Kamis, Agustus 23

PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL


Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.
Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?
Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.
PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama
Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini. 
Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).
Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.
Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.
Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.
Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.
Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.
Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.
Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya?Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?
Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.
Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.
Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.
PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU
Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.
Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.
Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?
Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.
Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.
Oleh Amirul Mukminin
Sumber: http://re-searchengines.com/amukminin.html

Sabtu, Juli 14

USULAN RKS 2012


USULAN RKS SEMESTER GANJIL 2012
PEMBINA OSIS

NO.
NAMA KEGIATAN
PELAKSANAAN
JUMLAH ANGGARAN
1.
PESANTREN RAMADHAN
1.   Honor pemateri 6 orang
2.   Perlengkapan panitia, spanduk, dan secretariat
3.   Transportasi
4.   Konsumsi panitia dan peserta
(buka bersama)
Bulan Agustus 2012

1.       Rp. 600.000,-
2.       Rp. 500.000,-

3.       Rp. 100.000,-
4.       Rp. 3.500.000,-
Jumlah
Rp. 4.250.000,-
2.
PEMILIHAN KETUA OSIS
1.   Perlengkapan panitia dan secretariat
2.   Transportasi
3.   Konsumsi panitia 3 hari 
Bulan September 2012

1.       Rp. 100.000,-
2.       Rp. 50.000,-
3.       Rp. 400.000,-
Jumlah
Rp. 550.000,-
3.
LOMBA CERDAS CERMAT, BACA PUISI, BACA AL-QURAN, DRAMA, TARI/DANCER, STORRY TELLING, DAN PIDATO
1.    Honor dewan juri 6 orang
2.    Perlengkapan panitia dan secretariat
3.    Konsumsi panitia dan dewan juri 4 hari
4.    Transportasi
5.    Hadiah
Bulan Januari 2013




1.       Rp. 300.000,-
2.       Rp. 100.000,-

3.       Rp. 500.000,-

4.       Rp. 50.000,-
5.       Rp. 2.000.000,-
Jumlah
Rp. 2.950.000,-



USULAN RKS SEMESTER GANJIL 2012
WAKASEK KESISWAAN

NO.
NAMA KEGIATAN
PELAKSANAAN
JUMLAH ANGGARAN
1.
PENYULUHAN KESEHATAN 
1.       Honor pemateri 2 orang
2.       Perlengkapan panitia spanduk dan secretariat
3.       Konsumsi panitia dan pemateri
4.       Transportasi
Bulan Oktober 2012

1.      Rp. 400.000,-
2.      Rp. 200.000,-

3.      Rp. 500.000,-

4.      Rp. 50.000,-
Jumlah
Rp. 1.150.000,-
2.
TABLIK AKBAR
1.   Honor penceramah
2.     Perlengkapan panitia spanduk dan secretariat
3.   Konsumsi panitia dan pemateri
4.   Transportasi
Bulan Desember 2012

1.       Rp. 100.000,-
2.       Rp. 200.000,-

3.       Rp. 500.000,-

4.       50.000,-  
Jumlah
Rp. 850.000,-
3.
PERTANDINGAN PERSAHABATAN (SEPAK BOLA) DENGAN SMA SANGKULIRANG
1.       Konsumsi pemain
2.       Transportasi pemain
Bulan September 2012



Rp. 1.500.000,-
Rp. 500.000,-
Jumlah
Rp. 2.000.000,-


Jumat, Juni 15

CAHAYA ISRA’ & MI’RAJ ; MENITI JALAN MENUJU SURGA


Sebelum berbicara Isra’ dan Mi’raj, mari kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada allah SWT yang sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa yang diucapkan dengan lisan dan wujudkan dalam perbuatan. Kemudian segala aktivitas dan komunikasi yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari harus merupakan manifestasi dari takwa itu sendiri. Meningkatkan ketakwaan menjadi sangat penting bagi kita karena peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang gaib yang tidak dapat diterka oleh akal manusia. Untuk itu, dibutuhkan kepercayaan dan keyakinan (takwa) yang mendalam. Kita harus yakin bahwa Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu tidak ada keraguan sedikit pun dalam hati kita tentang kekuasaan-Nya. Seluruh kekuasaan dan kehendak-Nya telah tertuang dalam al-quranul karim. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj pun telah dideklarasikan-Nya dalam al-qur’an sebagai berikut.

