Sabtu, Juli 14

USULAN RKS 2012


USULAN RKS SEMESTER GANJIL 2012
PEMBINA OSIS

NO.
NAMA KEGIATAN
PELAKSANAAN
JUMLAH ANGGARAN
1.
PESANTREN RAMADHAN
1.   Honor pemateri 6 orang
2.   Perlengkapan panitia, spanduk, dan secretariat
3.   Transportasi
4.   Konsumsi panitia dan peserta
(buka bersama)
Bulan Agustus 2012

1.       Rp. 600.000,-
2.       Rp. 500.000,-

3.       Rp. 100.000,-
4.       Rp. 3.500.000,-
Jumlah
Rp. 4.250.000,-
2.
PEMILIHAN KETUA OSIS
1.   Perlengkapan panitia dan secretariat
2.   Transportasi
3.   Konsumsi panitia 3 hari 
Bulan September 2012

1.       Rp. 100.000,-
2.       Rp. 50.000,-
3.       Rp. 400.000,-
Jumlah
Rp. 550.000,-
3.
LOMBA CERDAS CERMAT, BACA PUISI, BACA AL-QURAN, DRAMA, TARI/DANCER, STORRY TELLING, DAN PIDATO
1.    Honor dewan juri 6 orang
2.    Perlengkapan panitia dan secretariat
3.    Konsumsi panitia dan dewan juri 4 hari
4.    Transportasi
5.    Hadiah
Bulan Januari 2013




1.       Rp. 300.000,-
2.       Rp. 100.000,-

3.       Rp. 500.000,-

4.       Rp. 50.000,-
5.       Rp. 2.000.000,-
Jumlah
Rp. 2.950.000,-



USULAN RKS SEMESTER GANJIL 2012
WAKASEK KESISWAAN

NO.
NAMA KEGIATAN
PELAKSANAAN
JUMLAH ANGGARAN
1.
PENYULUHAN KESEHATAN 
1.       Honor pemateri 2 orang
2.       Perlengkapan panitia spanduk dan secretariat
3.       Konsumsi panitia dan pemateri
4.       Transportasi
Bulan Oktober 2012

1.      Rp. 400.000,-
2.      Rp. 200.000,-

3.      Rp. 500.000,-

4.      Rp. 50.000,-
Jumlah
Rp. 1.150.000,-
2.
TABLIK AKBAR
1.   Honor penceramah
2.     Perlengkapan panitia spanduk dan secretariat
3.   Konsumsi panitia dan pemateri
4.   Transportasi
Bulan Desember 2012

1.       Rp. 100.000,-
2.       Rp. 200.000,-

3.       Rp. 500.000,-

4.       50.000,-  
Jumlah
Rp. 850.000,-
3.
PERTANDINGAN PERSAHABATAN (SEPAK BOLA) DENGAN SMA SANGKULIRANG
1.       Konsumsi pemain
2.       Transportasi pemain
Bulan September 2012



Rp. 1.500.000,-
Rp. 500.000,-
Jumlah
Rp. 2.000.000,-


Jumat, Juni 15

CAHAYA ISRA’ & MI’RAJ ; MENITI JALAN MENUJU SURGA


Sebelum berbicara Isra’ dan Mi’raj, mari kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada allah SWT yang sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa yang diucapkan dengan lisan dan wujudkan dalam perbuatan. Kemudian segala aktivitas dan komunikasi yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari harus merupakan manifestasi dari takwa itu sendiri. Meningkatkan ketakwaan menjadi sangat penting bagi kita karena peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang gaib yang tidak dapat diterka oleh akal manusia. Untuk itu, dibutuhkan kepercayaan dan keyakinan (takwa) yang mendalam. Kita harus yakin bahwa Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu tidak ada keraguan sedikit pun dalam hati kita tentang kekuasaan-Nya. Seluruh kekuasaan dan kehendak-Nya telah tertuang dalam al-quranul karim. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj pun telah dideklarasikan-Nya dalam al-qur’an sebagai berikut.

