Jumat, November 28

SOSOK GURU ANTARA TEORI DAN REALITA ; KAJIAN EMPIRIS

Sekolah adalah lahan yang subur bagi Murid untuk menggali ilmu pengetahuan. Mereka yakin dan percaya bahwa di sekolah mereka diajarkan beragam mata pelajaran, meningkatkan ilmu pengetahuan, menggali bakat minat dan potensi serta memperbaiki sikap dan perilku. Keyakinan itu terwujud jika guru hadir sepenuhnya di sekolah dan masuk dalam kelas. Kita harus sepakat bahwa Guru menjadi tulang punggung terjadinya proses belajar mengajar di kelas, tanpa guru proses belajar murid terhenti. Kehadiran sosok guru di kelas sanggat dinanti-nantikan oleh murid. Bagi murid sosok guru bagaikan lilin dalam gelap yang menerangi lorong-lorong kehampaan mereka. 

Namun akhir-akhir ini sosok guru itu menjadi ironi dibeberapa sekolah yang kadang kala hadir di sekolah, mengisi daftar hadir, masuk di ruang guru, berkumpul dan bercanda ria, bercerita tanpa arah sampai lupa waktu mengajar. Yang terjadi kemudian ruang kelas kosong, murid menunggu lama sampai bosan bahkan sampai ketiduran akhirnya kesempatan belajar murid terganggu dan semangat belajarnya menurun. Kondisi ini merupakan potret realita yang acap kali terjadi. Sesekali kepala sekolah menegur dan memberikan peringatan tetapi tidak membuat guru langsung sadar. Jika fakta ini terus terjadi maka tujuan mulia pendidikan nasional untuk mencerdaskan anak bangsa hanya menjadi pepesan belaka. 

Padahal menurut teori belajar Konstruktivisme bahwa belajar terjadi melalui interaksi langsung antara guru dan murid. Jadi tanpa adanya guru di kelas proses membangun pengetahun terhenti, proses belajar mengajar tidak terjadi sehingga murid kehilangan kesempatan untuk memahami materi, kehilangan peluang untuk bertanya jawab, kehilangan momentum untuk menyampaikan ide dan gagasan bahkan kehilangan makna pembelajaran itu sendiri. Disini jelas guru sangat penting sekali kehadirannya dalam membangun ilmu pengetahuan murid melalui interaksi positif. 


Kemudian jika merujuk pada teori Sosial Vigosky bahwa perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan murid terjadi melalui Scaffoding yakni pendampingan oleh orang dewasa yang ahli. Guru adalah ahli mendidik dan mengajar muridnya karena ia sudah menempuh pendidikan Sarjana bahkan Magister. Guru harus hadir terus dalam kelas untuk mendampingi murid dalam pembelajaran. Jika guru tidak hadir di kelas untuk mendampingi murid maka Scaffoding ini runtuh. Murid kehilangan arah belajarnya, mereka diam dalam kebingungan. Pendampingan ini penting dilakukan agar murid tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. 

Lalu, jika ditelusuri melalui teori Bevafiorisme maka teladan guru adalah penguat yang paling kuat bagi perilaku murid. Teori ini menegaskan pentingnya keteladan, guru harus menjadi teladan, selaras anatara ucapan perbuatan dan tindakan. Misalnya, guru tidak menghargai waktu belajar maka muridpun begitu mereka menganggap waktu itu tidak penting dan tidak menjadi prioritas. Jadi, semangat belajar murid menurun bukan karena malas tetapi karena guru tidak menjadi teladan yang baik bagi mereka. Pendidikan karakter yang ingin dibangun hanya di atas kertas. Dititik ini guru kehilangan marwah dan menyalahi Trilogi Pendidikan yang digagas oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Suntolodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” Artinya guru harus menjadi teladan, menyemangati, dan memberi dorongan. 

Sementara itu, teori pendidikan Humanistik mengingatkan kita bahwa tugas guru tidak hanya mentransfer materi pelajaran atau ilmu pengetahuan melainkan menemani murid untuk tumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik menuju kematangan berpikir dan kedewasaan berperilaku. Jadi, Kehadiran guru di kelas tidak sekedar menyelesaikan materi pelajaran melainkan memanusiakan murid menjadi manusia seutuhnya yakni manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri. Jadi, teori ini mengisyaratkan perlunya nasehat yang baik, motivasi yang kuat, dan komunikasi yang efektif yang dilakukan guru kepada murid. 

