kecamatan kaubun dan sekaligus segenap panitia pelaksana menyampaikan ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada Pimpinan Muhammadiyah beserta anggota, pimpinan Aisiah, ketua Lazismu beserta Rombongan. Ucapan terimakasih pula kepada pemerintah desa Bumi Rapak, Kecamatan, KAU, dan Ketua MUI kecamatan Kaubun, segenap panitia dan undangan serta peserta Muscab, karena atas keterlibatan kita semua Muscab ini terlaksana” Ucap ketua panitia.

Ketua panitia juga menyampaikan bahwa Muscab ini terlaksana atas dukungan dan suport dana dari Pimpinan Daerah Muhammadiayah (PDM) sebesar lima juta rupiah. Uang tersebut digunakan untuk sewa gedung, pembelian nasi kotak dan air mineral.  Adapun jumlah undangan dalam Muscab ini sebanyak 98 orang  dengan rincian 15 orang peserta Muscab, 10 orang simpatisan, 13 orang jajaran PDM dan Aisiah serta 60 orang  mustahiq atau penerima Baksos.

Sekadar informasi bahwa Baksos ini dipusatkan di Desa Bumi Rapak (SP2) dengan jumlah penerima terbanyak yakni 50 orang dan ditambah 10 orang dari desa Bumi Jaya (SP3). Hal ini dilakukan karena desa Bumi Rapak adalah “Tuan Rumah” dan di desa Bumi Rapak pulalah gerakan Muhammadiyah dulu digagas, tumbuh, dan bergerak. Sekira 24 tahun silam yakni tahun 2001. Namun seiring dengan berjalannya waktu gerakan itu mulai memudar lalu berangsur menghilang dipermukaan. Atas dasar rekam jejak sejarah inilah Ahmad Sofikun menyampaikan harapannya agar momentum Muscab ini menjadi kesempatan yang baik untuk menghidupkan kembali muhammadiya yang sudah lama vakum, tentunya dengan membangun komunikasi dan koordinasi yang intens, giat menghidupkan ukhuwa islamiah maka harapan itu terwujud. Disamping harapan itu, ketua panitia juga berharap agar Bakti Sosial (Baksos) dari Lazismu bisa dikembangkan terus-menerus disalurkan disetiap desa yang ada dikecamatan Kaubun.

Sebelum meyalurkan baksos Ketua Lazismu (H. Subhan) mengatakan bahwa sudah 2 kali beliau datang di Kaubun dalam rangka penyalurkan bantuan. Yang Pertama di desa Mata Air dan yang kedua di desa Bumi Rapak ini.  Lazismu juga sudah 9 kecamatan di Kabupaten Kutai Timur melakukan bakti sosial. Sekadar informasi bahwa Lazismu adalah anak dari muhammadayiah yang meyalurkan bantuan sembako dan bantuan lain. Tidak hanya itu batuan berupa khitan massal, beasiswa Sang Surya, bantuan modal usaha, bantuan kesehatan, dll. juga menjadil amal usaha Lazismu. 

Diawal sambutannya Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kutai Timur, K.H Sayuti membeberkan secara singkat sejarah Muhammadiayah. Beliau mengatakan organisasi Muhammadiyah adalah organisasi tertua di Indonesia, jauh sebelum Nahdaul Ulama (NU) berdiri. Muhammadiyah berdiri untuk memberikan semangat kepada rakyat agar berpikiran maju dan bebas dari kebodohan dan kemiskinan. K.H Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah menyakini bahwa Kebangkitan sebuah bangsa harus dibarengi dengan pendidikan sehingga gerakan yang pertama kali dilakukan oleh muhammadiayah adalah mendirikan sekolah-sekolah.

Berdasarkan fakta yang dihimpun hingga sampai saat ini tecatat Sekolah & Madrasah (SD-SMA/SMK): Terdiri dari sekitar 2.453 SD/MI, 1.599 SMP/MTs, dan 1.294 SMA/MA/SMK. Perguruan Tinggi: Terdapat sekitar 162-172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah–'Aisyiyah (PTMA) yang terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi Pesantren: Muhammadiyah memiliki 444 pesantren yang dimiliki secara resmi. Jumlah Tenaga Pendidik: Lebih dari 75.000 guru mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar diseluruh Indonesia.

Sambung PDM, Gerakan muhammadiyah tidak hanya satu bidang melainkan berbagai bidang kehidupan misalnya bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dll. Gerakan muhammadiayah adalah gerakan dakwah melalui bidang-bidang tersebut. Mengajak manusiah menjadi umat yang soleh. Siapa yang beriman dan beramal saleh maka Allah berikan kehidupan yang baik.

