Minggu, Agustus 25

MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER

Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) selalu menghadirkan dua sisi emosional yang sangat kontras. Di satu sisi, hampir sebagian besar pelajar yang mendapatkan kelulusan terutama di kota besar merayakannya dengan sukaria dan hura-hura berlebihan. Mulai konvoi kendaraan beramai-ramai hingga mencoret-coret baju seragam.

DI lain pihak, para pelajar yang tidak lulus menangis sejadi-jadinya, hingga tak jarang kita dapatkan berita percobaan bunuh diri karena frustrasi. Dua sisi perilaku pelajar kita seperti ini sangat disayangkan. Dunia pendidikan seharusnya jauh dari bingkai kejadian seperti di atas. Semestinya pendidikan mampu menciptakan karakter pelajar dengan pemikiran logis dan mampu membentuk insan-insan terdidik dengan emosi cerdas.

Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dengan jelas disebutkan sebuah alasan dibentuknya sebuah pemerintahan negara Indonesia yaitu "Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cerdas itu bermakna sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan lainnya); tajam pikiran. Di sini jelas, ada dua elemen yang disebutkan yaitu akal dan budi.

Akal tentu merujuk pada hal intelektualitas. Sedangkan budi merujuk perilaku, moral, dan karakter. Bahkan terkait pendidikan ini, amandemen keempat UUD 1945 lebih spesifik menjelaskan dalam bab 13 pasal 31 ayat 3: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang".

Sangat jelas cita-cita dan semangat UUD atas pendidikan kita. Yakni bukan sekadar pembentukan intelektualitas semata. Tapi juga budi pekerti luhur-akhlak mulia. Namun dalam taraf pelaksanaannya ada yang salah. Sehingga, pendidikan kita kehilangan orientasi yang seharusnya. Tetapi hanya sebatas output hasil semata berupa angka-angka.

Orientasi yang salah inilah menjadikan bangsa kita tidak kunjung bangkit dari keterpurukan permasalahan. Penyakit akut kemiskinan dan korupsi terus menggelayuti masa depan bangsa kita. Sebab, pendidikan kita terjebak dalam orientasi pragmatis sehingga tergiur untuk mencapai tujuan dengan cara-cara praktis.

Kecerdasan intelektual diraih namun mental para anak bangsa kering dan hampa tanpa karakter. Erie Sudewo dalam bukunya Character Building (2011) secara gamblang menggambarkan betapa pentingnya elemen karakter. Ia menyatakan "Tanpa karakter, manusia pun bisa unggul dengan kapasitas dan kapabilitasnya. Namun semakin dia cerdas, semakin tinggi kedudukannya, dan semakin kaya, maka semakin jahatlah dirinya. Sebab orang yang unggul tanpa karakter, yang muncul adalah tabiatnya. Sifat-sifat buruknya sebagai perilaku sehari-hari".

Selama ini sekolah formal semacam SMP dan SMA selalu menjadi tujuan utama orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sedangkan sekolah-sekolah nonformal semacam asrama dan pondok pesantren selalu menjadi pilihan terakhir. Dengan alasan-alasan yang cukup lumrah dan manusiawi, pondok pesantren mendapatkan predikat sebagai sebuah lembaga pendidikan yang kolot, kumuh, dan jauh dari kemajuan jaman.

Ada berbagai kelebihan dan kekurangan yang masing-masing dimiliki oleh sekolah nonformal dan pondok pesantren. Sekolah formal cenderung menghasilkan lulusan-lulusan yang melek terhadap dunia luar dan memiliki output intelektualitas yang lebih, namun cenderung hampa karakter.

Sebaliknya, alumni pondok pesantren cenderung memiliki karakter yang kuat, namun gagap terhadap perkembangan dunia luar, dan kemampuan intelektualitasnya di bawah sekolah formal. Dan, kenyataannya adalah selama ini sekolah formal tidak mampu mengemban tugas untuk memberikan kebutuhan pendidikan karakter kepada para pelajar.

Mata pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan pun semakin tahun kian berkurang porsinya. Hal yang semakin membuat miris adalah selain asupan mata pelajaran tersebut semakin sedikit, para pendidik pun tak mampu menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap interaksi nyata terutama pada pertemuan-pertemuannya di kelas.

Setiap pertemuan di kelas para guru cenderung hanya sekadar menunaikan kewajiban menyampaikan materi dan abai terhadap nilai. Setelah selesai menyampaikan mata pelajaran, maka interaksi antara guru dan murid pun berakhir sampai saat itu juga. Proses pembangunan emosional antara guru-murid nyaris tak ada. Padahal proses pembentukan emosional dan pembentukan karakter hanya bisa dilakukan melalui interaksi masif yang bukan sekadar basa-basi. Hal inilah yang justru ada di dunia pondok pesantren.

Perkara teknis pengimplementasian amanat UUD inilah yang seharusnya ditekankan oleh pemerintah terutama Kementerian Pendidikan. Pemerintah harus mampu menggabungkan metode pembelajaran antara pendidikan nonformal pondok pesantren dengan pendidikan formal modern.

Sehingga, pendidikan kita tidak hanya sekadar penanaman intelektualitas semata. Tetapi juga penanaman karakter. Dengan begitu, kenakalan-kenakalan pelajar bisa segera terhapus dan tumbuhlah pelajar-pelajar yang cerdas nan santun.