Kita sangat sepakat bahwa tugas guru adalah tugas yang mulia, namun kemuliaan ini akan tercapai jika guru hadir di sekolah, masuk ruang kelas, mendidik dan mengajar murid dengan ikhlas tanpa tenpa tendesi apapun. Guru melaksanakan pembelajaran mendalam berkesadaran, bermakna,  dan mengembirakan. Singkatnya, Guru hadir seutuhnya di kelas, hadir tubuhnya, hadir pikirnnya, dan hadir tanggung jawabnya. 

Melalui tulisan ini penulis mengajak semua guru agar kembali kefitrah guru sesungguhnya. Guru adalah role model, guru adalah contoh dan tauladan yang baik, guru adalah sosok yang mentukan generasi emas. Maka dari itu, mari kita satukan niat bulatkan tekat menjadi guru seutuhnya. Yakni guru yang profesional, disiplin, dan bertanggungjawab. Mengutamakan tugas pokok daripada tugas tambahan, mengutamakan kepentingan murid daripada kepentingan keluarga dan golongan, guru yang tidak memberi tugas tetapi mengutamakan interaksi, guru yang selalu mendampingi bukan menyiasati, guru teladan bukan tertekan, dan guru yang menginspirasi bukan materi.

Semoga!!!



Rabu, November 26

MEMAKNAI PROFESI GURU SEBAGAI JALAN DAKWA ; REFLEKSI DAN IMPLEMENTASI AJARAN NABI



Tulisan ini terinspirasi dari isi ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Rois salah satu guru SMK 1 Kaliorang dalam acara Majelis Taklim PGRI Adz-Dzikro Cabang Kaubun. Kegiatan ini dilaksanakan di TPA Masjid Nurul Iman Desa Bumi Rapak. Acara dimulai setelah pelaksanaan Upacara Perayaan Hari Guru Nasional (HGN) dan Ulang Tahun PGRI yang ke- 80 tahun. Hari Selasa, 25 November 2025 jam 10.00 sampai 11.30 wita di lapangan Buaya Rapak SP 2 Kaubun. 

Turut hadir dalam acara ini adalah Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Kaubun, Ketua PGRI, Ketua PGRI demosioner, Peninsiunan Guru (Guru Purnabakti), semua kepala sekolah, dan seluruh Tenaga Pendidikan dan Kependidikan TK, SD, SMP, dan SMA se-Kecamatan Kaubun. 

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia jika dibandingkan dengan profesi lain karena ditangan gurulah generasi dititipkan untuk diajarkan tentang adab dan ilmu, tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Dengan demikian dipundak gurulah generasi dididik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk peradaban yang bermartabat, dan mewujudkan pribadi yang utuh sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Berdasarkan amanat UU di atas, sangatlah mulia tugas seorang guru yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti mewujudkan generasi yang cerdas pikirnya, cerdas jiwanya, dan cerdas raganya. Tugas ini tidak setiap orang dapat melakukannya, hanya guru yang memiliki wewenang dan tanggungjawab. 

Kita sepakat bahwa tugas guru tidak sesederhana orang pikirkan atau tidak semudah membalikan telapatangan tetapi banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, misalnya mengurus murid yang bolos, murid yang tidak mengerjakan tugas, dan murid yang berkelahi. Disamping itu, menyiapkan perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran di kelas, melaksanakan tugas administrasi kepangkatan, dan melaksanakan tugas tambahan lain. Kemudian masalah lain yang dihadapi guru juga adalah beban administratif yang berlebihan, kurikulum yang sering berubah, dan tantangan dalam manajemen kelas serta menghadapi karakteristik siswa yang beragam juga keterbatasan fasilitas. Dengan kompleksnya tugas tersebut, bagi sebagian guru merasa capek, bosan, dan lelah sehingga terkadang lalai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. 

Dengan begitu banyaknya masalah yang dihadapi dan tidak sedikitnya beban kerja yang dilakukan, maka tidaklah heran jika ada oknum guru yang merasa capek, cepat marah, keras, kasar, dan egois. Hal ini tidak bisa kita pungkiri dan ini fakta tak terbantahkan. Pertanyaannya adalah apakah menjadi guru itu capakek? Tentu, semua pekerjaan pasti ada capenya, kalau merasa capek menjadi guru maka berhentilah menjadi guru, mendingan jadi karyawan Sawit atau karyawan Tambang. Tetapi pada kenyataannya menjadi karyawan itu lebih capek lagi. Jika benar begitu, masalahnya dimana? Ternyata yang capek itu adalah niatnya, padahal kalau kita tulus maka capek itu tidak akan ada jika niatnya baik dan tulus.  Oleh karena itu, Niat menjadi guru perlu diluruskan, semata-mata menjadi guru adalah untuk mendapatkan ridho Allah atau mendapatkan pahala. Perlu diingat bahwa semua pekerjaan harus didahului oleh niat. Segala sesuatu yang kita lakukan tergantung dari niat.