"Jika bapak dan ibu ingin menjadi orang yang soleh ayo bergabung dengan muhammadiayah" Tegas K.H Sayuti.

Menjadi orang yang soleh memang sangat berat. Tantangan menjadi orang yang soleh adalah Merasa cukup, bangga menjadi orang yang bodoh, Pelit dengan kelebihan tidak mau berbagi atau sedekah,  riaya atau tidak iklas, dan selalu berbuat maksiat. Oleh karena itu, agar terhindar dari keempat hal ini maka muhammadiyah mendorong umatnya untuk terus belajar, menjadi generasi pembelajar. Diakahir tausiahnya PDM menekankan pentingnya kepemimpinan dalam muhammadiyah yaitu kepemimpinan yang kolektif kolegial, merwat kebersamaan, berinovasi, dan konsisten.

Idealnya, musyawarah Cabang (Musycab) Muhammadiyah adalah forum tertinggi tingkat kecamatan (PCM) yang diselenggarakan setiap empat atau lima tahun sekali untuk mengevaluasi program kerja, merumuskan arah kebijakan organisasi, dan meregenerasi kepemimpinan. Agenda utama Musycab meliputi laporan pertanggungjawaban, sidang komisi, pemilihan pimpinan baru, dan konsolidasi gerakan dakwah. Muscab biasanya diawali dengan permusyawaratan tingkat pimpinan (Mupimcab) untuk menetapkan calon pimpinan. Dalam pelaksanaannya Muscab Fokus utamanya adalah menjaga pergerakan organisasi agar tetap dinamis dan tidak statis.

Namun, Muscab ke-1 Muhammadiyah Kecamatan Kaubun tidak semuluk dan tidak seideal biasanya seperti uraian di atas. Dilakukan semata-mata untuk menghidupkan kembali Muhamadiyah yang puluhan tahun kehilangan identitas, marwah, dan pergerakan sehingga pelaksanaanya kondisional dan formatur berdasarkan musyawarah mufakat. Tidak ada tarik ulur kepentingan semua peserta Muscab sadar betul bahwa gerakan Muhamadiyah harus hidup dan bangkit lagi di bumi Kaubun. 
Adapun pengurus terpilih adalah Tasrif sebagai ketua, Ahmad Sofikun Sebagai sekertaris, dan Ahmad Kusairi sebagai bendahara, dengan masa bakhti 2026 - 20230.
























































































Jumat, November 28

SOSOK GURU ANTARA TEORI DAN REALITA ; KAJIAN EMPIRIS

Sekolah adalah lahan yang subur bagi Murid untuk menggali ilmu pengetahuan. Mereka yakin dan percaya bahwa di sekolah mereka diajarkan beragam mata pelajaran, meningkatkan ilmu pengetahuan, menggali bakat minat dan potensi serta memperbaiki sikap dan perilku. Keyakinan itu terwujud jika guru hadir sepenuhnya di sekolah dan masuk dalam kelas. Kita harus sepakat bahwa Guru menjadi tulang punggung terjadinya proses belajar mengajar di kelas, tanpa guru proses belajar murid terhenti. Kehadiran sosok guru di kelas sanggat dinanti-nantikan oleh murid. Bagi murid sosok guru bagaikan lilin dalam gelap yang menerangi lorong-lorong kehampaan mereka. 

Namun akhir-akhir ini sosok guru itu menjadi ironi dibeberapa sekolah yang kadang kala hadir di sekolah, mengisi daftar hadir, masuk di ruang guru, berkumpul dan bercanda ria, bercerita tanpa arah sampai lupa waktu mengajar. Yang terjadi kemudian ruang kelas kosong, murid menunggu lama sampai bosan bahkan sampai ketiduran akhirnya kesempatan belajar murid terganggu dan semangat belajarnya menurun. Kondisi ini merupakan potret realita yang acap kali terjadi. Sesekali kepala sekolah menegur dan memberikan peringatan tetapi tidak membuat guru langsung sadar. Jika fakta ini terus terjadi maka tujuan mulia pendidikan nasional untuk mencerdaskan anak bangsa hanya menjadi pepesan belaka. 