SUMBER: http://www.beritaterhangat.net/2012/10/contoh-artikel-pendidikan-berkarakter.html

MENEMUKAN IDE POKOK DAN PERMASALAHAN DALAM ARTIKEL MELALUI KEGIATAN MEMBACA INTENSIF

Membaca adalah salah satu jenis keterampilan berbahasa dan juga suatu proses yang kompleks dan rumit. Membaca yang kompleks dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu tergantung dari SDM atau diri individu sedangkan faktor eksternal yaitu berasal dari motivasi luar dan keduanya baik internal eksternal saling berkaitan. Faktor internal dan faktor eksternal bertujuan untuk memetik dan memahami arti makna yang ada dalam tulisan. Tujuan membaca adalah dapat memahami isi yang terkandung dalam bacaan, dapat menemukan ide pokok dalam suatu bacaan, dapat mengetahui permasalahan yang ada dalam bacaan dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan serta dapat membandingkan isi dari bacaan yang telah dibaca.
Membaca dapat diartikan sebagai proses dari alat indera yaitu mata dan mulut serta pikiran yang berproses mengartikan dan mengolah makna yang terkandung dalam tulisan atau bacaan. Kita sering membaca bermacam-macam tulisan diantaranya dengan membaca artikel. Artikel merupakan salah satu sumber informasi. Memuat hal-hal aktual yang sedang dibicarakan dan menampilkan solusi terhadap persoalan tersebut.
Artikel menurut Kamus Besar Indonesia adalah karya tulis lengkap misalnya laporan, , berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya. Artikel terdiri dari gagasan-gagasan yang tertuang ke dalam bentuk kalimat pada masing-masing paragraf. Gagasan inilah yang disebut dengan ide pokok penulisan. Biasanya kita sulit menentukan ide pokok dan permasalahan yang terdapat dalam artikel karena disebabkan kurangnya daya pemahaman dan memaknai isi dari suatu bacaan dan kurangnya pengetahuan ataupun teknik dalam menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel. Kita dapat menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel dengan membaca intensif, sehingga kita dengan cepat menemukan ide pokok yang terdapat dalam artkel.
Membaca intensif merupakan suatu kegiatan membaca secara teliti dengan tujuan memahami keseluruhan isi bacaan, baik yang bersifat tersurat maupun tersirat. Dengan membaca intensif kita dapat dengan mudah menentukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel. Ide pokok yang terdapat dalam artikel atau bacaan biasanya terdapat di awal kalimat (kalimat deduktif) , diakhir kalimat ( kalimat induktif) dan di tengah kalimat serta terdapat diawal dan akhir kalimat (campuran). Dengan demikian membaca intensif dapat mempermudah para pembaca ataupun pelajar dalam menemukan ide pokok dan permasalahan yang terdapat dalam artikel ataupun bacaan lainnya.

· Membaca Intensif
Membaca intensif merupakan suatu kegiatan membaca secara teliti dengan tujuan memahami keseluruhan isi bacaan, baik yang bersifat tersurat maupun tersirat. Tujuan membaca intensif yaitu dapat dengan mudah menemukan ide pokok dan permasalahan yang dikaji dalam artikel atau suatu bacaan. Biasanya kita sulit menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel karena kurangnya pemahaman dan memaknai isi artikel atau suatu bacaan serta kurangnya pengetahuan tentang cara menemukan ide pokok dalam artikel. Untuk itu kita menggunakan cara membaca intensif dalam menemukan ide pokok maupun permasalahan yang dikaji dalam artikel maupun dari bacaan lainnya.

A. Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan dalam Artikel

Didalam menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel ada beberapa letak yaitu terdapat di awal kalimat (deduktif), di akhir kalimat(induksi), di tengah kalimat dan di awal dan di akhir kalimat (campuran). Cara menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel yaitu bacalah artikel kemudian temukan ide pokoknya, biasanya ide pokoknya dijumpai di awal kalimat, di akhir kalimat dan di tengah kalimat serta di awal dan akhir kalimat, bila perlu kalimat-kalimat penjelas atau gagasan pendukungnya diabaikan. Setelah menemukan ide pokoknya dari masing-masing paragraf, rangkaikanlah dengan kalimat yang sederhana dan efektif untuk menjadikannya ke dalam satu kesatuan pikiran. Dengan demikian, pokok pesoalan atau permasalahan yang dibahas dalam artikel menjadi jelas. Menemukan ide pokok terdapat beberapa pola yaitu terbagi atas dua pola yakni:
B. Pola Pengembangan Paragraf Secara Induksi
Pola pengembangan paragraf secara induksi yaitu pola pengembangan ide pokok atau gagasan-gagasan yang terdapat di akhir kalimat. Pola pengembangan paragraf secara induksi terdiri dari generalisasi, analogi dan sebab-akibat. Generalisasi adalah proses penalaran menggunakan beberapa pernyataan khusus dengan ciri-ciri tertentu untuk ditarik simpulan yang bersifat umum. Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dua hal (atau lebih) yang memiliki sifat atau keadaan yang sama agar dapat ditarik simpulan yang sejalan. Sedangkan sebab-akibat adalah penyebab dari suatu masalah menuju akibat dari masalah tersebut.
C. Pola Pengembangan Paragraf Secara Deduktif
Pola pengembangan paragraf secara deduktif yaitu pola pengembangan ide pokok atau gagasan-gagasan yang terdapat diawal kalimat. Pengembangan secara deduktif terdiri dari silogisme dan entimem. Silogisme adalah sebuah cara menarik simpulan (konklusi) berdasarkan premis yang ada. Premis adalah pernyataan yang dianggap atau diamsusikan benar. Sedangkan entimem adalah silogisme yang diperpendek atau dipersingkat. Caranya dengan melesapkan unsur PU (premis umum)..

Menulis Surat Lamaran Pekerjaan Berdasarkan Unsur- Unsur
dan Struktur yang Benar

Untuk mendapatkan suatu pekerjaan di kantor atau instansi, kita harus mengajukan permintaan atau permohonan ke bagian kepegawaian. Permohonan itu tidak disampaikan secara lisan, tetapi secara tertulis dalam bentuk suatu surat lamaran. Surat lamaran kerja harus disusun dengan sebaik – baiknya karena surat lamaran merupakan perwakilan dari diri sipelamar. Jika dibuat dengan cara dan bahasa yang asal – asalan, ada kemungkinana untuk ditolak dan peluang untuk memperoleh pekerjaan menjadi hilang. Cara menulis surat lamaran pekerjaan harus memenuhi syarat – syarat tertentu:
1. Bentuk surat harus meliputi :
- Kepala surat
- Tanggal penulisan surat atau titimangsa
- Salam pembuka
- Pembuka surat
- Tujuan surat lamaran pekerjaan
- Mencantumkan identitas atau jati diri
- Memenuhi persyaratan yang ditentukan
- Penutup surat
- Tanda tangan dan nama jelas