“Subhaanalladzii asraa bi ‘abdihii lailam minal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahuu li nuriyahuu min aayaatinaa innahuu huwas samii’ul bashiir”

Artinya; “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al Israa’, 17 : 1)

Firman Allah di atas sebagai bukti, bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu benar-benar ada dan terjadi yang tidak perlu  diragukan lagi kebenarannya atau tidak perlu lagi diperdebatkan substansinya, baik oleh umat islam itu sendiri maupun umat islam dengan umat lain. Allah SWT adalah maha kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya, hanya bersabda “Kun Fayakun” jadilah maka jadilah. Allah menegaskan melalui firman-Nya di atas, bahwa Nabi Muhammad SAW telah diperjalankan dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Madinah, inilah yang kita sebut sebagai Isra’ (perjalanan horizontal). Kemudian dilanjutkan dengan perjalan vertikal. Mulai dari masjid Al-aqsha ke sidratul muntaha (langit ketujuh), hal inilah yang kita sebut sebagai Mi’raj. Jadi, Isra’ wal Mi’raj adalah perjalan Nabi Muhammad dari masjidil haram ke masjidil aqsha dan dilanjutkan ke sidratulmuntaha (langit ketujuh) dengan durasi waktu semalam untuk bertemu langsung dengan Allah SWT dalam rangka menerima ibadah shalat.

Ayat tersebut juga merupakan bukti otentik bahwa Nabi Muhammad SAW telah menerima ibadah shalat langsung berhadapan dengan Sang Ilahi Rabbi tanpa perantara malaikat jibril seperti layaknya ibadah-ibadah yang lain. Misalnya; sedekah, infak, puasa, jakat, haji, dan lain-lain. Sehingga tidak lah heran bagi kita, ibadah shalat merupakan inti atau tiang agama. Seperti disabdakan oleh Rasulullah “Assalatu Imaddudin” artinya shalat adalah tiang agama. Jadi, dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa untuk menegakkan ibadah shalat.

Masalah yang kerap kali didengungkan oleh sebagian dari kita atau paling tidak yang menjadi bahan perdebatan baik oleh sesama umat islam maupun umat islam dengan nonislam yang minim ketakwaan/keimanannya adalah apakah peristiwa Isra’ Mi’raj itu benar-benar terjadi? Apakah mungkin seseorang manusia dengan gelar Nabi dapat menembus langit ketujuh? Apakah yang Isra’ wal Mi’raj itu hanya rohnya Nabi Muhammad SAW? Jika hanya rohnya maka peristiwa Isra’ wal Mi’raj hanyalah mimpi belaka? Apakah yang Isra’ wal Mi’raj itu roh dan jasadnya Nabi Muhammad? Jika roh dan jasadnya kenapa sampai hari ini belum ada satu pun manusia yang dapat menembus langit ketujuh?

Hemat penulis, sederetan pertanyaan tersebut tidak pantas untuk dipertanyakan dan tidak perlu diperdebatkan karena hanya mendatangkan dosa. Mengingat; pertama, pertanyaan tersebut lahir dari orang-orang yang mengalami krisis kepercayaan serta mencoba untuk merusak keimanan umat islam. Kedua; peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan peristiwa biasa tetapi peristiwa yang luarbiasa (gaib) sehingga tidak mampu kita jabarkan lewat akal melainkan lewat hati dengan dasar keimanan yang kuat. Ketiga; akan lebih bermakna jika kita mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.  

Paling tidak, ada ”tiga” hal yang bisa kita petik hikmahnya dari peristiwa ini. Hikmah pertama adalah masalah keimanan, yakni menambah keyakinan kita kepada Allah SWT bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Hikmah kedua, kita mesti memahami “hasil” yang dibawa dari perjalanan peristiwa ini adalah diperintahkannya kita menegakkan shalat fardlu lima waktu. Adapun hikmah ketiga, adalah hendaknya kita semua mesti mau memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam. Ketiga hikmah inilah yang penulis sebut sebagai cahaya.

Semoga ketiga hikmah di atas menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin berkurang.


Minggu, Mei 20

POLEMIK HARI KEBANGKITAN BANGSA


Disadari, Sesungguhnya telah diabadikan oleh bangsa Indonesia bahwa tanggal 20 Mei sebagai hari yang bersejah, yakni hari kebangkitan nasional. Setiap tanggal tersebut tetap dirayakan (diperingati) oleh sebagian rakyat Indonesia. Bukan seluruh rakyat Indonesia. Kenapa? Karena sebagian rakyat tidak setuju dengan hari kebangkitan nasional jatuh pada tanggal 20 Mei 1908. Mereka melihat sebelum tanggal 20 Mei 1908 sudah ada gerakan kebangkitan bangsa. Sehingga sejumlah pihak tidak sepakat dengan peringatan tersebut, kemudian memunculkan polemik yang cukup alot. Meskipun demikian, tonggak sejarah kebangkitan bangsaan tetap jatuh pada tanggal 20 Mei perayaannya pun cukup meriah. Peringatan tersebut dilakukan sebagai langkah perenungan sekaligus mengingat kembali perjuangan tokoh-tokoh pejuang dulu dalam membangun kesadaran berbangsa dan bernegara.  