Padahal menurut teori belajar Konstruktivisme bahwa belajar terjadi melalui interaksi langsung antara guru dan murid. Jadi tanpa adanya guru di kelas proses membangun pengetahun terhenti, proses belajar mengajar tidak terjadi sehingga murid kehilangan kesempatan untuk memahami materi, kehilangan peluang untuk bertanya jawab, kehilangan momentum untuk menyampaikan ide dan gagasan bahkan kehilangan makna pembelajaran itu sendiri. Disini jelas guru sangat penting sekali kehadirannya dalam membangun ilmu pengetahuan murid melalui interaksi positif. 


Kemudian jika merujuk pada teori Sosial Vigosky bahwa perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan murid terjadi melalui Scaffoding yakni pendampingan oleh orang dewasa yang ahli. Guru adalah ahli mendidik dan mengajar muridnya karena ia sudah menempuh pendidikan Sarjana bahkan Magister. Guru harus hadir terus dalam kelas untuk mendampingi murid dalam pembelajaran. Jika guru tidak hadir di kelas untuk mendampingi murid maka Scaffoding ini runtuh. Murid kehilangan arah belajarnya, mereka diam dalam kebingungan. Pendampingan ini penting dilakukan agar murid tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. 

Lalu, jika ditelusuri melalui teori Bevafiorisme maka teladan guru adalah penguat yang paling kuat bagi perilaku murid. Teori ini menegaskan pentingnya keteladan, guru harus menjadi teladan, selaras anatara ucapan perbuatan dan tindakan. Misalnya, guru tidak menghargai waktu belajar maka muridpun begitu mereka menganggap waktu itu tidak penting dan tidak menjadi prioritas. Jadi, semangat belajar murid menurun bukan karena malas tetapi karena guru tidak menjadi teladan yang baik bagi mereka. Pendidikan karakter yang ingin dibangun hanya di atas kertas. Dititik ini guru kehilangan marwah dan menyalahi Trilogi Pendidikan yang digagas oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Suntolodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” Artinya guru harus menjadi teladan, menyemangati, dan memberi dorongan. 

Sementara itu, teori pendidikan Humanistik mengingatkan kita bahwa tugas guru tidak hanya mentransfer materi pelajaran atau ilmu pengetahuan melainkan menemani murid untuk tumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik menuju kematangan berpikir dan kedewasaan berperilaku. Jadi, Kehadiran guru di kelas tidak sekedar menyelesaikan materi pelajaran melainkan memanusiakan murid menjadi manusia seutuhnya yakni manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri. Jadi, teori ini mengisyaratkan perlunya nasehat yang baik, motivasi yang kuat, dan komunikasi yang efektif yang dilakukan guru kepada murid. 

Kita sangat sepakat bahwa tugas guru adalah tugas yang mulia, namun kemuliaan ini akan tercapai jika guru hadir di sekolah, masuk ruang kelas, mendidik dan mengajar murid dengan ikhlas tanpa tenpa tendesi apapun. Guru melaksanakan pembelajaran mendalam berkesadaran, bermakna,  dan mengembirakan. Singkatnya, Guru hadir seutuhnya di kelas, hadir tubuhnya, hadir pikirnnya, dan hadir tanggung jawabnya. 

Melalui tulisan ini penulis mengajak semua guru agar kembali kefitrah guru sesungguhnya. Guru adalah role model, guru adalah contoh dan tauladan yang baik, guru adalah sosok yang mentukan generasi emas. Maka dari itu, mari kita satukan niat bulatkan tekat menjadi guru seutuhnya. Yakni guru yang profesional, disiplin, dan bertanggungjawab. Mengutamakan tugas pokok daripada tugas tambahan, mengutamakan kepentingan murid daripada kepentingan keluarga dan golongan, guru yang tidak memberi tugas tetapi mengutamakan interaksi, guru yang selalu mendampingi bukan menyiasati, guru teladan bukan tertekan, dan guru yang menginspirasi bukan materi.

Semoga!!!



Rabu, November 26

MEMAKNAI PROFESI GURU SEBAGAI JALAN DAKWA ; REFLEKSI DAN IMPLEMENTASI AJARAN NABI



Tulisan ini terinspirasi dari isi ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Rois salah satu guru SMK 1 Kaliorang dalam acara Majelis Taklim PGRI Adz-Dzikro Cabang Kaubun. Kegiatan ini dilaksanakan di TPA Masjid Nurul Iman Desa Bumi Rapak. Acara dimulai setelah pelaksanaan Upacara Perayaan Hari Guru Nasional (HGN) dan Ulang Tahun PGRI yang ke- 80 tahun. Hari Selasa, 25 November 2025 jam 10.00 sampai 11.30 wita di lapangan Buaya Rapak SP 2 Kaubun. 

