Minggu, April 15

TABLIGH AKBAR (IKHTIAR MEMBANGUN PERSATUAN UMAT)


         Dalam kehidupan keseharian kita, tentu istilah Tabligh Akbar bukanlah istilah yang asing. Istilah tersebut  justru istilah yang menjadi kegiatan rutin keagamaan. Kita juga sudah sangat akrab dengan istilah Tabligh Akbar, sehingga ada yang kita dengar  kelompok jama’ah tertentu yang menamakan diri sebagai jama’ah Tabligh. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tablĂ®q?

        Pada hakekatnya kegiatan Tabligh Akbar merupakan konsep untuk membangun komunikasi dalam rangka silaturrahmi antara sesama sesama umat.  Dalam hal memberi dan berbagi ilmu agama pada kondisi dan situasi tertentu.  Artinya berbagi dan memberi tentang kebaikan dan kebenaran, sehingga tidak heran dalam kegiatan tersebut  diisi dengan ceramah-ceramah agama atau tausyah yang dikomandankan oleh ustaz-ustaz, baik ustaz lokal maupun nasional. Jadi, Tabligh Akbar itu sesungguhnya adalah upaya membangun persatuan umat untuk melakukan komunikasi intelektual, spiritual dan sosial antara sesama, sehingga tujuan agama dan tujuan sosial dapat terwujud dengan baik. 

      Tabligh Akbar juga merupakan upaya untuk membangun persatuan dan kesatuan umat baik dalam menegakkan sariah agama maupun dalam membangun komitmen sosial. Menelitik pengertian ini tidak sedikit muncul oknum-oknum tertentu dan partai politik tertentu menggunakan istila Tabligh akbar untuk membangun pencitraan atau dukungan masyarakat demi kepentingan politik praktis semata. Nah! Jika hal ini terjadi maka nilai Tablik Akbar akan bergeser pada nilai yang sesungguhnya, dan bukan pahala dan persatuan yang kita dapat melainkan kecurigaan dan perpecahan diantara umat. Kenapa tidak? Karena agama sudah dijadikan sebagai alat politik. Konsep inilah yang perlu kita hindari bersama. Oleh karena itu, perlu adanya niat baik dari semua pihak, baik panitia pelaksana, masyarakat maupun pemerintah untuk membangun komitmen dan konsisten, Tidak ada indikasi dan konspirasi lain selain mewujudkan persatuan dan kesatuan. 

       Untuk itu, Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan dan Kementrian Agama serta Koordinator-koordinator Majelis-majelis ta’lim memiliki peranan penting dalam kegiatan tersebut sehingga intimidasi dan intervensi partai politik tertentu bisa dihindari. Sesungguhnya masyarakat tidak ingin Tabligh Akbar yang suci dikotori oleh kepentingan-kepentingan politik praktis.

         Selaras dengan pernyataan di atas, acungan jempol kita selalu berikan kepada panitia pelaksana kegiatan tablik akbar di Kecamatan Kaubun yang dilaksanakan pada tanggal 15 April 2012. dan bertemakan “Tabligh Akbar  Majelis Ta’lim Se-Kecamatan Kaubun” dengan judul “Meniti Jalan Hidayah Menuju Hidup yang Mermakna dengan Mengetahui Berhala-Berhala Cinta”. Merupakan kegiatan yang sangat bagus dan memiliki nilai bargaining di mata masyarakat Kaubun lebih-lebih dimata bangsa dan negara. Untuk itu, masyarakat, pemerintah, perusahaan-perusahaan khususnya dan umumnya unsur-unsur terkait perlu mendukungnya, sehingga kegiatan tersebut tidak bersifat parsial dan kontemporer. Sangat perlu diadakan kegiatan lanjutan, tidak semestinya sekali dalam setahun tetapi bisa dilakukan juga dua kali dalam setahun, ini tergantung dari kemauan dan kesungguhan dari seluruh elemen masyarakat. 

         Berangkat dari kegiatan di atas, masalahnya adalah apakah kegiatan tersebut dibawah kendali partai politik tertentu? Sehingga tidak sedikit orang beranggapan bahwa itu merupakan kegiatan politik partai untuk mendapatkan dukungan. Kita tentunya, harus berpikir positif, tidak boleh "sok tahu". Dilihat dari efektivitas pelaksanaanya tidak ada unsur-unsur yang mencurigakan seperti tudingan kebanyakan orang. Semuanya berjalan lancar sesuai dengan tujuan bersama. Olehnya demikian, cara pandang kita yang keliru tersebut harus kita perbaiki, kita kedepankan azas-azas kebersamaan dan praduga tak mencurigai. Egoisme dan fanatisme partai harus kita hilangkan. Tidak ada untungnya bagi kita dan bangsa ini jika egoisme dan fanatisme partai dijunjung di atas kepentingan bersama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan. 
     
       Disi lain, majelis ta’lim harus sadar bahwa mereka adalah lembaga independen dan komit terhadap godaan-godaan dari luar. Baik godaan moril maupun materil oleh orang atau partai tertentu. Karena majelis ta’lim merupakan wadah untuk membenahi diri, membina diri, dan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT serta berorientasi dalam membangun persatuan dan kesatuan umat. 