2. Bahasa surat harus memperhatikan:
- Menggunakan bahasa yang sopan dan simpatik
- Menggunakan kalimat yang efektif dan komunikatif
- Menggunakan bahasa yang baku dengan menggunakan ejaan yang tepat dan benar
- Tulisan harus rapi dan jelas

Di atas telah dijelaskan bahwa surat lamaran pekerjaan harus dibuat sesuai dengan svarat-syarat yang telah ditentukan agar dapat dibuat secara tepat dan sesuai dengan tujuan Agar Anda dapat membuat surat lamaran pekerjaan vang tepat, maka harus mengetahui kesalahan dan kekurangam sebuah surat lamaran pekerjaan. Di bawah ini disajikan sebuah surat lamaran yang masih mengandung kesalahan dan kekurangan. coba Anda analisis apa kesalah dan kekurangan surat lamaran pekerjaan tersebut.
Aktivitas Kelas
1. Telitilah surat lamaran pekerjaan berikut dari aspek:
a. Strukturnya
b. Bahasa
c. Isi atau tujuannya

MENULIS RESENSI BUKU PENGETAHUAN BERDASARKAN
FORMAT BAKU
secara etimologis, kata resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Kedua kata tersebut berarti melihat kembali, menimbang, atau menilai. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Berbagai istilah tersebut mengacu kepada hal yang sama yaitu mengulas sebuah buku. Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan resensi sebagai ”Pertim-bangan atau pembicaraan buku, ulasan buku”Gorys Keraf mendefinisikan resensi sebagai ”Suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku” (Keraf, 2001 : 274). Dari pengertian tersebut muncul istilah lain dari kata resensi yaitu kata pertimbangan buku, pembicaraan buku, dan ulasan buku. Intinya membahas tentang isi sebuah buku baik berupa fiksi maupun nonfiksi. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut penulis menyimpulkan bahwa resensi adalah tulisan ilmiah yang membahas isi sebuah buku, kelemahan, dan keunggulannya untuk diberitahukan kepada masyarakat pembaca.
Sistematika Resensi
Sistematika resensi atau bagian-bagian resensi dikenal juga dengan istilah unsur resensi. Unsur yang membangun sebuah resensi menurut Samad (1997 : 7-8) adalah sebagai berikut: (1) judul resensi; (2) data buku; (3) pembukaan; (4) tubuh resensi; dan (5) penutup. Penjelasan tentang bagian-bagian tersebut penulis kemukakan berikut ini.
a) Judul Resensi
Judul resensi harus menggambarkan isi resensi. Penulisan judul resensi harus jelas, singkat, dan tidak menimbulkan kesalahan penafsiran. Judul resensi juga harus menarik sehingga menimbulkan minat membaca bagi calon pembaca. Sebab awal keinginan membaca seseorang didahului dengan melihat judul tulisan. Jika judulnya menarik maka orang akan membaca tulisannya. Sebaliknya, jika judul tidak menarik maka tidak akan dibaca. Namun perlu diingat bahwa judul yang menarik pun harus sesuai dengan isinya. Artinya, jangan sampai hanya menulis judulnya saja yang menarik, sedangkan isi tulisannya tidak sesuai, maka tentu saja hal ini akan mengecewakan pembaca.
b) Data Buku
Secara umum ada dua cara penulisan data buku yang biasa ditemukan dalam penulisan resensi di media cetak antara lain:
a. Judul buku, pengarang (editor, penyunting, penerjemah, atau kata pengantar), penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan harga buku.
b. Pengarang (editor, penyunting, penerjemah, atau kata pengantar, penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan harga buku.
c) Pendahuluan
Bagian pendahuluan dapat dimulai dengan memaparkan tentang pengarang buku, seperti namanya, atau prestasinya. Ada juga resensi novel yang pada bagian pendahuluan ini memperkenalkan secara garis besar apa isi buku novel tersebut. Dapat pula diberikan berupa sinopsis novel tersebut.


d) Tubuh Resensi
Pada bagian tubuh resensi ini penulis resensi (peresensi) boleh mengawali dengan sinopsis novel. Biasanya yang dikemukakan pokok isi novel secara ringkas. Tujuan penulisan sinopsis pada bagian ini adalah untuk memberi gambaran secara global tentang apa yang ingin disampaikan dalam tubuh resensi. Jika sinopsisnya telah diperkenalkan peresensi selanjutnya mengemukakan kelebihan dan kekurangan isi novel tersebut ditinjau dari berbagai sudut pandang—tergantung kepada kepekaan peresensi.
e) Penutup
Bagian akhir resensi biasanya diakhiri dengan sasaran yang dituju oleh buku itu. Kemudian diberikan penjelasan juga apakah memang buku itu cocok dibaca oleh sasaran yang ingin dituju oleh pengarang atau tidak. Berikan pula alasan-alasan yang logis.
Bagaimana Meresensi Buku Novel?
Untuk meresensi novel terlebih dahulu kita harus memahami unsur-unsur pembangun novel. Unsur pembangun novel tersebut antara lain sebagai berikut: latar, perwatakan, cerita, alur, dan tema. Latar biasanya mencakup lingkungan geografis, dimana cerita tersebut berlangsung. Latar juga dapat dikaitkan dengan segi sosial, sejarah, bahkan lingkungan politik dan waktu. Perwatakan artinya gambaran perilaku tokoh yang terdapat dalam novel. Pembaca harus dapat menafsirkan perwatakan seorang tokoh. Cara penggambaran watak ini biasanya bermacam-macam. Ada penggambaran watak secara deskriptif dan ada pula secara ilustratif. Cerita novel bisa meliputi peristiwa secara fisik—seperti perampokan, pembunuhan, dan kematian mendadak, namun juga peristiwa kejiwaan yang biasanya berupa konflik batiniah pelaku. Alur berkenaan dengan kronologis peristiwa yang disampaikan pengarang. Sedangkan tema merupakan kesimpulan dari seluruh analisis fakta-fakta dalam cerita yang sudah dicerna. Sebelum menulis resensi perlu memahami terlebih dahulu langkah-langkah yang harus ditempuh. Berkenaan dengan itu Samad (1997 : 6-7) memberikan langkah-langkah tersebut sebagai berikut:
A. Penjajakan atau pengelanaan terhadap buku yang akan diresensi;
B. Membaca buku yang akan diresensi secara konprehensif, cermat, dan teliti.
C. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutif untuk dijadikan data;
D. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi;
E. Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang berkenaan dengan organisasi penulisan, bobot ide, aspek bahasanya, dan aspek teknisnya;
Mengoreksi dan merevisi hasil resensi atas dasar kriteria yang kita tentukan sebelumnya. Berbagai buku paket mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga menganjurkan langkah-langkah menulis resensi novel. Buku Berbahasa dan Sastra Indonesia yang ditulis Syamsudin (2004 : 81) menyarankan langkah-langkah menulis resensi novel sebagai berikut:
A. Tuliskan identitas buku pada awal tulisan;
B. Kemukakan sinopsis atau ringkasan novel tersebut;
C. Kemukakan pembahasan novel tersebut dilihat dari unsur-unsur pembentuknya. Tunjukkan kelebihan dan kekurangan novel tersebut disertai bukti berupa kutipan-kutipan;
D. Bagian akhir diisi dengan simpulan, apakah novel itu cukup baik untuk dibaca serta siapa yang layak membaca novel tersebut.