“Subhaanalladzii asraa bi ‘abdihii lailam minal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahuu li nuriyahuu min aayaatinaa innahuu huwas samii’ul bashiir”

Artinya; “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al Israa’, 17 : 1)

Firman Allah di atas sebagai bukti, bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu benar-benar ada dan terjadi yang tidak perlu  diragukan lagi kebenarannya atau tidak perlu lagi diperdebatkan substansinya, baik oleh umat islam itu sendiri maupun umat islam dengan umat lain. Allah SWT adalah maha kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya, hanya bersabda “Kun Fayakun” jadilah maka jadilah. Allah menegaskan melalui firman-Nya di atas, bahwa Nabi Muhammad SAW telah diperjalankan dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Madinah, inilah yang kita sebut sebagai Isra’ (perjalanan horizontal). Kemudian dilanjutkan dengan perjalan vertikal. Mulai dari masjid Al-aqsha ke sidratul muntaha (langit ketujuh), hal inilah yang kita sebut sebagai Mi’raj. Jadi, Isra’ wal Mi’raj adalah perjalan Nabi Muhammad dari masjidil haram ke masjidil aqsha dan dilanjutkan ke sidratulmuntaha (langit ketujuh) dengan durasi waktu semalam untuk bertemu langsung dengan Allah SWT dalam rangka menerima ibadah shalat.

Ayat tersebut juga merupakan bukti otentik bahwa Nabi Muhammad SAW telah menerima ibadah shalat langsung berhadapan dengan Sang Ilahi Rabbi tanpa perantara malaikat jibril seperti layaknya ibadah-ibadah yang lain. Misalnya; sedekah, infak, puasa, jakat, haji, dan lain-lain. Sehingga tidak lah heran bagi kita, ibadah shalat merupakan inti atau tiang agama. Seperti disabdakan oleh Rasulullah “Assalatu Imaddudin” artinya shalat adalah tiang agama. Jadi, dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa untuk menegakkan ibadah shalat.

Masalah yang kerap kali didengungkan oleh sebagian dari kita atau paling tidak yang menjadi bahan perdebatan baik oleh sesama umat islam maupun umat islam dengan nonislam yang minim ketakwaan/keimanannya adalah apakah peristiwa Isra’ Mi’raj itu benar-benar terjadi? Apakah mungkin seseorang manusia dengan gelar Nabi dapat menembus langit ketujuh? Apakah yang Isra’ wal Mi’raj itu hanya rohnya Nabi Muhammad SAW? Jika hanya rohnya maka peristiwa Isra’ wal Mi’raj hanyalah mimpi belaka? Apakah yang Isra’ wal Mi’raj itu roh dan jasadnya Nabi Muhammad? Jika roh dan jasadnya kenapa sampai hari ini belum ada satu pun manusia yang dapat menembus langit ketujuh?

Hemat penulis, sederetan pertanyaan tersebut tidak pantas untuk dipertanyakan dan tidak perlu diperdebatkan karena hanya mendatangkan dosa. Mengingat; pertama, pertanyaan tersebut lahir dari orang-orang yang mengalami krisis kepercayaan serta mencoba untuk merusak keimanan umat islam. Kedua; peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan peristiwa biasa tetapi peristiwa yang luarbiasa (gaib) sehingga tidak mampu kita jabarkan lewat akal melainkan lewat hati dengan dasar keimanan yang kuat. Ketiga; akan lebih bermakna jika kita mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.  