        Melalui tulisan ini, penulis menawarkan tiga konsep yang perlu kita lakukan dalam upaya membangun persatuan dan kesatuan melalui Tabligh Akbar dalam komunitas majelis ta’lim di Kecamatan Kaubun. sehingga kecurigaan dan tudingan diantara kita dapat terhindarkan.  

       Pertama; kita semua harus sadar bahwa Tabligh akbar dalam komunitas majelis ta’lim di Kecamatan Kaubun lahir tidak ditunggangi dan menunggangi siapa pun. Majelis ta’lim lahir atas dasar kemauan yang luhur dari segenap unsur masyarakat, sehingga keberadaannya bukan milik siapa pun dan basis massa partai manapun. Majelis ta’lim adalah milik bangsa Kaubun seutuhnya.

     Kedua; bagi setiap partai politik harus sadar bahwa majelis ta’lim di Kecamatan Kaubun bukan komoditas atau barang politik yang dapat digiring ke partainya atau tindakan “busuk” lainya, melainkan komunitas yang perlu dibina dan didik dengan memberikan bantuan moril maupun materil dengan ikhlas tanpa mengharapkan balas jasa.

        Ketiga; setiap partai politik dengan bendera manapun, mempunyai hak untuk membantu komunitas majelis ta’lim di Kecamatan Kaubun. Kaitan dengan hal ini, komunitas majelis ta’lim harus menerima dengan ikhlas dan tulus bantuan tersebut dengan mengedepankan praduga tak mencurigai. 

     Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi pembaca khususnya diri pribadi penulis, dan jika ada kritikan dan saran perbaikan tulisan ini selalu diharapkan.
Semoga …