Pendapat yang lebih ringkas tentang langkah menulis resensi novel dikemukakan dalam buku paket lain yang ditulis Permadi (2005 : 233) sebagai berikut:
A. Pilihlah novel yang baru diterbitkan, biasanya 3 tahun terakhir;
B. Kemukakan identitas buku novel secara singkat berkenaan dengan pengarang, tahun terbit, dan jumlah halaman, serta katalog;
C. Kemukakan garis besar novel secara ringkat, kelebihan dan kekurangannya.
Pendapat lain tentang langkah menulis resensi dikemukakan oleh Raharjo (2004 : 54) sebagai berikut:
A. Membaca contoh-contoh resensi;
B. Menentukan buku yang akan diresensi;
C. Membaca buku yang akan diresensi secara teliti;
D. Mencatat hal-hal yang menarik dan yang tidak menarik dari buku yang akan diresensi;
E. Berlatih menyusun resensi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis melihat banyak persamaan tentang langkah-langkah penulisan resensi. Jika semua pendapat tersebut digabungkan maka secara garis besar langkah menulis resensi terbagi atas tiga tahapan. Tahapan menulis resensi adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan meliputi: (a) Membaca contoh-contoh resensi; dan (b) Menentukan buku yang akan diresensi.
2. Tahap Pengumpulan data: (a) Membaca buku yang akan diresensi; (b) Menandai bagian-bagian yang akan dijadikan kutipan sebagai data; (c) Menuliskan data-data penulisan resensi.
3. Tahap penulisan meliputi: (a) Menuliskan identisa buku; (b) Mengemukakan sinopsis novel; (c) Mengemukakan kelebihan dan kekurang-an buku novel; (d) Mengemukakan sasaran pembaca; dan (e) Mengoreksi dan memperbaiki resensi berdasarkan susunan kalimatnya, kohesi dan koherensi karangan, diksi, ejaan dan tanda bacanya.