Ketika polemik itu berkepanjangan, tidaklah heran jika Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei sudah tidak lagi diperingati secara khidmat atau selayaknya sebagai peristiwa yang penting dalam sejarah bangsa. Memang, pemerintah memperingatinya sebagai hari bersejarah sepertihalnya hari Pahlawan 10 November, peringatan 17 Agustus, Sumpah Pemuda, Kartini dan banyak lagi… tapi bisakah momen itu menyentuh jiwa banyak orang sebagai pendidikan moral dan politik.

Agar polemik hari kebangkitan nasional tersebut tidak berkepanjangan, perlu kita jawab beberapa pertanyaan berikut. Kebangkitan nasional itu apa? Apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1908? Kenapa tanggal 20 Mei dijadikan sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia? Apakah sebelum tanggal 20 Mei 1908 belum kesadaran kebangsaan? Jika ada kenapa tidak diambil sebagai patokan sejarah kebangkitan? Jawaban dari sederetan pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantarkan kita kepada satu pemahaman yang solid sehingga kita kemudian merayakan hari kebangkitan nasional bersama-sama, bukan sebagian rakyat seperti yang terjadi hari ini. akhirnya hari kebangkitan nasional pun mendapat tempat di hati seluruh rakyat.

Kebangkitan nasional adalah kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia. Semangat kebangkitan nasional muncul, ketika bangsa Indonesia mencapai tingkat perlawanannya yang tidak dapat dibendung lagi, untuk menghadapi kekuasaan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil. Penegasan tekad bangsa untuk bebas dan merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialism tertanam dalam lubuk hati rakyat Indonesia. Jadi, kebangkitan nasional merupakan kesadaran rakyat Indonesia baik secara individu maupun secara kelompok (organisasi) untuk membentuk kesatuan bangsa dan Negara yang adil, makmur, dan sentosa di atas kekuasaan penjajah.

Tanggal 20 Mei 1908 merupakan hari lahirnya organisasi Boedi Oetomon  yang digagas oleh R. Soetomo. Seperti apa substansi dan liku-liku perjalanan Boedi Oetomon dalam memankan perannya? Dicermati dari keberadaannya, banyak pihak yang menilai bahwa sistem pendidikan yang dianut dalam Boedi Oetomon adalah adopsi pendidikan Barat. organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya. Boedi Oetomon sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda. Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Boedi Oetomon tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan Boedi Oetomon tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain : Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

Hal ini pun dipertegas oleh Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Jika, kiprah Boedo Oetomon di atas kita sepakati adanya, maka, tidak pantas kiranya hari lahirnya Boedi Oetomon dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional karena sangat bertentangan sekali dengan konsep dan makna kebangkitan. Terus, kenapa tetap menjadi hari kebangkitan nasional? Begini, pada tanggal 3 Juli 1946 terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Tan Malaka dan Mohammad Yamin yang ingin merebut kekuasaan negara dengan paksa. Kemudian pada saat itu, Kabinet Hatta berkeinginan untuk mengembalikan sejarah nasional yang mana susah payah telah melawan penjajah. Ini semua dilakukan Kabinet Hatta karena upaya kudeta tersebut seakan-akan mendapatkan respon dari masyarakat, dan ini berarti dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Nah, agar terhindar dari perpecahan bangsa, maka dirasa perlu membangkitkan kembali yang namanya kesadaran nasional. Tanpa menunda lagi maka dirasa perlu juga menentukan kapan tanggalnya dan kira-kira organisasi apa yang mempelopori gerakan kebangkitan nasional pada abad ke-20 ini. maka secara serta-merta diambilah hari lahirnya Boedi Oetomon tersebut. Jadi, pantaslah kiranya hari kebangkitan nasional menjadi bahan perdebatan oleh berbagai kalangan.