Jumat, April 13

DISIPLIN MAKIN HILANG




PAGI itu, aku berangkat kesekolah memakai motor Mega Pro, berwarna hitam  bermodif ala motor Tiger dan bersayap, mirip motor Vixion. Dengan memakai baju batik berwarna coklat berkotak-kotak. Celana yang kupakai pun berwarna hitam pekat, sepatu hitam serta memakai tas hitam. Penampilanku kali ini ala hitam layaknya orang yang lagi berduka cita.  
 Menuju ke sekolah tempatku mengajar, harus melewati Jalan berbatu, berdebu, dan berlobang. karena jalan tersebut belum diaspal. Jadi, butuh kesabaran dalam melaluinya. Entah kapan pemerintah berencana mengaspalnya, masyarakat sangat berharap akan hal itu.  Sekitar lima menit perjalanan aku pun sampai disekolah.
Sekolah tempatku mengajar adalah SMAN 1 Kaubun Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur.  sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah SMA Negeri di Kecamatan Kaubun.
Kecamatan kaubun merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten kutai Timur. Pososinya di pelosok, di atas gunung, dikelilingi pohon sawit, dan jauh dari kota Kota. Yang semula bergabung dengan Kecamatan Sangkulirang. Pada tahun 2005 lalu, melepaskan diri dari kecamatan sangkulirang alias mekar membentuk pemerintahan sendiri.
Sedangkan sekolah SMA itu, dulunya SMP 1 Kaliorang, dan setelah Kaubun mekar maka berubah nama menjadi SMP 1 Kaubun. Setalah beberapa tahun berjalan maka pada tahun 2005 diremikan menjadi SMAN 1 Kaubun.
Jumlah Dewan Guru di sekolah tersebut adalah tujuh belas orang. Dua orang pegawai Tata Usaha (TU), satu orang Penjaga Perpustakaan, satu lagi Satpam, dan satu lagi Tukang kebun. Sedangkan Jumlah siswa keseluruhan adalah seratus tujuh puluh lima orang siswa.  yang terdiri dari,  kelas sepuluh, enam puluh dua orang siswa. Kelas sebelas, berjumlah enam pulu orang siswa. Dan Selanjutnya, kelas dua belas berjumlah lima puluh tiga orang siswa. Sungguh jumlah siswa yang cukup sedikit jika dibandingkan dengan sekolah lain.   
Sesampainya aku disekolah, aku langsung menuju ruang guru. Rupanya yang sudah hadir duluan adalah tukang kebun, dia sedang sibuk menyapu ruangan guru. karena pekerjaan dia tidak hanya merawat dan menjaga bunga-bunga ditaman, tugas tambahan dia adalah membersihkan ruang guru setiap paginya.
Aku buka sepatu dan langsung masuk ruangan. Tidak lupa pula aku mengucapkan salam padanya.
“Selamat pagi Pak Komang.”
“Pagi juga Pak,” sambutnya lirih.
“Belum ada yang datang ya, guru-gurunya?” Tanya ku.
“Belum Pak,” jawabnya.
“Oh! kirain sudah masuk, Pak!” sahut ku lagi.
“Belum saya bell kan pak”. Jawabnya lagi.
“Ia, gak apa-apa!” sambutku.
Aku pun melewatinya untuk menuju tempat dudukku, tas yang ku bawa tadi ku letakkan di atas meja. aku duduk sejenak, lalu aku nengok jam dinding dibelakangku. Rupanya jarum pendek sudah menunjukan jam 7 dan jarum panjangnya mengarah ke angka 7. Angka tersebut menandakan bahwa jam masuk sekolah sudah lewat lima menit, berdasarkan kesepakan atau aturan bahwa jam masuk  sekolah jam 07:30. Beralih dari tengokan itu aku tidak langsung mencet bell masuk, aku tetap duduk memandang agak lepas. Lalu aku menekuk dahiku dengan tangan layak orang yang lagi pusing. Dahi itu, kuraba-raba, lalu pikiran pun melayang jauh tak karuan, bertanda bahwa aku merenung.
Aku pun merenung sesejenak, pikiranku terpusat pada teman-teman guru yang lain, yang belum muncul-muncul juga batang hidungnya. Sedangkan siswa dan siswi sudah lebih awal datang. Aku khawatir siswa dan siswi berontak, demo, atau sejenis tindakan lain yang menunjukan perlawanan. Karena kejadian semacam ini tidak hanya terjadi hari itu. Boleh dibilang sudah sering terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul merelungi kotak fikirku. Jam segini kok belum datang? Disiplinnya mana guru-guru ini? Gurukan sebagai contoh, kok malas, justru guru yang terlambat? Apakah mereka masa bodoh dengan profesionalisme keguruannya? Dasar, tidak bertanggungjawab. Apa kata dunia? Kalau seperti ini terus ngak bakalan maju-maju ini sekolah. 
Dalam beberapa menit aku larut dengan seputar pertanyaan-pertanyaan itu. Aku juga bingung kok pikiranku sejauh itu, sehingga aku pun berkaca. Apakah diriku sudah disiplin? Apakah diriku tidak seperti mereka? Mereka yang tidak disiplin itu. Tetapi keyakinan dan pendirianku kuat. Dan aku merasa bahwa apa yang ku lakukan suda sesuai aturan yang berlaku. Tetapi, guru lain menilai seperti apa, aku gak tahu.  
Sesaat kemudian tiba-tiba muncul lah Pak Handoko dan Pak Sujadi. Pak Handoko langsung menyapaku hingga aku kaget dari lamunan itu.
“Hay brow!” sahutnya.
“Hay juga,” jawabku.
“Sudah bel masuk ya?” tanyannya.
“Belum,” jawab ku.
“Kok, belum? Inikan sudah jam 07:45, sudah lewat lima belas menit brow”. sahutnya lagi dengan nada serius.
“Ia juga sih, sebenarnya dari tadi ingin saya mencet bell masuk, tapi, guru-gurunya belum ada. Siapa yang masuk ngajar, coba”? jawabku dengan nada serius pula.
“Ya sudah, kita bell masuk sekarang, brow” ajaknya.
“lanjut, brow,” jawabku.
Brow adalah sapaan akrab kami berdua, brow kami anggap sebagai bahasa yang dapat mempererat hubungan dan keakraban kami. Setiap bertemu kata brow selalu hadir duluan. Halo brow lah, lagi apa brow lah, mau kemana brow lah. Pokoknya kata brow selalu ada dalam kebersamaan kami.  
Pak Sujadi tidak Tanya apa-apa kepadaku, dia langsung menuju tempat duduknya sambil tersenyum.