Minggu, Juli 7

ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA

Secara harfiah kata wawasan mengandung arti pandangan, penglihatan, tinjauan atau tanggapan inderawi. Secara lebih luas dapat diartikan suatu pandangan atau sikap mendalam terhadap hakikat. Selain menunjukkan kegiatan untuk mengetahui isi, juga melukiskan cara pandang, cara lihat, cara tinjau atau cara tanggap inderawi.
Kata Wiyatamandala terdiri dari dua bagian kata, yaitu “Wiyata” dan “Mandala”. Kata “Wiyata” mempunyai arti pelajaran atau pendidikan, sedangakan kata “mandala” mengandung arti bulatan, lingkaran, lingkungan daerah atau kawasan. Jadi kata “Wiyatamandala” mengandung arti lingkungan pendidikan/pengajaran. Dengan demikian “Wawasan Wiyatamandala” diartikan sebgai suatu pandangan atau tinjauan mengenai lingkungan pendidikan/pengajaran. Sekolah merupakan Wiyatamandala bearti bahwa sekolah adalah lingkungan pendidikan.
Berdasarkan pokok pengertian tersebut, maka “wawasan Wiyatamandala” adalah cara pandang kalangan pendidikan pada umumnya dan perangkat atau warga sekolah pada khususnya tentang keberadaan sekolaha sebagai pengemban tugas pendidikan di tengah lingkungan masyarakat yang membutuhkan pendidikan.
  1. Makna Wawasan Wiyatamandala
Berdasarkan pengertian bahwa Wawasan Wiyatamandala adalah suatu pandang atau tinjauan mengenai lingkungan pendidikan/pengajaran, maka wawasan wiyatamandala mempunyai makna yang sangat dalam dan strategis sebagai lingkungan pendidikan. Makna itu menuntut sekolah untuk :
1. Memiliki sarana dan prasarana yang cukup dan baik ;
2. Memiliki tenaga edukatif berpribadi teladan, terampil serta berpengalaman/
berwawasan luas;
3. Terciptanya lingkungan aman, bersih, tertib, indah, sejuk dan segar;
4. Tumbuhnya partisipasi, kerjasama, dan dukungan masyarakat sekitar;
5. Adanya hubungan harmonis secara timbal balik antara orang tua dengan para warga
sekolah;
6. Terciptanya disiplin para warga sekolah mentaati segala peraturan dan tata tertib
sekolah;
7. Adanya hubungan kekeluargaan para warga sekolah yang akrab dan harmonis; dan
8. Tumbuhnya semangat peserta untuk maju, bekerja keras dan bekerja keras.
Apabila hal-hal tersebut terpenuhi dan terbina baik, maka keberhasilan
pendidikan akan terwujud dan menghasilkan tenaga kader pembangunan bangsa dan
sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
  1. Sekolah Sebagai Lingkungan Pendidikan
Sekolah sebagai lembaga pendidikan mengandung satu pengertian pokok bahwa sekolah mempunyai tugas dan fungsi untuk menyelenggarakan proses/ kegiatan pendidikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terencana, tertib, dan teratur sehingga usaha untuk menghasilkan tenaga-tenaga terdidik dan terampil yang senantiasa di perlukn bagi pelaksanaan pembangunan dapat terwujud.
Sekolah sebagai pusat pendidikan, lahir, tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Sekolah sebagai lembaga pendidkan merupakan perangkat masyarakat.
Pada sisi lain keberadaan sekolah sebgai lembaga sosial yang terletak di tengah-tengah masyarakat, memungkinkan pula sekolah menjadi lingkungan pendidikan dengna ciri khas masyarakat belajar di dalamnya.
Tugas penyelenggaraan pendidikan memang tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada lembaga persekolahan saja, karena pengalaman belajar pada dasarnya dapat diperoleh sepanjang hidup manusia, kapan dan dimanapun. Termasuk di lingkungan keluarga dan di masyarakat. Meskipun demikian, berdasarkan pokok pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah memang memounyai peranan yang amat penting sebagai pengemban misi pendidikan. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan akan terwujud dengan sebaik-baiknya apabila didukung dan dipenuhinya 5K , sarana dan prasarana, administrasi pendidikan, ketahanan sekolah, disiplin dan tata tertib sekolah. Sekolah dan masyarakat atau pranata pendidikan dan pranata-pranata sosial yang lain harus saling menghargai dan menjalin hubungan yang harmonis karena diantaranya terdapat kaitan saling membutuhkan dan mempengaruhi.
Prinsip-prinsip wawasan wiyata mandala :
• Sekolah merupakan lingkungan pendidik
• Kepala sekolah bertanggung jawab penuh dalam lingkungan penuh
• Guru dan orang tua siswa ada pengertian untuk mengembangkan tugas pendidik
• Warga sekolah harus menjujung tinggi citra sekolah
• Sekolah harus bertumpuh pada masyarakat dan mendukung keturunan
Ketahanan sekolah
• Letak lingkungan dan sekolah
• Sifat masyarakat
• Sifat manusia yang meliput
1. Disiplin
2. Tanggung jawab
3. Pengelolahan lingkungan sekolah itu sendiri
Peranan wawasan wiyata mandala
1. Siswa harus melindungi lembaganya dimana dia sekolah
2. Peran siswa terhadap kepala sekolah
3. Peran siswa pada guru karena guru yang mendidik dan melatih
4. Peran siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah
Peran dalam intrakulikuler adalah dengan belajar giat sesuai tugas-tugas yang diberikan
Peran dalam ekstrakulikuler adalah ikut aktif dalam ekstra yang berlaku.
Berdasarkan surat Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah nomor :13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984 perihal Wawasan Wiyatamandala sebagai sarana ketahanan sekolah, maka dalam rangka usaha meningkatkan pembinaan ketahanan sekolah bagi sekolah-sekolah di lingkungan pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasra dan Menengah, Departemen pendidikan dan kebudayaan, mengeterapkan Wawasan Wiyatamandala yang merupakan konsepsi yang mengandung anggapan-anggapan sebagai berikut.
  • Sekolah merupakan Wiyatamandala (lingkungan pendidikan) sehingga tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar bidang pendidikan.
  • Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh proses pendidikan dalam lingkungan sekolahnya, yang harus berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk:
    • meningkatkan ketakwaan teradap Tuhan yang maha Esa,
    • meningkatkan kecerdasan dan keterampilan,
    • mempertinggi budi pekerti,
    • memperkuat kepribadian,
    • mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air.
  • Antara guru dengan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama yang baik untuk mengemban tugas pendidikan.
  • Para guru, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru sebagai manusia yang dapat digugu (dipercaya) dan ditiru, betapapun sulitnya keadaan yang melingkunginya.
  • Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya, namun harus mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang sadar atau tidak, dapat menimbulkan pertientangan antara kita sama kita.
Untuk mengimplementasikan wawasan Wiyatamandala perlu diciptakan suatu situasi di mana siswa dapat menikmati suasana yang harmonis dan menimbulkan kecintaan terhadap sekolahnya, sehingga proses belajar mengajar, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler dapat berlangsung dengan mantap.
Upaya untuk mewujudkan wawasan Wiyatamandala antara lain dengan menciptakan sekolah sebagai masyarakat belajar, pembinaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler, serta menciptakan suatu kondisi kemampuan dan ketangguhan yakni memiliki tingkat keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan yang mantap.

Sumber :

Rabu, April 3

“INGIN”

Ketika hatinya mulai ikhlas memaafkan luka yang kau gores. Ketika ingatannya mulai bersandar pada kebaikan yang kau tanam, dan Ketika raganya mulai tertunduk malu merenung dendam yang membara, dan ketika rasanya memunculkan penyesalan yang tiada tara. Rasanya dia ingin sekali menyatukan kembali langkah, bergegas bersama untuk meraih mimpi demi tujuan bersama yakni mencerdaskan diri dan mencerdaskan anak bangsa. Kini hatinya putih seputih kapas, rasanya bening sebening kaca. Impiannya hanyalah Kebebasan individu, kedewaan pribadi, dan kebersamaan hakiki sampai ajal menjemput. Namun, kau masih terpaku dalam dendammu, terlena dalam pikiran bengismu. Ragamu terlihat angkuh, mukamu terlihat kecut dan bersinar kebencian, kau semakin ganas, kau berubah menjadi ‘predator’ yang siap menerkam mangsanya. Pikiranmu masih bercampur “debu”, hatimu masih keras seperti batu. Ingatlah, kebencian dan dendam akan luntur oleh keihklasan dan ketulusan hati (kebaikan) yang menggelora. Ingatlah bahwa kebaikan akan selalu menang dan keburukan akan selalu musnah dimanapun dan kapanpun. Jangan jadikan kebencian sebagai “tameng” penangkis keikhlasan yang dia tanam. Bukankah setiap manusia tidak terlepas dari hilaf dan salah? tidak ada seorangpun manusia yang sempurna dan untuk menuju kesempurnaan itu harus terperosok dulu dalam jurang kesalahan. Hendaknya hilaf dan salah itu harus kita jadikan sebagai pelajaran untuk meraih kedewasan sehingga mempererat hubungan, karena dari kesalahan itu dia dan kau semakin mengenal. 