Disisi lain sejumlah pihak lebih sepakat hari kebangkitan nasional jatuh pada tanggal 16 Oktober 1905, hal ini dipertegas oleh George McTurner dalam karyanya Nationalism and Revolution in Indonesia pad atahun 1970 menguraikan pendapat berbeda daripada penulis-penulis sejarah Barat lainnya. Dia lebih menekankan bahwa fakta penyebab terbentuknya integritas nasional bahkan tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia itu adalah Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dipeluk bangsa Indonesia. Lebih lanjutnya karena: Pertama, adanya kesatuan agama bangsa Indonesia. Saat itu agama Islam telah dianut 90% penduduk dan tidak hanya orang Jawa saja namun juga penduduk luar Jawa. Inilah mengapa bisa terjadi perlawanan kuat terhadap penjajah Kerajaan Protestan Belanda, itu disebabkan salah satunya karena para penjajah ini melancarkan politik kristenisasi. Kedua, agama Islam ini tidak hanya sebagai ajaran yang mengajarkan jamaah atau persatuan namun juga masyarakat Indonesia telah menjadikannya simbol perlawanan terhadap penjajah Barat. Ketiga, sebab lain bisa terjadi integritas nasional adalah karena adanya perkembangan Bahasa Melayu Pasar yang telah berubah menjadi Bahasa Persatuan Indonesia. Ini akibat dari penjajah Belanda yang ketika itu ingin menciptakan rasa inferioritas atau rendah diri di tengah-tengah umat Islam Indonesia. Pada waktu itu, sengaja diciptakanlah bahasa utama dan bahasanya para bangsawan adalah bahasa Belanda, sedangkan Bahasa Melayu pasar (bahasa kita sekarang ini) malah dianggap sebagai bahasanya orang-orang bodoh pribumi.Nah, kalau kita sudah mengerti sedikit banyak uraian terjadinya Hari Kebangkitan Nasional tersebut, yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa ya umat Muslim dengan organisasinya yang lebih dahulu [hadir] yaitu Serikat Dagang Islam malah tidak dianggap menyadarkan kesadaran nasional? Padahal saat itu motor pembangkit gerakan kesadaran nasional di pasar adalah Serikat Dagang Islam pada tanggal 16 Oktober 1905 di Surakarta.

Organisasi inilah yang pertama kali menjawab tantangan upaya imperialis untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar sumber bahan mentah industri penjajah Barat. Organisasi ini pula yang mengedepankan penguasaan pasar agar terhimpun dana guna gerakan kesadaran politik nasional.

Anehnya, padahal waktu itu ada banyak organisasi-organisasi Islam yang sangat berpengaruh besar terhadap mayoritas masyarakat Indonesia, bahkan masih berperan aktif hingga sekarang ini dalam pembangunan bangsa, negara, dan agama. Kenapa bukan Serikat Dagang Islam yang mana lebih dulu berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905? Dibandingkan dengan Boedi Oetomon yang berdiri tanggal 20 Mei 1908. Pertanyaan ini menjadi tugas sejarah yang tertunda. Kita semua tahu bahwa kiblat Serikat Dagang Islam jelas membangun kesadaran persatuan dan kesatuan di antara umat. Rakyat Indonesia disominasi oleh umat islam, sekitar 90% memeluk agama islam. Sedangkan, Boedo Oetomo hanya Jawa-Madura atau dikenal jawanisme, bagian kecil dari rakyat Indonesia. Di titik inilah muncul polemik yang cukup hangat. Hari kebangkitan nasional itu 20 Mei 1908 atau 16 Oktober 1905? Pertanyaan ini kemudian menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua yang perlu digali jawabannya.  




Sabtu, Mei 19

PELEPASAN SISWA-SISWI SMA NEGERI 1 KAUBUN ANGKATAN KE-IV TAHUN PEMEBALAJARAN 2010/2011 “SEMANGAT MENUNTUT ILMU PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TERAMPIL UNTUK MERAIH JUARA DEMI TERWUJUDNYA GENERASI UNGGUL INDONESIA”


      Istilah pelepasan sudah menjadi tradisi bagi setiap sekolah, yang sejatinya adalah perpisahan kelas XII dengan kelas X, XI, dan dewan-dewan guru yang ada di sekolah tersebut. jadi tidaklah heran jika kita melihat lebih kurang dua minggu selesai ujian nasional (UN) kegiatan perpisahan itu dilaksanakan.

     Berbicara tentang pelepasan tentu kita sedang berbicara perpisahan. Perpisahan antonin dari pertemuan, dimana ada pertemuan perpisahan pun akan ada. Jika pertemuan sudah terjadi maka perpisahan sedang menanti, pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang menjadi jalan hidup di dunia. Di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya bersifat sementara. Pertemuan dan perpisahan merupakan dua istilah yang selalu menanti setiap manusia kapan pun dan dimanapun. Pertemuan adalah kenangan yang terindah dan perpisahan adalah kenangan yang menyedihkan.

      Pelepasan/perpisahan merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang diselenggarakan oleh setiap sekolah khususnya SMA di seluruh nusantara. Kegiatan tersebut sudah merupakan budaya atau kebiasan yang dilakukan oleh setiap siswa-siswi yang sudah menyelesaikan studi dijenjang SMA yang kemudian akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Idealnya SMAN 1 Kaubun telah melepas siswa-siswinya empat angkatan. Angkatan ke-VI tahun pembelajaran 2010/2011 dilepas pada hari Sabtu, 19 Mei 2012.
    Meskipun kegiatan perpisahan kali ini lebih cepat dibandingankan tahun sebulumnya. jika, tahun sebelumnya dilaksanakan bertepatan dengan pengumuman kelulusan. maka, tahun ini perpisahannya lebih awal. hal ini dilakukan karena atas pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan meyakinkan. 