Bell masuk pun Pak Handoko bunyikan, dan rupanya semua siswa masuk dalam ruangan kelas masing-masing, sembari menunggu guru yang mengajarinya hari itu. Menunggu rupanya pekerjaan yang membosankan, pekerjaan yang menjengkelkan bagi kebanyakan orang. Untuk mewarnai penantian itu, mereka hanya bermain-main, curhat, dan bahkan ada yang keluar masuk kelas tanpa ada tujuan yang jelas. Jika dipikir-pikir secara logis, apa yang dilakukan siswa tersebut tidak ada manfaatnya ketimbang pergi keperpustakaan belajar mandiri disana, atau belajar baca-baca buku di kelas. Karena saat ini, dituntut untuk menjadi siswa aktif artinya siswa harus mampu belajar mandiri. Entalah, itu hanya harapanku saja yang nimbrung sesaat, datang dan pergi begitu saja. Mungkin mereka tidak tahu tentang itu. Yang jelas, mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang guru untuk membimbing dan mengajarinya. Sosok seorang guru adalah malaikat bagi mereka.
Rupanya, yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya adalah Ibu Lina, nama lengkapnya Melina Putri, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu Melina adalah salah satu guru yang berkeluarga di kota . Status keguruannya sudah CPNS diangkat tahun 2010. Melina Putri adalah salah satu ibu guru yang sering ditunggu kedatangannya oleh siswa-siswa. Karena kebiasaan buruknya datang tidak tepat waktu kalau nggak sepuluh menit atau dua puluh menit sudah masuk baru dia nongol. 
Pak Handoko adalah guru Olah Raga, sedangkan Pak Sujadi adalah Guru Mata Pelajaran PKn, sedangkan aku sendiri guru pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia. Status aku dan Pak Sujadi Guru TK2D yang baru diangkat kemarin tahun 2011, sedangkan Pak Handoko masih honor sekolah.
Meskipun bell masuk sudah dibunyikan. Rupanya, kami bertiga menyempat diri untuk berdiskusi sejenak tentang guru-guru yang lain khususnya guru-guru yang CPNS berasal dari Sanggat.
          Aku pun membuka diskusi tersebut dengan kata memancing, berupa pertanyaan yang sederhana dan simpel.
“Kenapa ya Pak, kok ibu-ibu dari kota  acuh terhadap tugas dan tanggungjawabnya.? sudah datang terlambat, sering tidak masuk lagi. Mereka sebenar yang harus lebih aktif dari kita, mereka kan sudah CPNS ketimbang kita masih honor,” tanyaku dengan meyakinkan.
Lalu Pak Sujadi menyambung, “Sepertinya mereka masa bodoh terhadap tugas dan  tanggungjawabnya. Kebiasaan ini tidak sekali dua kali boleh dibilang sering”.
“Betul itu Pak, coba aku jadi Kepala Dinas atau Bupati sudah aku pecat dari dulu,” Pak Handoko menambahkan.
“Ya sudah Pak, ayo kita masuk kelas,” ajakku.
          Kami pun masuk kelas untuk mengajar.
Ibu guru yang menjadi bahan diskusi kami tadi rupanya suami dan anaknya bertempat tinggal di Kota . Setiap hari jumat dan sabtu ketiga ibu guru tersebut jarang ada meskipun ada jam mengajar pada hari itu. Yang saya tahu, tanpa ada alasan yang jelas mereka nyelonong begitu saja tanpa memperdulikan tugasnya. Tanpa alasan yang jelas. Setiap aku bercanda sama mereka alasannya sederhana saja, karena kangen dan rindu sama suami dan anak. Dengan pedenya mereka jawab seperti itu, tanpa ada beban sedikit pun atas tugas dan tangungjawab yang diembannya.
Jam pertama, aku masuk di ruang kelas sebelas IPA. Dengan penuh semangat aku menyapa murid-muridku.
“Assalamu’aikum,” sahutku.
“Waalikumsalam” mereka menjawab dengan sorak gembira. Aku langsung menuju kursi dan meja guru dipojok depan kelas, aku duduk dan menyuruh salah satu siswa untuk memimpin doa.
“Anak-anakku sekalian, mengawali pertemuan ini. Saya akan memberikan motivasi tentang kedisiplinan.  Disiplin dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah latihan kepekaan batin dan watak supaya menaati peraturan; kepatuhan pada aturan. Jadi, kaitanya dengan sekolah kita adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas guru dan siswa sudah diatur sedikian rupa. Hal ini sudah dibuat dalam bentuk aturan yang baku. Semua warga sekolah diharapkan untuk menaatinya tanpa terkecuali. Disiplin itu sangat penting untuk kita laksanakan, terutama disiplin waktu. Misalnya; datang tepat waktu. Oleh karena itu, marilah kita mengatur waktu dalam kehidupan sehari-hari  sehingga bermanfaat.”
“Okey! anak-anak siap untuk disiplin,” tanyaku.
“Siap,” jawab mereka dengan penuh semangat.
Sesaat kemudian tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangan. Aku pun bertanya kepadanya.
“Kenapa kau mengangkat tangan Nano.” Nama lengkapnya Nano Susanto, dan biasa disapa teman-temannya Nano, dia rupanya ketua OSIS. Dengan penuh semangat dia berdiri dan berkata.
“Mana mungkin kami bisa disiplin pak, guru-gurunya saja tidak disiplin, ini kan aneh, guru yang menyuruh disiplin justru guru yang tidak disiplin. Jadi, jangan salah kan kami, gurukan seharusnya menjadi contoh yang baik”. Tegasnya.
Aku pun bingung mau jawab apa, rupanya apa yang aku diskusikan sama teman-teman guru dikator tadi bukan lagi menjadi rahasia pribadi atau kelompok. Masalah ini sudah menjadi rahasia umum warga sekolah, siswa dan siswi pun tahu dan membicarakannya. Setelah Nano selesai berbicara menyampaikan tanggapannya, dengan tiba-tiba satu orang siswa berdiri lagi, sambil mengangkat tangat. Yang satu ini namanya Muh. Arung Awaluddin, biasa disapa oleh teman-temannya Awal. Dia juga merupakan anggota OSIS, teman seperjuangan Nano. Aku pun langsung meresponnya.
“Awal mau menanggapi?”
“Ia Pak,” jawabnya.
Akupun menyuruhnya untuk berbicara.
“Begini pak, saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Nano tadi, itu benar adanya. Tetapi, saya ingin tambahkan sedikit saja. Meskipun mereka hadir disekolah dan masuk dalam kelas, mereka hanya memberi tugas dan menyuruh untuk mencatat terus tanpa dijelaskan kemudian.  Dan hal ini sering kali terjadi. Jujur pak, kami merasa bosan dengan gaya atau cara mengajar guru seperti itu”. Pungkasnya tanpa basa-basi.  