Yakin atau tidak, percaya atau tidak bahwa tidak selamanya luka dibalas dengan luka, tidak selamanya lara dibalas dengan lara, dan tidak selamnya darah dibalas dengan darah, karena dibalik kejahatan masih tersimpan kebaikan, dibalik kebencian masih tersimpan kecintaan. Terkadang kejahatan yang kita alami memberikan kebaikan untuk kita, terkadang kebencian yang kita tanam yang tumbuh adalah kecintaan. Dan Jika kau mau, besok masih ada waktu untuk merangkai kenangan abadi. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin semuanya akan mungkin apabila kau mau dan segera melaksanakannya. Tentu, keihklasan dan ketulusan hati harus menjadi landasan untuk merajut kembali kebersamaanmu yang dulu sempat “layu” sehingga kemudian tumbuh mekar mewangi seperti dulu-dulu itu. Tidak kah kau rindu akan masa-masa silam yang penuh cinta dan cerita.

Sungguh mustahil jika seribu kebaikan yang dia tanam dipangkas oleh satu kesalahan, sehingga kebaikan-kebaikan itu sirna tak berbekas. Jangan jadikan peribahasa “nila setitik rusak susu sebelanga” sebagai pedoman atau penangkis. Sungguh tidak adil jika kebaikan dibalas dengan kebencian dan ketulusan dibalas dengan kesombongan. Dulu kau pernah bersabda “hal-hal kecil tidak perlu dibesar-besarkan, segera diselesaikan dengan baik. Kebersamaan kita harus diwarnai dengan ketulusan dan cinta. Kita harus berbagi dalam susah dan senang.” Tegasmu dengan suara mendayung, meraung, melambai menerobos masuk di lubang telinganya hingga membuatnya merinding, terlena,terposana, dan terkungkung dalam kekaguman. Dulu dia anggap kau sebagai “matahari” yang selalu menynari lerung hatinya. Kau dipuji sebagai sosok yang sempurna karena selalu menyempurnakan kekurangannya. Tapi, kemanakah wujudmu yang dulu? Kalian yang kini berada dalam satu ruang dan waktu terhalang oleh tirai kebencian. Sampai kapan kalian terbelenggu dalam harapan dan kebencian ini? dia ingin kau kembali seperti dulu sebagai sosok yang ia kagumi.

Senin, Maret 11

AKSI GURU DIAMBANG CELAKA


Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia yang terlibat dalam pendidikan adalah subyek dari pendidikan, khususnya guru atau pendidik. Karena merupakan subyek di dalam pendidikan, maka guru dituntut suatu tugas dan tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang baik. Jika diperhatikan bahwa guru itu sebagai salah satu subyek dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka guru dituntut untuk menjadi pribadi yang berkompeten dan bertanggung jawab atau menjadi pribadi yang profesional sesuai dengan tuntutan profesi keguruan. Sebab guru merpakan “jantungnya” pendidikan.
Kita semua jelas tahu bahwa tugas utama guru adalah mendidik dan mengajar disamping tugas-tugas tambahan lainnya.  Hasil dari tugas tersebut jelas adalah adanya perubahan pada diri peserta didik. Katakanlah dengan bahasa yang sederhana demikian. Misalnya; ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari yang yang jahat menjadi baik. Tetapi, perubahan-perubahan yang terjadi setelah proses pendidikan itu tentu saja tidak sesederhana itu. Karena perubahan-perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan rohani peserta didi. Atau dengan kata lain, peran guru dalam mendidik untuk menghasilkan manusia yang “baik” sedangkan peran guru dalam mengajar menghasilkan manusia yang “pintar”, kemudian terbentuk keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohaninya. Sehingga terbentuklah generasi yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Jika kita mau jujur. kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Yang terjadi tidak begitu. Jangankan melakukan keseluhan tugas itu, mengintegrasikan tugas mendidik dan mengajar saja sulit diwujudkan oleh guru. tidak sedikit guru-guru yang hanya melaksanakan tugas mengajar saja, tugas mendidik diabaikan begitu saja. Sehingga tidak heran kita melihat manusia yang dihalkan cerdas otaknya dangkal moralnya atau dengan kata lain generasi yang pintar tetapi “nakal”. 
Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih terjangkit oleh “virus” gadas yang dapat membunuh tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Jika muncul pertanyaan. Siapakah yang menyebarkan virus tersebut dan dari mana asalanya? Maka, jawabannya sederhana yakni pelaku pendidikan dan berasal dari guru. guru yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu. Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian guru cenderung direduksi oleh keegoisan, kesombongan, keangkuhan, dan kemalasan.
Ketika aksi atau gaya guru seperti itu adanya. Pertanyaan pun muncul: jika para guru selalu beraksi seperti itu, apakah dapat mengancam tujuan pendidikan? Pertanyaan tersebut mudah untuk ajukan  tetapi tidak mudah dijawab. Yang jelas kita bisa melihat potret realitas yaitu berupa gejala-gejala mengarah kesitu. Bisa jadi tujuan pendidikan sulit untuk dicapai. Kenapa sulit? Karena guru lah yang menjadi “landasan pacu” keberhasilan dan kemajuan pendidikan. Suatu hal yang “aneh” jika aksi guru seperti itu dijadikan sebagai tauladan dan panutan siswanya. Guru yang seharusnya memberi panutan dan tauladan yang baik justru memberikan contoh yang “buruk”. 
Kita semua harus sadar bahwa melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan. Dari kesadarannya itu mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya. Jika hal itu dianggap benar adanya. Maka, guru terlebih dahulu sadar akan hakikatnya sebagai guru, bukan sadar dalam ketidak sadaran. Tugas dan tanggungjawabnya arus didasarkan atas keihklasan bukan paksaan atau sekedar melaksanakan tugas saja.
Tetapi anehnya. Tidak sedikit guru yang sadar dalam ketidak sadaran, potret realitas tersebut digambarkan dengan adanya oknum guru yang hanya kasih tugas kepada siswanya dia sendiri ngegosip di kantor, ada juga yang hanya datang mengajar saja tidak tahu tentang mendidik siswanya, dan ada pula yang masa bodoh dengan kegiatan-kegitan sekolah meskipun dilimpahkan tugas dan tanggungjawab, serta tidak ketinggalan juga ada guru “provokator” muncul sebagai pengeruh suasana, sebenarnya diharapkan sebagai penengah malah pemanas suasana. Tak ketinggalan juga, ternyata di dalam “tubuh” guru akhir-akhir ini muncul juga “kubu-kubu” persaingan sehingga menyebabkan ketidak harmonisan antarsesama guru padahal satu atap dan bergelut dalam satu ruangan.     
Itulah sederetan aksi oknum guru saat ini yang lagi “naik daun” dan masih banyak aksi-aksi popular lainnya yang membuat miris dunia pendidikan kita. Jika ditanya sampai kapan aksinya akan berakhir? Maka jawabannya tergantu pada semua pelaku pendidikan khususnya pemimpin dan pemerintah. Pemimpin dalam hal ini adalah kepala sekolah dan pemerintah dalam hal ini dinas pendindidikan untuk kemudian membangun komunikasi dalam hal mengawasi dan mengontrol kinerja guru. dan jika ada guru yang “nakal” segera diberikan teguran lisan dan atau tertulis yang berujung pada pemberian sanksi sehingga memberikan efek jera. Tentu, efek tersebut memberikan penyadaran kepada oknum guru tersebut akan pentingnya melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
Besar harapan kita semua agar aksi-aksi guru semacam itu lenyap dari muka bumi ini, sebab kalau terus berkembang yang ditakutkan akan menjadi budaya. Kalau sudah menjadi budaya akan sulit untukkita retas. Oleh Karena itu, dibutuhkan tindakan preventif dari semua pihak demi tercapainya tujuan pendidikan menuju Negara yang maju dan sejahtera.