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh beberapa unsur-unsur terkait seperti; bapak Camat Kaubun, Ketua UPT Pendidikan Kecamatan Kaubun, Kepala Desa Bumi Rapak, Bapak/Ibu Dewan Guru SMP dan SD se-Kecamatan Kaubun, Ketua Komite SMAN 1 Kaubun, Tokoh Agama, Masyarakat, dan Pemuda, dan lain sebagainya yang memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan. Misalnya; pihak perusahaan ikut hadir dalam acara tersebut.

      Acara perpisahan tersebut dilaksanakan di Aula SMAN 1 Kaubun, dan adapun susunan acara adalah pembukaan, do’a, menyanyikan lagu Indonesia dan kur kelas XII, sambutan-sambutan (ketua panitia, perwakilan kelas XII, perwakilan kelas X, dan XI, kepala sekolah, ketua komite, kepala UPT Pendidikan, dan Camat Kaubun), pelepasan atribut, hiburan, dan penutup.  

     Pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar. Berjalan sesuai dengan yang diharapkan bersama. Kegiatan dibuka mulai jam 09:00 s/d 12:00. Untuk memeriahkan pelaksanaan acara setiap kelas X dan XI wajib menampilkan kreasinya masing-masing baik berupa tarian, dancer, nyanyian, maupun puisi dan drama. Dan tidak ketinggalan juga SMANSA BEND menebarkan tembang-tembang kesayangannya. Jika dilihat dari penampilan tari ada nilai bargainingnya. Secara, kelas X dan XI banyak mempersembahkan tari, misalnya; tari bali (pendet dan manuk rawe), tari jaipong, tari dayak, dancer, dan Akapela persembahan kelas XI IPA.  

      Pembawa acara adalah Rizki Amalia dan Muhammad Rais kelas XI IPA. Mereka diwajibkan untuk menggunakan dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa inggris (translate) secara bergantian. Dan untuk memeriahkan acara pembukaan ditampilkan tari pendet. Hasilnya pun membuat para tamu undangan sangat terhibur selalu. Tarian-tarian yang lainya serta band SMANSA menyelingi acara sambutan-sambutan dan sesi hiburan.

     Yang mengawali acara sambutan adalah ketua panitia yakni ibu Arik Setyowati, S.Pd. titik penekanan sambutannya hanya pada rincian anggaran kegiatan. Untuk dasar pemikiran tentang tema kegiatan dan ucapan terimakasih kepada anggota panitia khususnya dan umumnya pihak-pihak terkait yang dengan gigih meluangkan pikiran dan tenaganya tidak tersampaiakan oleh dia. Padahal ini sangat penting bagi seorang ketua panitia dalam sambutannya.

    Sambutan yang kedua dan ketiga adalah perwakilan dari kelas XI dan X/XI. Dalam sambutannya, perwakilan dari kelas XII menyampaikan ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada kepada sekolah dan dewan guru karena atas perjuangan dan pengorbanan gurulah mereka dapat menyelesaikan studinya di SMAN 1 Kaubun. Disamping itu, dia mengajak guru-gurunya untuk tetap membangun komunikasi baik melalui via sms maupun dengan media lain, sehingga hubungan baik tetap terjaga selalu. Berbeda dengan perwakilan kelas X dan XI. Dia mengnugkapkan kesedihannya karena akan ditinggalkan oleh kakak-kakak tingkatnya. Dengan bahasa yang puitis “Pertemuan adalah kenangan yang terindah dan perpisahan adalah kenangan yang menyedihkan. Idealnya pada kesempatan ini sedang melanda kita yang ada dirungan ini, sehingga rungan ini diwarnai oleh suasana sudih. Kepada kakak-kakak kelas XI, Jujur kami katakan pertemuan denganmu adalah surga bagi kami dan perpisahan denganmu neraka bagi kami. Tapi, apalah daya inilah jalan hidup yang harus kita lalui bersama yang tak mungkin kita hindari. Oleh karena itu, kesabaran dan ketabahan serta ikhlas untuk melepas kepergianmu sebuah keharusan. Pergilah kakak-kakakku, tuntut lah ilmu sebanyak mungkin, walau ke negeri cina sekalipun. Kita semua harus sadari bahwa segala yang kita lalui di sekolah tercinta ini, adalah kenangan yang terindah dan tak akan terlupakan sampai kapan pun dan dimana pun kita berada. Kenangan itu tetap bersemayam dihati meskipun jarak dan waktu memisahkan kita. Prinsip kita adalah “jauh dimata dekat dihati”. Tegasnya. 