Aku pun langsung mengambil alih pembicaraan, karena aku khawatir masalah ini berkelanjutan sehingga materi yang ingin aku ajarkan terlupakan.
“Baiklah kalau seperti itu, nah! tugas kita sekarang adalah membangun komunikasi antara guru dengan siswa. Kalian jangan tinggal diam terhadap masalah tersebut, karena kalian memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, sehingga disiplin ini, benar-benar ditegakkan baik oleh siswa maupun oleh guru.  Segera lakukan komunikasi yang intens dengan kepala sekolah, biar kepala sekolah menyelesaikannya,” tegasku.
Aku pun mengalihkan perhatian mereka ke materi pelajaran.
Selesai mengajar di kelas sebelas IPA tersebut, aku pun bergegas menuju ruang guru. Dari kejauhan tanpak sepatu hak tinggi berjejer di teras pintu kator. Ingatanku langsung tertuju pada ibu-ibu dari Kota   yang dijadikan objek kritikan Nano dan Awal tadi. Kataku dalam hati. Rupanya mereka sudah datang. Tapi, kok kenapa mereka ngak masuk ngajar ya? Tanyaku dalam hati pula.
Sesampaiku dikantor aku mengucapkan salam.
“Assalamu’alikum”.
Rupanya salamku gak ada yang menjawab, entah mereka jawab dalam hati atau nggak, hanya mereka dan Tuhan yang tahu, tetapi yang jelas aku nggak mendengar jawaban dari salamku tadi. Aku pun bergegas menuju kursi tempatku, karena tempat dudukku melewati meja mereka, aku melewatinya. Aku pun duduk dan ku arahkan mata ke mereka, mejaku dengan meja mereka saling berhadapan rupanya mereka lagi asyik bermain leptop, entah ada yang diketik atau otak-atik. Mereka masing-masing melotot leptop di depannya dengan serius dan sambil menggelengkan kepala.
Beberapa menit aku duduk. Datanglah Ibu Sinagar dengan membawa sejumlah uang. Rupannya hari itu mereka gajian untuk yang CPNS sedangkan yang honor sabar dulu, tunggu tiga bulan kalau nggak enam bulan.
Aku pun pura-pura membuka-buka buku layaknya orang membaca, tetapi pendengaran dan perasaanku memperhatikan tingkah mereka.
Satu persatu Ibu Sinagar mendekatinya untuk serah terima gaji bulan April 2012. Tiba lah giliran Ibu Melina, salah satu Ibu dari Kota  yang manjadi sorotan siswa-siswi tadi.
Dengan nada tinggi ia bertanya kepada Ibu Sinagar sebagai bendahara Gaji.
“Kok kurang lima ribu bu?” tanyanya.
“Ia bu, karena dipotong uang transportasi untuk bendahara gaji”. Jawabnya dengan penuh meyakinkan.
“Kalau sering dipotong juga kan bisa TEKOR kita bu” sambungnya dengan nada tinggi, muka masam.
“Tapi dipotong per tiga bulan ja kan bu?” tanggap bendahara.
“Meskipun begitu, tetap aja kami TEKOR” jawabnya kembali.
Tanpa menghiraukannya lagi, bendahara gaji pun bergegas pergi dengan muka masam, sejuta kebencian. Melihat gerak-geriknya bubuhan dari kota  juga tidak konek dengan bendahara gaji, entah masalah apa aku tidak tahu. Jarang juga bahkan aku tidak pernah lihat mereka berkomunikasi urusan yang lain selain urusan duit.
Mendengar percakapan mereka tadi, negatife thingking pun merasuki pikiranku, dalam menilai ketiga ibu guru tersebut. Urusan uang nomor satu, lima ribu rupiah untuk sumbangan  dipermasalahkan, apalagi lebih dari itu. Sedangkan, tugas dan tanggungjawab nomor terakhir. Sudah malas, sering datang terlambat, jarang masuk dan tidak bertanggungjawab lagi. Ternyata mereka hanya mengharapka gaji, disiplin, kebersamaan  dan sikap  profesionalisme diabaikan. Tidak seperti layakya aku dengan guru honor lain yang berasal dari desa yang selalu berkomunikasi, curhat, makan bareng, setiap harinya. Mereka dari kota cenderung menghindar, berpikir negatif, acuh, egois. Nyatanya setiap acara disekolah mereka tidak pernah hadir dan ada. Misalnya; acara keagamaan, kegitan OSIS, dll. Justru kesempatan bagi mereka untuk pulang ke kota, bersenang-senang dengan suami dan anaknya.
Sekian menit aku larut dalam negatife thingking itu. Aku pun memutar kembali otak untuk menyadarkan diri, rupanya aku sudah terlalu jauh berpikir negatif tentang mereka. Tetapi mana yang harusku percaya perasaanku atau kenyataan yang terjadi? Yang terjadikan benar demikian, bukan saja yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, orang lain, guru-guru lain, siswa dan siswipun menilainya seperti apa yangku pikirkan. Ya! Benar adanya. pikiran negatifku tadi alias negatif tinghing itu.
Lamunan panjang itu, mengarahkan aku pada sebuah kesimpulan bahwa disiplin keguruan yang kita emban sebagai guru makin hari makin hilang. Menegakkan kedispilinan yang menjadi misi guru hanya dijadikan sebagai slogan, clote belaka, tanpa makna. Kenyataannya guru sendiri yang tidak disiplin. Sederhana saja kita berpikir. Gurukan sebagai contoh dan tauladan siswa-siswinya, seharusnya gurulah yang terdepan dan terdisiplin. Sehingga bisa dijadikan contoh.
Jiwaku menganga, kedirianku meronta. Bukan sifatku yang diam ketika melihat keburukan di depan mataku. Keinginan pun hadir untuk menyapa.  
Hatiku berkata, tidak!, Tidak! Hal ini tidak boleh aku biarkan berlarut-larut. Tindakan, kebiasaan, dan masa bodoh meraka terhadap tanggungjawabnya. Tindakan ini dapat mencoreng nama baik guru dimata siswa dan siswi lebih-lebih dimasyarakat, bangsa dan Negara. Aku tidak boleh tinggal diam, membiarkan begitu saja pembusukan itu. Aku harus melaporkannya kepada atasanku, kepala sekolah mungkin bisa menasehatinya. Tidak boleh tidak, aku harus komunikasikan masalah ini. Mungkin kepala sekolah bisa memberikan masukan sehingga mereka sadar bahwa tindakannya telah mencoreng profesionalisme keguruan.
***