Paling tidak, ada ”tiga” hal yang bisa kita petik hikmahnya dari peristiwa ini. Hikmah pertama adalah masalah keimanan, yakni menambah keyakinan kita kepada Allah SWT bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Hikmah kedua, kita mesti memahami “hasil” yang dibawa dari perjalanan peristiwa ini adalah diperintahkannya kita menegakkan shalat fardlu lima waktu. Adapun hikmah ketiga, adalah hendaknya kita semua mesti mau memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam. Ketiga hikmah inilah yang penulis sebut sebagai cahaya.

Semoga ketiga hikmah di atas menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin berkurang.


Minggu, Mei 20

POLEMIK HARI KEBANGKITAN BANGSA


Disadari, Sesungguhnya telah diabadikan oleh bangsa Indonesia bahwa tanggal 20 Mei sebagai hari yang bersejah, yakni hari kebangkitan nasional. Setiap tanggal tersebut tetap dirayakan (diperingati) oleh sebagian rakyat Indonesia. Bukan seluruh rakyat Indonesia. Kenapa? Karena sebagian rakyat tidak setuju dengan hari kebangkitan nasional jatuh pada tanggal 20 Mei 1908. Mereka melihat sebelum tanggal 20 Mei 1908 sudah ada gerakan kebangkitan bangsa. Sehingga sejumlah pihak tidak sepakat dengan peringatan tersebut, kemudian memunculkan polemik yang cukup alot. Meskipun demikian, tonggak sejarah kebangkitan bangsaan tetap jatuh pada tanggal 20 Mei perayaannya pun cukup meriah. Peringatan tersebut dilakukan sebagai langkah perenungan sekaligus mengingat kembali perjuangan tokoh-tokoh pejuang dulu dalam membangun kesadaran berbangsa dan bernegara.  

Ketika polemik itu berkepanjangan, tidaklah heran jika Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei sudah tidak lagi diperingati secara khidmat atau selayaknya sebagai peristiwa yang penting dalam sejarah bangsa. Memang, pemerintah memperingatinya sebagai hari bersejarah sepertihalnya hari Pahlawan 10 November, peringatan 17 Agustus, Sumpah Pemuda, Kartini dan banyak lagi… tapi bisakah momen itu menyentuh jiwa banyak orang sebagai pendidikan moral dan politik.

Agar polemik hari kebangkitan nasional tersebut tidak berkepanjangan, perlu kita jawab beberapa pertanyaan berikut. Kebangkitan nasional itu apa? Apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1908? Kenapa tanggal 20 Mei dijadikan sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia? Apakah sebelum tanggal 20 Mei 1908 belum kesadaran kebangsaan? Jika ada kenapa tidak diambil sebagai patokan sejarah kebangkitan? Jawaban dari sederetan pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantarkan kita kepada satu pemahaman yang solid sehingga kita kemudian merayakan hari kebangkitan nasional bersama-sama, bukan sebagian rakyat seperti yang terjadi hari ini. akhirnya hari kebangkitan nasional pun mendapat tempat di hati seluruh rakyat.

Kebangkitan nasional adalah kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia. Semangat kebangkitan nasional muncul, ketika bangsa Indonesia mencapai tingkat perlawanannya yang tidak dapat dibendung lagi, untuk menghadapi kekuasaan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil. Penegasan tekad bangsa untuk bebas dan merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialism tertanam dalam lubuk hati rakyat Indonesia. Jadi, kebangkitan nasional merupakan kesadaran rakyat Indonesia baik secara individu maupun secara kelompok (organisasi) untuk membentuk kesatuan bangsa dan Negara yang adil, makmur, dan sentosa di atas kekuasaan penjajah.

Tanggal 20 Mei 1908 merupakan hari lahirnya organisasi Boedi Oetomon  yang digagas oleh R. Soetomo. Seperti apa substansi dan liku-liku perjalanan Boedi Oetomon dalam memankan perannya? Dicermati dari keberadaannya, banyak pihak yang menilai bahwa sistem pendidikan yang dianut dalam Boedi Oetomon adalah adopsi pendidikan Barat. organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya. Boedi Oetomon sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda. Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Boedi Oetomon tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan Boedi Oetomon tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain : Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