Turut hadir dalam acara ini adalah Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Kaubun, Ketua PGRI, Ketua PGRI demosioner, Peninsiunan Guru (Guru Purnabakti), semua kepala sekolah, dan seluruh Tenaga Pendidikan dan Kependidikan TK, SD, SMP, dan SMA se-Kecamatan Kaubun. 

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia jika dibandingkan dengan profesi lain karena ditangan gurulah generasi dititipkan untuk diajarkan tentang adab dan ilmu, tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Dengan demikian dipundak gurulah generasi dididik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk peradaban yang bermartabat, dan mewujudkan pribadi yang utuh sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Berdasarkan amanat UU di atas, sangatlah mulia tugas seorang guru yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti mewujudkan generasi yang cerdas pikirnya, cerdas jiwanya, dan cerdas raganya. Tugas ini tidak setiap orang dapat melakukannya, hanya guru yang memiliki wewenang dan tanggungjawab. 

Kita sepakat bahwa tugas guru tidak sesederhana orang pikirkan atau tidak semudah membalikan telapatangan tetapi banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, misalnya mengurus murid yang bolos, murid yang tidak mengerjakan tugas, dan murid yang berkelahi. Disamping itu, menyiapkan perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran di kelas, melaksanakan tugas administrasi kepangkatan, dan melaksanakan tugas tambahan lain. Kemudian masalah lain yang dihadapi guru juga adalah beban administratif yang berlebihan, kurikulum yang sering berubah, dan tantangan dalam manajemen kelas serta menghadapi karakteristik siswa yang beragam juga keterbatasan fasilitas. Dengan kompleksnya tugas tersebut, bagi sebagian guru merasa capek, bosan, dan lelah sehingga terkadang lalai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. 

Dengan begitu banyaknya masalah yang dihadapi dan tidak sedikitnya beban kerja yang dilakukan, maka tidaklah heran jika ada oknum guru yang merasa capek, cepat marah, keras, kasar, dan egois. Hal ini tidak bisa kita pungkiri dan ini fakta tak terbantahkan. Pertanyaannya adalah apakah menjadi guru itu capakek? Tentu, semua pekerjaan pasti ada capenya, kalau merasa capek menjadi guru maka berhentilah menjadi guru, mendingan jadi karyawan Sawit atau karyawan Tambang. Tetapi pada kenyataannya menjadi karyawan itu lebih capek lagi. Jika benar begitu, masalahnya dimana? Ternyata yang capek itu adalah niatnya, padahal kalau kita tulus maka capek itu tidak akan ada jika niatnya baik dan tulus.  Oleh karena itu, Niat menjadi guru perlu diluruskan, semata-mata menjadi guru adalah untuk mendapatkan ridho Allah atau mendapatkan pahala. Perlu diingat bahwa semua pekerjaan harus didahului oleh niat. Segala sesuatu yang kita lakukan tergantung dari niat.

Kita harus bersyukur sudah ditakdirkan menjadi seorang guru karena dengan jalan ini guru sudah memiliki rumah, lahan sawit, tanah kaplingan, mobil, dll. Semua yang kita miliki saat ini adalah berkah dari gaji guru. Maka rasa syukur itu harus diwujudkan dengan melaksanakan tugas dengan baik lalu menerapkan keteladanan, kasih sayang, kesabaran, keterbukaan, dan dialog dalam proses belajar mengajar. 

Maka dititik inilah pentingnya menjadikan profesi guru ini sebagai jalan Dakwa. Pendidikan dan pengajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad perlu diterapkan. Peran guru bukan hanya sekadar pengajar yang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga seorang pendidik yang membentuk karakter dan moral generasi penerus. Peran guru sangat mulia, bahkan bisa menjadi jalan dakwah yang efektif. Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama bagi seluruh umat Muslim, termasuk dalam bidang pendidikan. Beberapa prinsip pendidikan yang diajarkan dan dipraktikkan oleh beliau diantaranya; 

Pertama, Keteladanan, Nabi Muhammad SAW selalu memberikan contoh yang baik dalam setiap aspek kehidupan. Sebagai guru, kita harus menjadi contoh yang baik bagi siswa, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Kedua, ​Kasih Sayang dan Kelembutan, Beliau selalu menyampaikan ajaran dengan kasih sayang dan kelembutan. Dalam mendidik, guru harus mendekati siswa dengan hati yang penuh kasih, bukan dengan kekerasan atau paksaan.