  


Rabu, April 11

MENAIKKAN ATAU MENEMPUH JALAN LAIN?



Rencana kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga BBM menjadi topik utama dan menarik untuk diperbincangkan akhir-akhir ini. pertarungan pendapat berbagai kalangan seperti; pemerintah, DPR, praktisi, ekonom, mahasiswa dan masyarakat tak terbendung. pro dan kontra selalu didengungkan oleh masing-masing kalangan. Ada yang mengatakan langkah menaikan harga BBM bersubsidi adalah langkah cerdas sehingga menjamin kestabilan perekonomian bangsa dan kematangan fisikal negara. Disisi lain, menegaskan langkah kenaikan harga BBM bersubsidi membuat perekonomian negara tidak stabil dan menambah jumlah kemiskinan. Disamping itu, dapat meningkatkan inflasi. dari pertarungan pendapat di atas, muncul pertanyaan. Pendapat yang mana yang harus dipercaya?.  

Permerintah dalam hal ini, menegaskan bahwa naiknya harga BBM bersubsidi karena kenaikan harga minyak dunia yang berpengaruh pada lemahnya fisikal indonesia. disamping itu, berpengaruh juga pada APBN. dengan demikian mau tidak mau pemerintah harus menaikan harga BBM. jika, hal ini menjadi alasan pemerintah. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tidak ada cara lain yang harus ditempuh oleh pemerintah?  tidak semistinya menaikan harga BBM bersubsidi, sedangkan kita tahu bahwa BBM merupakan hajat hidup orang banyak yang tentu saja dikelola oleh negara tanpa tanpa diombang ambing oleh harga harga minyak dunia. hemat penulis masih banyak cara lain yang dapat diambil oleh pemerintah yang tidak berdampak pada  keresahan masyarakat. misalnya; mengurangi belanja birokrasi. kita semua juga tahu bahwa belanja birokrasi lebih kurang 60% dari APBN.  

Kembali kerencana kebijakan di atas. Penulis mengajak masyarakat untuk memberikan acungan jempol kepada pemerintah atas niat baiknya tersebut. Pemerintah rupanya respek terhadap masalah bangsa dan negara tidak seperti apa yang dibicarakan kebanyakan orang. Tetapi masalahnya kemudian adalah pemerintah harus menempuh jalan lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. jika pemerintah menempuh cara ini maka akan menambah kesengsaraan rakyat, rakyat hari ini sedang sengsara, toh kenapa harus disengsarakan lagi. harga Rp. 4500,- saja sudah setengah mati, apa lagi Rp. 6000,- seperti apa jadinya nanti? harga tersebut harga yang dijual di SPBU. jika dibandingkan dengan harga jual eceran mencapai angka Rp. 9000,-10000,- dan harga itu apabila BBM stoknya banyak. tetapi, jika langka harganya diatas itu. 

Berbicara lagi tentang BLT (bantuan langsung tunai) sebagai langkah antisipasi atau membantu rakyat miskin untuk mencegah efek kenaikan tersebut, penulis menilai ini bukan langkah cerdas, karena bantuan tersebut tidak mampu membendung kebutuhan rakyat itu, apalagi efek dari kenaikan itu pasti semua harga barang akan ikut naik. masih rencana saja sudah naik, apalagi sudah diberlakukan. Disamping itu, BLT juga merupakan pemborosan anggaran dan sarang korupsi pejabat serta suber konflik sosial. 