Hal ini pun dipertegas oleh Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Jika, kiprah Boedo Oetomon di atas kita sepakati adanya, maka, tidak pantas kiranya hari lahirnya Boedi Oetomon dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional karena sangat bertentangan sekali dengan konsep dan makna kebangkitan. Terus, kenapa tetap menjadi hari kebangkitan nasional? Begini, pada tanggal 3 Juli 1946 terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Tan Malaka dan Mohammad Yamin yang ingin merebut kekuasaan negara dengan paksa. Kemudian pada saat itu, Kabinet Hatta berkeinginan untuk mengembalikan sejarah nasional yang mana susah payah telah melawan penjajah. Ini semua dilakukan Kabinet Hatta karena upaya kudeta tersebut seakan-akan mendapatkan respon dari masyarakat, dan ini berarti dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Nah, agar terhindar dari perpecahan bangsa, maka dirasa perlu membangkitkan kembali yang namanya kesadaran nasional. Tanpa menunda lagi maka dirasa perlu juga menentukan kapan tanggalnya dan kira-kira organisasi apa yang mempelopori gerakan kebangkitan nasional pada abad ke-20 ini. maka secara serta-merta diambilah hari lahirnya Boedi Oetomon tersebut. Jadi, pantaslah kiranya hari kebangkitan nasional menjadi bahan perdebatan oleh berbagai kalangan.

Disisi lain sejumlah pihak lebih sepakat hari kebangkitan nasional jatuh pada tanggal 16 Oktober 1905, hal ini dipertegas oleh George McTurner dalam karyanya Nationalism and Revolution in Indonesia pad atahun 1970 menguraikan pendapat berbeda daripada penulis-penulis sejarah Barat lainnya. Dia lebih menekankan bahwa fakta penyebab terbentuknya integritas nasional bahkan tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia itu adalah Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dipeluk bangsa Indonesia. Lebih lanjutnya karena: Pertama, adanya kesatuan agama bangsa Indonesia. Saat itu agama Islam telah dianut 90% penduduk dan tidak hanya orang Jawa saja namun juga penduduk luar Jawa. Inilah mengapa bisa terjadi perlawanan kuat terhadap penjajah Kerajaan Protestan Belanda, itu disebabkan salah satunya karena para penjajah ini melancarkan politik kristenisasi. Kedua, agama Islam ini tidak hanya sebagai ajaran yang mengajarkan jamaah atau persatuan namun juga masyarakat Indonesia telah menjadikannya simbol perlawanan terhadap penjajah Barat. Ketiga, sebab lain bisa terjadi integritas nasional adalah karena adanya perkembangan Bahasa Melayu Pasar yang telah berubah menjadi Bahasa Persatuan Indonesia. Ini akibat dari penjajah Belanda yang ketika itu ingin menciptakan rasa inferioritas atau rendah diri di tengah-tengah umat Islam Indonesia. Pada waktu itu, sengaja diciptakanlah bahasa utama dan bahasanya para bangsawan adalah bahasa Belanda, sedangkan Bahasa Melayu pasar (bahasa kita sekarang ini) malah dianggap sebagai bahasanya orang-orang bodoh pribumi.Nah, kalau kita sudah mengerti sedikit banyak uraian terjadinya Hari Kebangkitan Nasional tersebut, yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa ya umat Muslim dengan organisasinya yang lebih dahulu [hadir] yaitu Serikat Dagang Islam malah tidak dianggap menyadarkan kesadaran nasional? Padahal saat itu motor pembangkit gerakan kesadaran nasional di pasar adalah Serikat Dagang Islam pada tanggal 16 Oktober 1905 di Surakarta.

Organisasi inilah yang pertama kali menjawab tantangan upaya imperialis untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar sumber bahan mentah industri penjajah Barat. Organisasi ini pula yang mengedepankan penguasaan pasar agar terhimpun dana guna gerakan kesadaran politik nasional.