  Kepala sekolah yaitu bapak Suparto, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan prestasi siswa-siswi SMAN 1 Kaubun dari tahun ke tahun semakin meningkat baik pada bidang akademik maupun nonakademik. Misalnya; juara satu lomba seni baca al-quran, juara satu lompat jauh, juara dua lomba cerdas cermat, juara tiga dan empat karya tulis, dan juara satu, dua, dan tiga dalam  lomba kepramukaan. Kepala sokolah juga memohon maaf kepada masyarakat khususnya orang tua wali jika ada kabar-kabar yang tidak sedap yang menimpa sekolah dalam hal ini dewan-dewan guru. Dia mengajak orang tua/wali agar tidak membesar-besarkan kabar tersebut. mengahiri sambutannya kepala sekolah mengajak semua pihak untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMAN 1 Kaubun. Setelah kepala sekolah sambutan selanjutnya adalah ketua komite sekolah yakni H. Sirajudin, S.Pd. ketua komite membicarakan tentang sikap pendidik dalam hal ini guru-guru perlu diperbaiki khususnya guru-guru pendatang. Guru-guru pendatang semestinya harus bersyukur telah ditempatkan di Kaubun. Hubungan dan kerjasama antara guru harus ditingkatkan untuk membangun komunikasi yang positif. Hindari polarisasi dan perpecahan yang selama ini terjadi. Guru harus menjadi tauladan yang baik bagi siswa-siswinya. 

    Yang menarik untuk disimak adalah isi sambutan bapak UPT Pendidikan dan bapak Camat Kaubun. Jika, bapak UPT Pendidikan mengatakan bahwa tema pelepasan siswa-siswi kali ini sangat menarik untuk kita bicarakan dan dijadikan sebagai isu nasional karena poin penting yang diraih dalam dunia pendidikan itu adalah ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Tetapi, dibalik ketertarikanya itu beliau memiliki versi lain yang tidak jauh beda dengan tema tersebut yakni kecerdasan, akhlak mulia, dan kemandirian. Jadi, jika dikolaborasikan dengan tema tersebut maka kecerdasan adalah ilmu pengetahuan, sikap adalah akhlak mulia, dan keterampilan adalah kemandirian. Dengan demikian beliau menegaskan siswa dan siswi yang kita lepas hari ini harus menuntut ketiga hal tersebut. Numun, itu semua akan terwujud jika orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah ikut memberikan motivasi (dorongan) yang positif dalam proses pelaksanaannya.

    Maka, Bapak Camat Kaubun menegaskan dari sisi proses pendidikan dan keikhlasan dari kita khususnya orang tua untuk melepaskan ananknya dalam meraih ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan tesebut. Jika, kita semua ridho, maka Tuhan Yang Maha Esa akan selalu memudahkan prosesnya. Disamping itu pula, bapak Camat mengatakan kepeduliannya terhadap masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Untuk mengantisipasi hal ini dia mengadakan kerjasama dengan pihak terkait dalam hal ini perusahaan untuk menyelenggarakan sekolah nonformal yakni pelatihan. Sehingga, wujud dari kerjasama itu, tahun ini ada tiga siswa yang disekolahkan atau dibiayai oleh pemerintah dan perusahaan. Mengahiri sambutannya dia sangat berharap semoga Kaubun ke depan dipinpin oleh putra daerah (asli orang Kaubun).

    Yang tidak kalah menariknya lagi adalah pada sesi hiburan. Tarian dayak, manuk rawe, dan Smansa Band membuat undangan tidak mau bergegas dari tempat duduknya. Secara, Pemain tari begitu linca dan lihainya dalam melakukan gerakan. Tari jaipong dan dancer ditampilan di sela-sela sambutan. 
   Tentu, seperti apa pun bagusnya kegiatan perpisahan tersebut pasti ada kekurangan dan kelebihan. untuk itu, kita semua sangat berharap semoga perpisahan tahun depan lebih baik dari tahun ini. 

Semoga…!