Kita harus bersyukur sudah ditakdirkan menjadi seorang guru karena dengan jalan ini guru sudah memiliki rumah, lahan sawit, tanah kaplingan, mobil, dll. Semua yang kita miliki saat ini adalah berkah dari gaji guru. Maka rasa syukur itu harus diwujudkan dengan melaksanakan tugas dengan baik lalu menerapkan keteladanan, kasih sayang, kesabaran, keterbukaan, dan dialog dalam proses belajar mengajar. 

Maka dititik inilah pentingnya menjadikan profesi guru ini sebagai jalan Dakwa. Pendidikan dan pengajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad perlu diterapkan. Peran guru bukan hanya sekadar pengajar yang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga seorang pendidik yang membentuk karakter dan moral generasi penerus. Peran guru sangat mulia, bahkan bisa menjadi jalan dakwah yang efektif. Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama bagi seluruh umat Muslim, termasuk dalam bidang pendidikan. Beberapa prinsip pendidikan yang diajarkan dan dipraktikkan oleh beliau diantaranya; 

Pertama, Keteladanan, Nabi Muhammad SAW selalu memberikan contoh yang baik dalam setiap aspek kehidupan. Sebagai guru, kita harus menjadi contoh yang baik bagi siswa, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Kedua, ​Kasih Sayang dan Kelembutan, Beliau selalu menyampaikan ajaran dengan kasih sayang dan kelembutan. Dalam mendidik, guru harus mendekati siswa dengan hati yang penuh kasih, bukan dengan kekerasan atau paksaan.

​Ketiga, Keadilan, Nabi Muhammad SAW selalu adil dalam memperlakukan semua orang. Guru harus adil dalam memberikan perhatian dan penilaian kepada semua siswa, tanpa membeda-bedakan.

​Keempat, Kesabaran, Beliau sangat sabar dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Guru harus sabar dalam membimbing siswa yang memiliki beragam karakter dan kemampuan.

​Kelima, Keterbukaan dan Dialog, Nabi Muhammad SAW selalu membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi dengan para sahabat. Guru harus menciptakan suasana kelas yang terbuka, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Memaknai jalan profesi sebagai jalan dakwa Saidina Muhammad. Menjadi guru jangan menyerah dan pasrah tetapi mencontohlah Nabi muhammad. Nabi Muhammad sampai dilempar dengan batu, kotoran, dicaci, dan dihina tetapi tetap sabar dan tawakal menjalankan dakwahnya, beliau niatkan karena Allah dan untuk mendapatkan ridhoNya. 

Oleh karena itu, dengan mulianya tugas seseorang guru maka jangan sampai dikotori oleh oknum-oknum yang tidak paham akan jati diri seorang guru sehingga serta merta ingin menjadi guru. Idealnya tidak semua orang bisa menjadi guru karena harus melalui proses panjang yakni kuliah 4 tahun lalu melanjutkan pendidikan profesi 1 tahun denga  mengikuti program Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tidak hanya itu, guru juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Hal ini dapat dipenuhi secara mandiri atau melalui program pemerintah. Guru harus terus belajar dan belajar terus mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, mari kita junjung profesi guru dengan sebaik-baiknya. 

Kita semua sepakat bahwa tanpa guru kita tidak bisa apa-apa dan kita bukan siapa-siapa. Semua Ilmu, jabatan, harta dan kekuasaan yang kita miliki tidak terlepas dari tempaan seorang guru. Begitu besarnya perjuangan seorang guru dalam membentuk manusia seutuhnya. 

Hadiah terindah bagi guru saat dia meninggal dunia adalah surah Al-Fatihah. Jika kita mau didoakan maka doakanlah murid kita, doakan yang terbaik untuk murid-murid kita agar mereka sukses dunia dan akhirat. Doakan murid kita di setiap pagi dan petang, doa yang mustajab adalah doa di sepertiga malam yaitu selesai Sholat Tahajjud lalu membaca Al-quran. Sebelum berangkat sekolah guru harus sholat Sunat dulu dua rakaat dan berdoa untuk kelancaran dan kemudahan dalam proses pembelajaran. 