Anehnya, padahal waktu itu ada banyak organisasi-organisasi Islam yang sangat berpengaruh besar terhadap mayoritas masyarakat Indonesia, bahkan masih berperan aktif hingga sekarang ini dalam pembangunan bangsa, negara, dan agama. Kenapa bukan Serikat Dagang Islam yang mana lebih dulu berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905? Dibandingkan dengan Boedi Oetomon yang berdiri tanggal 20 Mei 1908. Pertanyaan ini menjadi tugas sejarah yang tertunda. Kita semua tahu bahwa kiblat Serikat Dagang Islam jelas membangun kesadaran persatuan dan kesatuan di antara umat. Rakyat Indonesia disominasi oleh umat islam, sekitar 90% memeluk agama islam. Sedangkan, Boedo Oetomo hanya Jawa-Madura atau dikenal jawanisme, bagian kecil dari rakyat Indonesia. Di titik inilah muncul polemik yang cukup hangat. Hari kebangkitan nasional itu 20 Mei 1908 atau 16 Oktober 1905? Pertanyaan ini kemudian menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua yang perlu digali jawabannya.  




Sabtu, Mei 19

PELEPASAN SISWA-SISWI SMA NEGERI 1 KAUBUN ANGKATAN KE-IV TAHUN PEMEBALAJARAN 2010/2011 “SEMANGAT MENUNTUT ILMU PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TERAMPIL UNTUK MERAIH JUARA DEMI TERWUJUDNYA GENERASI UNGGUL INDONESIA”


      Istilah pelepasan sudah menjadi tradisi bagi setiap sekolah, yang sejatinya adalah perpisahan kelas XII dengan kelas X, XI, dan dewan-dewan guru yang ada di sekolah tersebut. jadi tidaklah heran jika kita melihat lebih kurang dua minggu selesai ujian nasional (UN) kegiatan perpisahan itu dilaksanakan.

     Berbicara tentang pelepasan tentu kita sedang berbicara perpisahan. Perpisahan antonin dari pertemuan, dimana ada pertemuan perpisahan pun akan ada. Jika pertemuan sudah terjadi maka perpisahan sedang menanti, pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang menjadi jalan hidup di dunia. Di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya bersifat sementara. Pertemuan dan perpisahan merupakan dua istilah yang selalu menanti setiap manusia kapan pun dan dimanapun. Pertemuan adalah kenangan yang terindah dan perpisahan adalah kenangan yang menyedihkan.

      Pelepasan/perpisahan merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang diselenggarakan oleh setiap sekolah khususnya SMA di seluruh nusantara. Kegiatan tersebut sudah merupakan budaya atau kebiasan yang dilakukan oleh setiap siswa-siswi yang sudah menyelesaikan studi dijenjang SMA yang kemudian akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Idealnya SMAN 1 Kaubun telah melepas siswa-siswinya empat angkatan. Angkatan ke-VI tahun pembelajaran 2010/2011 dilepas pada hari Sabtu, 19 Mei 2012.
    Meskipun kegiatan perpisahan kali ini lebih cepat dibandingankan tahun sebulumnya. jika, tahun sebelumnya dilaksanakan bertepatan dengan pengumuman kelulusan. maka, tahun ini perpisahannya lebih awal. hal ini dilakukan karena atas pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan meyakinkan. 

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh beberapa unsur-unsur terkait seperti; bapak Camat Kaubun, Ketua UPT Pendidikan Kecamatan Kaubun, Kepala Desa Bumi Rapak, Bapak/Ibu Dewan Guru SMP dan SD se-Kecamatan Kaubun, Ketua Komite SMAN 1 Kaubun, Tokoh Agama, Masyarakat, dan Pemuda, dan lain sebagainya yang memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan. Misalnya; pihak perusahaan ikut hadir dalam acara tersebut.

      Acara perpisahan tersebut dilaksanakan di Aula SMAN 1 Kaubun, dan adapun susunan acara adalah pembukaan, do’a, menyanyikan lagu Indonesia dan kur kelas XII, sambutan-sambutan (ketua panitia, perwakilan kelas XII, perwakilan kelas X, dan XI, kepala sekolah, ketua komite, kepala UPT Pendidikan, dan Camat Kaubun), pelepasan atribut, hiburan, dan penutup.  

     Pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar. Berjalan sesuai dengan yang diharapkan bersama. Kegiatan dibuka mulai jam 09:00 s/d 12:00. Untuk memeriahkan pelaksanaan acara setiap kelas X dan XI wajib menampilkan kreasinya masing-masing baik berupa tarian, dancer, nyanyian, maupun puisi dan drama. Dan tidak ketinggalan juga SMANSA BEND menebarkan tembang-tembang kesayangannya. Jika dilihat dari penampilan tari ada nilai bargainingnya. Secara, kelas X dan XI banyak mempersembahkan tari, misalnya; tari bali (pendet dan manuk rawe), tari jaipong, tari dayak, dancer, dan Akapela persembahan kelas XI IPA.  

      Pembawa acara adalah Rizki Amalia dan Muhammad Rais kelas XI IPA. Mereka diwajibkan untuk menggunakan dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa inggris (translate) secara bergantian. Dan untuk memeriahkan acara pembukaan ditampilkan tari pendet. Hasilnya pun membuat para tamu undangan sangat terhibur selalu. Tarian-tarian yang lainya serta band SMANSA menyelingi acara sambutan-sambutan dan sesi hiburan.

     Yang mengawali acara sambutan adalah ketua panitia yakni ibu Arik Setyowati, S.Pd. titik penekanan sambutannya hanya pada rincian anggaran kegiatan. Untuk dasar pemikiran tentang tema kegiatan dan ucapan terimakasih kepada anggota panitia khususnya dan umumnya pihak-pihak terkait yang dengan gigih meluangkan pikiran dan tenaganya tidak tersampaiakan oleh dia. Padahal ini sangat penting bagi seorang ketua panitia dalam sambutannya.

    Sambutan yang kedua dan ketiga adalah perwakilan dari kelas XI dan X/XI. Dalam sambutannya, perwakilan dari kelas XII menyampaikan ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada kepada sekolah dan dewan guru karena atas perjuangan dan pengorbanan gurulah mereka dapat menyelesaikan studinya di SMAN 1 Kaubun. Disamping itu, dia mengajak guru-gurunya untuk tetap membangun komunikasi baik melalui via sms maupun dengan media lain, sehingga hubungan baik tetap terjaga selalu. Berbeda dengan perwakilan kelas X dan XI. Dia mengnugkapkan kesedihannya karena akan ditinggalkan oleh kakak-kakak tingkatnya. Dengan bahasa yang puitis “Pertemuan adalah kenangan yang terindah dan perpisahan adalah kenangan yang menyedihkan. Idealnya pada kesempatan ini sedang melanda kita yang ada dirungan ini, sehingga rungan ini diwarnai oleh suasana sudih. Kepada kakak-kakak kelas XI, Jujur kami katakan pertemuan denganmu adalah surga bagi kami dan perpisahan denganmu neraka bagi kami. Tapi, apalah daya inilah jalan hidup yang harus kita lalui bersama yang tak mungkin kita hindari. Oleh karena itu, kesabaran dan ketabahan serta ikhlas untuk melepas kepergianmu sebuah keharusan. Pergilah kakak-kakakku, tuntut lah ilmu sebanyak mungkin, walau ke negeri cina sekalipun. Kita semua harus sadari bahwa segala yang kita lalui di sekolah tercinta ini, adalah kenangan yang terindah dan tak akan terlupakan sampai kapan pun dan dimana pun kita berada. Kenangan itu tetap bersemayam dihati meskipun jarak dan waktu memisahkan kita. Prinsip kita adalah “jauh dimata dekat dihati”. Tegasnya. 