​Ketiga, Keadilan, Nabi Muhammad SAW selalu adil dalam memperlakukan semua orang. Guru harus adil dalam memberikan perhatian dan penilaian kepada semua siswa, tanpa membeda-bedakan.

​Keempat, Kesabaran, Beliau sangat sabar dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Guru harus sabar dalam membimbing siswa yang memiliki beragam karakter dan kemampuan.

​Kelima, Keterbukaan dan Dialog, Nabi Muhammad SAW selalu membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi dengan para sahabat. Guru harus menciptakan suasana kelas yang terbuka, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Memaknai jalan profesi sebagai jalan dakwa Saidina Muhammad. Menjadi guru jangan menyerah dan pasrah tetapi mencontohlah Nabi muhammad. Nabi Muhammad sampai dilempar dengan batu, kotoran, dicaci, dan dihina tetapi tetap sabar dan tawakal menjalankan dakwahnya, beliau niatkan karena Allah dan untuk mendapatkan ridhoNya. 

Oleh karena itu, dengan mulianya tugas seseorang guru maka jangan sampai dikotori oleh oknum-oknum yang tidak paham akan jati diri seorang guru sehingga serta merta ingin menjadi guru. Idealnya tidak semua orang bisa menjadi guru karena harus melalui proses panjang yakni kuliah 4 tahun lalu melanjutkan pendidikan profesi 1 tahun denga  mengikuti program Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tidak hanya itu, guru juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Hal ini dapat dipenuhi secara mandiri atau melalui program pemerintah. Guru harus terus belajar dan belajar terus mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, mari kita junjung profesi guru dengan sebaik-baiknya. 

Kita semua sepakat bahwa tanpa guru kita tidak bisa apa-apa dan kita bukan siapa-siapa. Semua Ilmu, jabatan, harta dan kekuasaan yang kita miliki tidak terlepas dari tempaan seorang guru. Begitu besarnya perjuangan seorang guru dalam membentuk manusia seutuhnya. 

Hadiah terindah bagi guru saat dia meninggal dunia adalah surah Al-Fatihah. Jika kita mau didoakan maka doakanlah murid kita, doakan yang terbaik untuk murid-murid kita agar mereka sukses dunia dan akhirat. Doakan murid kita di setiap pagi dan petang, doa yang mustajab adalah doa di sepertiga malam yaitu selesai Sholat Tahajjud lalu membaca Al-quran. Sebelum berangkat sekolah guru harus sholat Sunat dulu dua rakaat dan berdoa untuk kelancaran dan kemudahan dalam proses pembelajaran. 

Nabi Muhammad dalam keadaan suci jika sedang mengajar yaitu berwudhu. Oleh karena itu, diharapkan kepada guru agar berwudu dulu sebelum mengajar sehingga ilmu yang disampaikan penuh keberkahan, mudah deserap dan diimplementasikan oleh murid dalam kehidupannya sehari-hari. 

Kenapa murid kita masih saja nakal kemudian tidak paham-paham terhadap materi yang kita ajarkan jawabannya adalah kita belum ikhlas mendidik dan mengajar murid kita. Kita langsung marah jika murid berbuat salah, dan selalu berpikir negatif tentang mereka. Oleh karena itu, keikhlasan pasrah karena Allah semata-mata ingin mendapatkan ridho-Nya tidak ada tendensi atau kepentingan lain yang melekat dalam hati kita. Lepaskan semua beban derita, lupakan dulu semua urusan keluarga dan rumah tangga fokuskan pikiran dan hati pada kemuliaan tugas mendidik dan mengajar murid.

Jadikanlah murid kita sebagai anak sendiri perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya disayang dilayani dengan baik. Pandanglah mereka sebagai keluarga sendiri. 

Jadi, profesi guru adalah amanah yang besar dan mulia. Dengan merefleksikan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, guru dapat menjadikan profesinya sebagai jalan dakwah yang efektif. Meskipun ada berbagai tantangan, dengan niat yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh, guru dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan umat dan bangsa yakni mencerdaskan anak bangsa yang beriman, berilmu, beramal, dan berakhlak mulia.

Mari jadikan profesi guru menjadi profesi yang diridhoi oleh Allah dan Nabi Muhammad. 

Aamiin…  

Semoga…  










Kaubun Gelar Sholat Istisqa, Khatib Ajak Introspeksi Diri dan Jaga Kelestarian Alam

KAUBUN, 15 September 2026 — Sholat sunnah Istisqa dilaksanakan secara berjamaah di Lapangan Mini Soccer Desa Bumi Rapak. Kegiatan ini diha...