Sabtu, Februari 2

MAULID NABI MUHAMMAD SAW “Upaya Meneladani Akhlak dan Sunnah Rasulullah untuk Menegakkan Syariat Islam Menuju Ummat yang Beriman dan Bertaqwa”


        Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.
Kaubun, 02 Februari 2013 Masehi bertepatan dengan tanggal 24 Rabiul Awal 1434 Hijriah dilaksanakan maulid Nabi Muhammad saw di SMAN 1 Kaubun. Acara dimulai pukul 10:00 wita sampai selesai. Panitia pelaksana mengundang H. Asmuran selaku ketua MUI Kecamatan Kaubun sebagai penceramah. Kegiatan berlangsung sangat meriah dengan menampilkan Kasida Rebana dari siswi SMAN 1 Kaubun.
Tasrif, S.Pd. selaku Pembina OSIS dalam sambutannya menegaskan kegiatan tersebut diharapkan mampu menyadarkan siswa dan siswi SMAN 1 Kaubun akan pentingnya meneladani akhlak dan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian segala tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan merupakan manifestasi dari kepribadian rasulullah saw. 

 Beliau juga menegaskan peringatan maulid ini merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Rasulullah dilahirkan. Secara substansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuannya, membangkitkan kecintaan kepada Rasulullah serta meningkatkan semangat juang kaum muslim. Peringatan maulid nabi, seakan menghadirkan kembali perikehidupan Rasulullah dalam kehidupan kita saat ini. Maulid adalah momentum penting dan berarti bagi kita, untuk mengaktualkan dan mengimplementasikan nilai-nilai universal sebagai teladan yang baik bagi kita semua. 
Disamping itu, Sejarah menunjukkan, perjuangan Rasulullah tidak hanya perjuangan menyebarkan risalah tauhid semata, tetapi juga perjuangan menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang adil, aman, damai, dan sejahtera. Rasulullah mewariskan nilai-nilai keadilan, justice sebagai pilar penting dalam membangun masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, paham, dan keyakinan. Membangun tatanan masyarakat berilmu sebagai ciri masyarakat Islam yang maju dan berdaya saing tinggi, yang akan mampu membawa kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.
H. Asmuran menuturkan, memperingati maulid nabi atau kelahiran nabi sama dengan kecintaan dan ketaatan kita kepada Rasulullah. Siapa yang patuh dan taat kepada Nabi Muhammad SAW, berarti mereka juga patuh kepada Allah SWT, dan begitu sebaliknya. Disamping itu, beliau juga menjelaskan bahwa ada empat pilar sifat rasulullah yang harus dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dan sifat-sifat Rasulullah tersebut ada dalam al-quran. 
Jadi, substansi perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengena akan keteladanan Muhammad sebagai pembawa ajaran agama Islam. Tercatat dalam sepanjang sejarah kehidupan, bahwa nabi Muhammad adalah pemimipn besar yang sangat luar biasa dalam memberikan teladan agung bagi umatnya.