  Kepala sekolah yaitu bapak Suparto, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan prestasi siswa-siswi SMAN 1 Kaubun dari tahun ke tahun semakin meningkat baik pada bidang akademik maupun nonakademik. Misalnya; juara satu lomba seni baca al-quran, juara satu lompat jauh, juara dua lomba cerdas cermat, juara tiga dan empat karya tulis, dan juara satu, dua, dan tiga dalam  lomba kepramukaan. Kepala sokolah juga memohon maaf kepada masyarakat khususnya orang tua wali jika ada kabar-kabar yang tidak sedap yang menimpa sekolah dalam hal ini dewan-dewan guru. Dia mengajak orang tua/wali agar tidak membesar-besarkan kabar tersebut. mengahiri sambutannya kepala sekolah mengajak semua pihak untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMAN 1 Kaubun. Setelah kepala sekolah sambutan selanjutnya adalah ketua komite sekolah yakni H. Sirajudin, S.Pd. ketua komite membicarakan tentang sikap pendidik dalam hal ini guru-guru perlu diperbaiki khususnya guru-guru pendatang. Guru-guru pendatang semestinya harus bersyukur telah ditempatkan di Kaubun. Hubungan dan kerjasama antara guru harus ditingkatkan untuk membangun komunikasi yang positif. Hindari polarisasi dan perpecahan yang selama ini terjadi. Guru harus menjadi tauladan yang baik bagi siswa-siswinya. 

    Yang menarik untuk disimak adalah isi sambutan bapak UPT Pendidikan dan bapak Camat Kaubun. Jika, bapak UPT Pendidikan mengatakan bahwa tema pelepasan siswa-siswi kali ini sangat menarik untuk kita bicarakan dan dijadikan sebagai isu nasional karena poin penting yang diraih dalam dunia pendidikan itu adalah ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Tetapi, dibalik ketertarikanya itu beliau memiliki versi lain yang tidak jauh beda dengan tema tersebut yakni kecerdasan, akhlak mulia, dan kemandirian. Jadi, jika dikolaborasikan dengan tema tersebut maka kecerdasan adalah ilmu pengetahuan, sikap adalah akhlak mulia, dan keterampilan adalah kemandirian. Dengan demikian beliau menegaskan siswa dan siswi yang kita lepas hari ini harus menuntut ketiga hal tersebut. Numun, itu semua akan terwujud jika orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah ikut memberikan motivasi (dorongan) yang positif dalam proses pelaksanaannya.

    Maka, Bapak Camat Kaubun menegaskan dari sisi proses pendidikan dan keikhlasan dari kita khususnya orang tua untuk melepaskan ananknya dalam meraih ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan tesebut. Jika, kita semua ridho, maka Tuhan Yang Maha Esa akan selalu memudahkan prosesnya. Disamping itu pula, bapak Camat mengatakan kepeduliannya terhadap masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Untuk mengantisipasi hal ini dia mengadakan kerjasama dengan pihak terkait dalam hal ini perusahaan untuk menyelenggarakan sekolah nonformal yakni pelatihan. Sehingga, wujud dari kerjasama itu, tahun ini ada tiga siswa yang disekolahkan atau dibiayai oleh pemerintah dan perusahaan. Mengahiri sambutannya dia sangat berharap semoga Kaubun ke depan dipinpin oleh putra daerah (asli orang Kaubun).

    Yang tidak kalah menariknya lagi adalah pada sesi hiburan. Tarian dayak, manuk rawe, dan Smansa Band membuat undangan tidak mau bergegas dari tempat duduknya. Secara, Pemain tari begitu linca dan lihainya dalam melakukan gerakan. Tari jaipong dan dancer ditampilan di sela-sela sambutan. 
   Tentu, seperti apa pun bagusnya kegiatan perpisahan tersebut pasti ada kekurangan dan kelebihan. untuk itu, kita semua sangat berharap semoga perpisahan tahun depan lebih baik dari tahun ini. 

Semoga…!

KONFERCAB PGRI KAUBUN KUATKAN SOLIDITAS DAN SOLIDARITAS MENUJU PGRI YANG BERKUALITAS

CEREMONILA KEGIATAN KAUBUN-  Acara Pembukaan Konferensi Cabang Masa Bakti Ke - XXIII PGRI Cabang Kaubun dilaksanakan di Aula SMP Negeri 1 Ka...