Jadi, rakyat sangat berharap agar pemerintah mengurung niatnya untuk menaikan harga BBM agar masyarakat tidak tambah sengsara. masih banyak cara lain yang dilakukan oleh pemerintah yang tidak meyengsarakan rakyat. 
SEMOGA... 

DPR KHIANATI RAKYAT



Sebagai pengantar tulisan ini, penulis mengutip perkataan salah satu anggota DPR pada saat acara "diskusi sarasehan anak negeri" di metro tv pada hari yang lalu. lebih kurang beliau menegaskan "wallahualam, bahwa DPR merupakan mitra pemerintah, yang datang, duduk, terima gaji kemudian digiring oleh partainya untuk menyetejui kebijakan tertentu". perkataan ini muncul ketika ditanya apakah DPR mampu memperjuangkan kepetingan rakyat?

Berdasarkan pernyataan di atas, penulis berkesimpulan bahwa dewan perwakilan rakyat (DPR) sebagai wakil rakyat telah mengalami kecelakaan intelektual dan kecelakaan politik. kecelakaan intual yang dimaksud adalah DPR tidak lagi mengedepankan tugas dan tanggungjabnya sesuai dengan amanat konstitusi sebagaina mereka pamahami dan ketahui adanya. sedangkan kecelakaan politiknya adalah DPR mengingkari sumpah dan janjinya kepada rakyat pada saat mereka berkampanye, pada saat mereka berkampanye janji-janji manis dikumandankan. masalahnya kemudian jika sikap DPR seperti itu adanya, kepada siapa lagi rakyat menggantungkan harapan?

"Aneh tapi nyata" ituh ungkapan yang ditujukan kepada lembaga yang terhormat itu, orang-orang yang sejatinya sebagai wakil rakyat itu. kenapa tidak, janji-janji manis yang mereka pernah lontarkan telah diingkari hari ini, buktinya tidak sedikit anggota DRP yang setuju dengan kenaikan harga BBM, pada hal rata-rata rakyat menolak kenaikan tersebut. ini menunjukan bahwa DPR tidak lagi memperhatiakan nasib rakyatnya, DPR hari ini hanya mementingkan individu, kompok, dan golongan. disamping itu yang paling mereka pentingkan adalah kepentingkan partainya.

Rupanya kita sebagai rakyat tidak punya lagi tempat untuk menaru harapan, semua pemimpin dan penguasa serta DPR tidak lagi pro rakyat. yang lebeh menyedihkan lagi adalah DPR sebagai wakil rakyat telah menghianati rakyatnya. lantas, "demokrasi" yang menjadi sistem kenegaraan kita dimana kiblatnya?

Jika kita kembali kepada hakikat demokrasi sesungguhnya adalah "dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat" maka, mau tidak mau dan suka tidak suka segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah harus pro rakyat. artinya jika kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM bersubsidi hari ini tidak mendapatkan persetujuan rakyat alias "rakyat menolak" kenapa harus diketok atau diberlakukan. Untuk itu, pemerintah dan DPR harus memutar otak dan dengan cerdas mencari solusi lain. 

Rupanya eksistensi DPR yang kita junjung selama ini telah bergeser dari makna yang sesungguhnya. tentu penulis sebagai generasi pelurus bangsa sekaligus rakyat merasa sedih dengan keadaan bangsa dan negara kita hari ini, karena penulis cinta terhadap bangsa ini, sayang terhadap negeri ini, dan bangga terhadap demokrasi yang kita emban. 

Mudah-mudahan pembaca juga merasakan apa yang penulis rasa, dan mari kita sama-sama berdoa mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa menunjukan jalan yang benar kepada pemimpin-pemimpin kita khususnya DPR sebagai wakil rakyat, sehingga apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya dilaksanakan dengan baik.
SEMOGA...

"SUDAHLAH"



sudah lah... Subroto!!!
 lupakan lah semua
 masa silam yang kelabu
 yang lalu biar berlalu
 yang lalu adalah sejarah
 biarkanlah duka itu musnah oleh masa
 biarkanlah lara itu karat oleh jaman

 sudah lah ... Subroto!!!
 cerdaskan pikiranmu
 tenangkan jiwamu
 hadapi zaman sekarang
 yang sekarang adalah kenyataan
 siapkan senjata tuk menembak
 siapkan benteng tuk bertahan
 siapkan tameng tuk menangkis
 sekarang adalah perang yang maha dasyat
 kegagalan masa silam adalah penyakit
 sekarang jangan sampai terulang lagi

 sudah lah... Subroto!!!
 jangan jadikan lara itu hambatan
 tak perlu dipikirkan lagi
 hari ini kamu bangkit
 dari kumpulan orang bandit
 Allah tidak buta
 melihat hamba menyapa

JIKA


Jika sampai waktunya ...
jiwaku kan menganga
kebernianku kan menyapa
kedirianku kan membara