Jumat, Februari 1

PARAGRAF ARGUMENTASI

Paragraf argumentasi merupakan paragraf yang menjelaskan pendapat dengan berbagai keterangan dan alasan. Kata-kata argumentatif adalah kata yang berarti alasan. Jadi paragraf atau karangan argumentatif adalah suatu karangan yang memberian dan menunjukkan alasan yang kuat untuk meyakinkan pembaca / seseorang. Dalam proses paragraph argumentasi, penulis menyampaikan pendapat yang disertai dengan penjelasan dan alasan yang kuat dengan tujuan supaya pembaca bisa terpengaruh dengan apa yang ingin penulis sampaikan.
 Ciri-ciri Pargaraf Argumentasi menurut pelajaran bahasa indonesia
 Menjelaskan pendapat penulis supaya para pembaca yakin.
 Memerlukan beberapa fakta untuk pembuktian berupa data akurat, gambar/grafik,dan lain sebagainya
 Mencari dan menemukan sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
Penutup selalu berisi kesimpulan.
Contoh paragraf argumentasi sebenarnya juga bisa dimasukkan ke dalam ekspositoris (menjelaskan). paragraf argumentasi biasa juga disebut juga paragraf persuasi atau bujukan. Paragraf persuasi ini lebih bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca kepada suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis dan uraian.
 Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat karangan / paragraph argumentasi
 Berpikir secara sehat, kritis, dan logis, serta tidak ngawur
 Mencari, mengumpulkan, memilih fakta yang sesuai dengan tujuan dan topik, serta mampu merangkaikan untuk membuktikan keyakinan atau pendapat. agar pembaca bisa yakin dengan apa tujuan kita
 Menjauhkan emosi dan unsur subjektif.
 Menggunakan bahasa secara baik dan benar, efektif, dan tidak menimbulkan salah penafsiran dari pembaca.
Paragraf argumentasi memiliki dua pola pengembangan, Sebab Akibat dan Akibat Sebab
1. Contoh paragraf argumentasi Sebab ke Akibat, yaitu jenis pola pengembangan paragraf argumentasi yang berawal dari peristiwa awal yang dianggap sebagai penyebab, lalu menuju kepada kesimpulan yang berupa efek atau akibat yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.
 2. Contoh paragraf argumentasi Akibat ka Sebab, merupakan kebalikan dari pola pengembangan paragraf argumentasi yang sebelumnya. Paragraf ini dimulai dari menjelaskan suatu masalah yang dianggap sebagai akibat lalu bergerak menuju hal-hal yang dianggap sebagai penyebab masalah / peristiwa tadi.
Contoh Paragraf Argumentasi Sebab Akibat
Contoh paragraf argumentasi 1
Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu maju mundurnya suatu bangsa. Adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan lagi bahwa pendidikan di indonesia adalah pendidikan yang sangat mahal dan tak terjangkau bagi masyarakat tak mampu. Pada tahun 2010 saja terdapat 1,08 juta siswa SD hingga SMA yang putus sekolah. Biaya pendidikan yang mahal diperkirakan menjadi sebab tingginya angka putus sekolah di tahun 2010 tersebut.
Contoh paragraf argumentasi 2
Kenaikan BBM ini sangat meresahkan dan menyulitkan masyarakat, terutama masyarakat kecil. Bagi masyarakat yang mampu mungkin itu tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi masyarakat kecil, hal ini akan berakibat fatal. Biaya hidup mereka akan lebih besar, padahal kemampuan mereka sangat minim. Kondisi sebelum BBM naik saja sudah kembang kempis, apalagi setelah BBM naik, mungkin mereka hanya bisa malan pagi. Bahkan, mungkin banyak yang kelaparan secara terselubung.
Contoh paragraf argumentasi 3
Memilih SMA tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menambah pengangguran karena pelajaran di SMA tidak memberi bekal bekerja. Menurut Iskandar, sudah saatnya masyarakat mengubah paradigma agar lulusan SMP tidak latah masuk SMA. Kalau memang lebih berbakat pada jalur profesi sebaiknya memilih SMK. Dia mengingatkan sejumlah risiko bagi lulusan SMP yang sembarangan melanjutkan sekolah. Misalnya, lulusan SMP yang tidak mempunyai potensi bakat-minat ke jalur akademik sampai perguruan tinggi, tetapi memaksakan diri masuk SMA, dia tidak akan lulus UAN karena sulit mengikuti pelajaran di SMA. Tetapi tanpa lulus UAN mustahil bisa sampai perguruan tinggi.
Contoh paragraf argumentasi 4
 Akibat perkembangan perekonomian dan pertambahan jumlah penduduk, komsumsi energi di dalam negeri juga meningkat. Kebutuhan gas di pulau jawa pada tahun 2002 sebanyak 943 juta kaki kubik per hari (MMCFD). Tahun 2005, meningkat menjadi 1,136 MMCFD. Pada tahun 2010, kebutuhan gas di pulau jawa diperkirakan 2.252 MMCFD dan tahun 2015, sebanyak 3,441 MMCFD.
Contoh Paragraf Argumentasi Akibat Sebab
Contoh paragraf argumentasi 1
Kerusakan lingkungan merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh umat manusia di era modern sekarang ini. Hampir setiap hari kita selalu disuguhi dengan berita-berita tentang berbagai macam bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan berbagai macam bencana alam lain yang telah memakan banyak sekali korban baik harta maupun nyawa. Bencana-bencana alam "buatan" yang sering terjadi saat ini, tak lain dan tak bukan adalah akibat dari pola hidup sebagian besar manusia modern yang tidak ramah lingkungan.
Contoh paragraf argumentasi 2
Dua tahun terakhir, terhitung sejak Boeing B-737 milik maskapai penerbangan Aloha Airlines celaka, isu pesawat itu mencuat ke permukaan. Ini bisa dimaklumi sebab pesawat yang badannya koyak sepanjang 4 meter itu sudah dioperasikan lebih dari 19 tahun. Oleh karena itu, adalah cukup beralasan jika orang menjadi cemas terbang dengan pesawat berusia tua.
Di Indonesia, yang mengagetkan, lebih dari 60% pesawat yang beroperasi adalah pesawat tua. Amankah? Kalau memang aman, lalu bagaimana cara merawatnya dan berapa biayanya sehingga ia tetap nyaman dinaiki?
Contoh paragraf argumentasi 3
Sekali lagi, kita patut bersyukur karena tampaknya kegiatan ospek di kampus-kampus sudah ada perubahan ke arah yang lebih bermakna positif. Sudah saatnya kita meninggalkan perpeloncoan. Hidup ini sudah begitu keras untuk diperjuangkan, jangan ditambah lagi dengan kekerasan yang lain.

KONFERCAB PGRI KAUBUN KUATKAN SOLIDITAS DAN SOLIDARITAS MENUJU PGRI YANG BERKUALITAS

CEREMONILA KEGIATAN KAUBUN-  Acara Pembukaan Konferensi Cabang Masa Bakti Ke - XXIII PGRI Cabang Kaubun dilaksanakan di Aula SMP Negeri 1 Ka...