Jumat, Mei 11

KEPADAMU JUA

Kepasrahanku hanya padaMU
Penghambaanku hanya untukMU
Aku berharap,rasa Cinta ini untukMU
Rindu ini juga ku tujukan padaMU

Jangan KAU tunjukan kenikmatan yang hanya menggoda
Jangan KAU beri Ruang terhadap Cinta yang hanya Menipu
Jangan KAU beri Kesempatan pada Rindu yang hanya menyiksa
jangan KAU biarkan aku terpedaya dengan nikmatMU
jangan KAU biarkan aku berlumuran noda

Qolbuku tak mampu menerka DuniaMU
aku hanya mengabdi untukMU
Aku menghiba Lautan KasihMU
Bentangkan Samudra CintaMU padaku
ENGKAUlah Muara Keluh-Kesah
KAULAH laut Bahagiaku
tunjukan aku jalanMU yang lurus
jalan menuju surgaMU

EKSPRESI MENULIS ADALAH STIGMA YANG TAK TERBANTAHKAN


Mengawali tulisan ini, ijinkanlah saya untuk curhat sedikit. Masih segar di ingatan, ketika cerpen saya yang berjudul Disiplin Makin Hilang mendapat tuding miris dari berbagai kalangan. Khususnya, dalam hal ini, oknum-oknum yang merasa dirugikan. Acaman, tudingan, cemoohan, dan makian datang bertubi-tubi menimpa diri dan keluarga saya. Lantaran ada kesamaan nama dan profesi serta kesesuaian isi cerita dengan potret realitas yang ada dalam kehidupan nyata. Tepatnya, isi cerpen tersebut mencerminkan tingkah laku kalangan yang memprotes. Secara, cerpen tersebut mengisahkan disiplin di sebuah sekolah yang tidak ditegakkan lagi oleh oknum guru-guru dan hubungan yang tidak harmonis diantara guru sehingga menyebabkan polarisasi besar-besaran. Anehnya kala itu, saya dituduh mencemarkan nama baik dan menghancurkan rumah tangga mereka. Sehingga, saya diancam untuk dipolisikan alias dibawah ke “meja hijauh”. Disamping itu, dramatisasi cukup arogan, luapan emosi cukup tinggi, dan deraian air mata cukup deras mewarnai tudingan itu. Wallahua’lam bissawab. Apa motif di balik tudingan ini? Jauh dari pengetahuan saya. Yang jelas cerpen tersebut lahir tanpa ditunggangi dan menunggangi siapapun. Semata-mata lahir dari ekspresi imajinatif pengarang yang dilandaskan atas kenyataan (pengalaman) yang ada.

Berangkat dari persoalan pribadi itulah saya tertarik untuk menulis artikel yang dikasih judul Ekspresi Menulis adalah Stigma yang Tak Terbantahkan. Dengan tujuan utama memberikan informasi kepada pembaca agar dapat memahami hakekat ekspresi menulis dan bagaimana kode etik menulis itu sesungguhnya? Sehingga kemudian kita terhindar dari pemahaman yang keliru dalam menilai karya seseorang. Kita tidak serta-merta langsung menuduh dan menuding seorang penulis. Lantaran kita melek terhadap interpretasi sebuah tulisan. Dan atau paling tidak, kejadian yang penulis gambarkan di muka tidak menimpa penulis berikutnya.

Berbicara tentang ekspresi atau kebebasan menulis, tentu kita harus mengaitkan dengan amanat UUD 1945 pasal 28 dan UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Kedua peraturan tersebut menegaskan bahwa kebebasan berekspresi merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat baik secara lisanmaupun tulisan harus dijamin, serta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan hak memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejateraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bebas menulis apa saja, kapanpun, dan dimanapun. Selagi tulisan itu dapat menyampaiakan informasi secara jelas, akurat, dan terpercaya.

Jika, kita menelisik lebih dalam amanat konstitusi di atas. Maka, sudah sangat jelas, bahwa kebebasan menulis merupakan kebebasan bagi setiap individu dalam rangka menyampaikan gagasan dan pendapat serta fakta yang ada. Dijamin keberadaannya dan dihargai karyanya. Wujud dari tulisan tersebut dapat berupa karya fiksi dan nonfiksi. Karya nonfiksi misalnya: karya tulis, paper, artikel, opini, makalah, dan buku mata pelajaran. Karya fiksi misalnya: cerpen, novel, dongeng, hikayat, dll. Namun, perlu disadari bahwa karya fiksi sangat-sangat berbeda dengan karya nonfiksi. Jika  karya nonfiksi adalah tulisan yang didasarkan atas fakta dan kenyataan yang ada. Maka, karya fiksi merupakan tulisan yang didasarkan atas imajinatif (daya hayal) pengarang. Jadi, pada fase inilah perlu saya tegaskan. Dikatakan nyasar atau salah sasaran jika sebagian kalangan membantah dan menuding tulisan fiksi karena itu hanyalah fiktif atau cerita belaka. Realnya, lamunan seorang pengarang.