Jika sampai waktunya... 
aku datang dengan cinta
membelaimu dengan kasih
menyapamu dengan sayang

Jika sampai waktunya...
aku meminangmu dengan basmallah
melayanimu dengan sukurillah
menemanimu dengan hamdallah

Jika sampai waktunya...
rasa ini akan bercampur rasa
jiwa ini akan melebur 
raga ini akan menyatu
dalam bingkai seribu rasa 

Jika sampai waktunya...
dunia ini milik kita 
dalam keluarga sejahtera
sampai rambut berubun
hingga ajal menjemput

DEMONSTRASI YANG BERMAKNA

AKSI massa atau gelombang demonstrasi akhir-akhir ini semakin meninggi dan tak terbendung, sampai-sampai pihak keamanan dalam hal ini kepolisian kewalahan mengatur dan mengontrolnya. satu hal yang menarik menjadi perhatian kita semua adalah gelombang demonstrasi tersebut pasti berakhir dengan bentrok atau ricuh antara pendemo dengan pihak kepolisian, sehingga polisi memfonis pendemo yang bertindak anarkis, dan sebaliknya pendemo menuduh polisi yang bertidak represif, sehingga kedua elemen ini saling menyalahkan. dengan demikian penulis menilai kejadian semacam itu sudah menjadi kultur atau budaya demonstrasi di bangsa ini.


 Harus diakui bahwa demontrasi sudah merupakan hak bagi setiap warga negara. aktor demonstrasi bisa mahasiswa, kaum buru, permpuan, petani dan nelayan. pelaksanaannya bisa bisa dilakukan baik perorangan maupun dalam bentuk kelompok untuk menyampaikan aspirasi dan keinginannya, hal ini pula, sudah diatur dalam konsitutis sebagai wujud dari negara demokrasi. tetapi dilakukan dengan cara yang baik dan sopan serta tidak melakukan tindakan anarkis (merusak).


 Kembali ke gelombang demontrasi di atas. terjadinya aksi massa akhir-akhir ini adalah sebagai wujud penolakan atas rencana kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM bersubsidi dari Rp. 4500 menjadi Rp 6000 per liter. jadi, ada kenaikan harga Rp. 1500 dari harga sebelumnya. Massa aksi menuntut pemerintah mengurung niatnya tersebut alias harga BBM tidak perlu dinaikan, dengan alasan kebijakan tersebut menyengsarakan rakyat yang hari ini, rakyat sedang sedang dalam keadaan sengsara. disamping itu pula, pemerintah masih memiliki cara lain untuk menjaga fisikal dan RAPBN agar tidak jebol. tentunya cara lain tersebut tidak menzalimi dan meresahkan rakyat.


Nah, masalahnya kemudian adalah apakah tuntutan penolakan tersebut dipenuhi atau tidak oleh pemerintah? hemat penulis untuk mengetahui jabawan dari pertayaan itu, ada dua hal yang harus dilakukan oleh massa aksi demonstrasi. yang pertma perlu adanya kesatuan massa aksi, dalam hal ini koalisi demonstrasi, atau kolaisi massa yang mengarah pada satu komando dan satu tujuan. kenapa langkah ini perlu dilkukan. karena penulis melihat gelombang demonstarasi yang digelar akhir-akhir ini, biasanya berkotak-kotak, berkelompok-kelompok dan tidak bersifat permanen atau kontinu, hanya bersifat parsial dan temporer. harus diinngat bahwa kekuatan demostrasi harus diukur dari jumlah massanya. untuk itu, formasi demostrasi yang digelar harus merupakan gabungan dari berbagi elemen yang ada misalnya; mahasiswa, kaum buru, petani, nelayan, dll. yang kedua sasaran tembak atau lembaga yang dituju untuk menyampaikan tuntutan. dalam hal ini harus tepat sasaran misalnya; mengarahkan semua massa demonstarasi menuju gedung DPR atau gedung prsiden. paling tidak menduduki kantor tersebut, kenapa tidak. wong, DPR kok wakil kita, seharusnya mereka memperjuangkan nasib rakyatnya. kenapa hal ini dilakukan karena penulis melihat gelombang demontrasi yang digelar hari ini cenderung berkoar-koar dijalan dan hal ini kontras dengan subjek yang dituntut. sehingga yang memperhatikan hanyalah media massa tertentu.


 Jika kedua substansi di atas dilakukan, serta dijadikan sebagai panduan gerakan aksi massa, maka tidak menutup kemungkinan tuntutan yang kita suarakan akan dipenuhi oleh penguasa. sehingga kenaikan BBM bersubsidi yang mengacaukan sendi-sendi kehidupan rakyat hari ini tidak terjadi. Rakyat nyaman, penguasa tenang, dan bangsa aman.
SEMOGA... 

GTK SE-KECAMATAN KAUBUN PERKOH IMAN DEMI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MAJELIS ADZ-DZIKRA

KAUBUN – Rabu, 22 Juli 2026, Majelis Taklim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) se-Kecamatan Kaubun kembali digelar, sebagai sarana memperku...