Tetapi Warning,  Kritik, bantahan, bahkan kecaman dari pembaca sudah menjadi risiko seorang penulis. Namun sebaiknya, segala sesuatunya telah direnungkan dan diantisipasi sebelum menulis. Kritik yang positif dan memuji akan menyenangkan. Sebaliknya, kritik yang negatif dan bersifat membantah memang dapat membuat penulis putus asa. Semua ini dapat dihindari dengan persiapan sebelumnya. Penulis harus memiliki tanggung jawab terhadap tulisannya. Jika ia bermaksud menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, dan perasaan, tentunya karena ia yakin bahwa semuanya itu akan bermanfaat bagi orang lain. Tulisan tentang masalah-masalah pendidikan kesehatan dalam jurnal kedokteran, misalnya, pasti memiliki dasar-dasar yang kuat untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Begitu juga tulisan bertema sosial, agama, teknologi modern, ekonomi, dan sebagainya. Ataupun tulisan-tulisan yang disajikan dalam bentuk cerita cerpen dan novel. Si penulis harus menguasai materi yang disajikannya.

Jadi, dengan membaca sebuah tulisan, seorang pembaca dapat memahami informasi yang disampaikan. Bacaan itu akan lebih menarik perhatiannya apabila berisi hal-hal yang ingin diketahui dan dipelajarinya. Selain itu, hal-hal yang disampaikan benar-benar memberinya manfaat. Kesadaran akan tanggung jawabnya itulah yang harus ada dalam jiwa setiap penulis. Keberaniannya untuk menyampaikan pendapat dan kebebasannya untuk berekspresi di arena tulis-menulis akan dihargai oleh masyarakat pembaca apabila ia memang memiliki kemampuan untuk memertanggungjawabkan manfaat maupun kebenarannya. Apalagi jika tulisan itu mampu menggerakkan hati nurani pembacanya dan kemudian menciptakan opini pablik di kalangan masyarakat. Inilah keberhasilan seorang penulis atau pengarang. Bahkan, tulisan-tulisan seperti ini dapat mengubah pandangan dunia (word view). Hal-hal inilah yang saya sebut sebagai “kode etik” dalam menulis. 

Sebagai contoh sederhana. Ada beberapa novel termasyhur telah mengubah opini dunia. Misalnya, buku berjudul "Uncle Tom`s Cabin" karya Harriet Beecher Stowe yang bercerita tentang kejamnya bisnis perbudakan orang-orang kulit hitam yang tidak manusiawi. Bukan hanya Amerika yang terguncang. Seluruh dunia terperangah membaca buku yang dengan berani membuka borok-borok bisnis yang mendatangkan keuntungan besar ini. Satu lagi contoh tentang keberanian pengarang mengungkap fakta buruk yang disembunyikan, yaitu ketika pengarang Perancis, Emile Zola, membela Alfred Dreyfus, seorang anggota militer Perancis yang dijebloskan ke penjara karena fitnah. Penyimakannya atas kasus yang menghebohkan ini membuktikan bahwa Dreyfus tidak bersalah. Karena itu, ia bertekad untuk membuka skandal yang melibatkan orang-orang penting dalam dinas militer Perancis pada awal abad ke-19 itu. Ia menulis surat terbuka kepada Presiden melalui surat kabar L`Aurore di bawah judul "J`Accuse". Novelis besar ini berani menanggung risiko masuk penjara demi kebenaran yang diyakini. Hal ini tidak sia-sia karena Alfred Dreyfus kemudian dibebaskan. Bayangkan betapa hebatnya dia. Sendirian, hanya bersenjatakan pena dan tinta, Emile Zola berhasil mengungkap skandal korupsi di balik peristiwa yang menggegerkan itu.

Semoga contoh di atas, dapat memberikan pemahaman kepada kita tentang substansi dan pentingnya kode etik dalam tulis-menulis. Sehingga, kedepan kita dapat memberikan apresiasi yang positif kepada seorang pengarang seperti apapun tulisannya. Akhir kata, semoga tulisan yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi pembaca. Namun, demi kesempurnaan tulisan ini, saya sangat berharap kritik dan sarannya.

Mengahiri tulisan ini ada beberapa pertanyaan yang wajib dijawab oleh pembaca. Apakah salah jika saya menjadi seorang penulis? Apakah salah jika tulisan saya di bukukan dan dibaca oleh setiap orang? Apakah salah jika saya bercerita lewat tulisan? Dan apakah saya pantas dituding dan dituduh seperti cerita diawal?


I really wait for your answer!

GTK SE-KECAMATAN KAUBUN PERKOH IMAN DEMI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MAJELIS ADZ-DZIKRA

KAUBUN – Rabu, 22 Juli 2026, Majelis Taklim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) se-Kecamatan Kaubun kembali digelar, sebagai sarana memperku...