Nabi Muhammad dalam keadaan suci jika sedang mengajar yaitu berwudhu. Oleh karena itu, diharapkan kepada guru agar berwudu dulu sebelum mengajar sehingga ilmu yang disampaikan penuh keberkahan, mudah deserap dan diimplementasikan oleh murid dalam kehidupannya sehari-hari. 

Kenapa murid kita masih saja nakal kemudian tidak paham-paham terhadap materi yang kita ajarkan jawabannya adalah kita belum ikhlas mendidik dan mengajar murid kita. Kita langsung marah jika murid berbuat salah, dan selalu berpikir negatif tentang mereka. Oleh karena itu, keikhlasan pasrah karena Allah semata-mata ingin mendapatkan ridho-Nya tidak ada tendensi atau kepentingan lain yang melekat dalam hati kita. Lepaskan semua beban derita, lupakan dulu semua urusan keluarga dan rumah tangga fokuskan pikiran dan hati pada kemuliaan tugas mendidik dan mengajar murid.

Jadikanlah murid kita sebagai anak sendiri perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya disayang dilayani dengan baik. Pandanglah mereka sebagai keluarga sendiri. 

Jadi, profesi guru adalah amanah yang besar dan mulia. Dengan merefleksikan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, guru dapat menjadikan profesinya sebagai jalan dakwah yang efektif. Meskipun ada berbagai tantangan, dengan niat yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh, guru dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan umat dan bangsa yakni mencerdaskan anak bangsa yang beriman, berilmu, beramal, dan berakhlak mulia.

Mari jadikan profesi guru menjadi profesi yang diridhoi oleh Allah dan Nabi Muhammad. 

Aamiin…  

Semoga…  










Senin, November 3

SEKOLAH UNGGULAN DAN KELAS BILINGUAL ; VISI DINAS PENDIDIKAN KALTIM 2024-2028


SEKOLAH UNGGULAN 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur melalui PLT kepala dinas Armin, M.Pd. Menuturkan beberapa program dinas pendidikan salah satunya adalah Pendidikan dan Pelatihan Guru yang dilaksanakan sekali dalam enam bulan tujuannya adalah untuk melakukan penyegaran dan pemantauan kompetensi tenaga pendidik. Setelah melakukan pendidikan dan pelatihan semua guru dites atau duji kompetensinya, ujian ini berkaitan langsung dengan mapel yang diampuhnya. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan sekolah unggulan. Salah satu prasyarat sekolah unggulan adalah memiliki guru yang berkompeten. Program ini dibeberkan dalam pembukaan Workshop Pemetaan Tenaga Pendidik SMA dan SLB Kalimantan Timur 23 Oktober 2025 di Hotel Horison Ultimate Bandara Balikpapan jalan Marsa R. Iswahyudi Sepinggan Kota Balikpapan. 

Kemudian Armin juga mengharapkan semua sekolah SMA/SMK harus berlomba-lomba menjadi sekolah unggul jika tidak mampu menjadi sekolah unggulan. Sekolah unggul ini paling tidak sesuai dengan potensi lokal masing-masing, pengetahuan dan keterampilan apa yang dapat diandalkan dari lulusan sekolah tersebut, ada keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di daerah lain.  

Menjadi sekolah unggulan memang sulit karena banyak hal yang harus dipenuhi. Ukuran sekolah unggulan adalah bukan seberapa pintar gurunya, semegah apa gedungnya, dan seberapa gagah kepala sekolahnya tetapi berapa banyak lulusan yang masuk Perguruan Tinggi Negeri ternama dan kampus-kampus luar negeri. sekadar informasi, sekolah unggulan di Indonesia ada 12 sekolah tiga diantaranya ada di Kalimantan Timur yakni SMA 10 Samarinda, SMA 3 tenggarong, dan SMA 2 Sangatta. Sekolah-sekolah ini sudah ditunjuk langsung oleh Presiden Probowo Subianto, sekolah unggulan ini juga akan ditransformasi menjadi sekolah Garuda dan menjadi binaan Kementrian Pendidikan. 

Sekolah unggulan identik dengan mutu lulusan, di Indonesia sekolah unggulan lebih sedikit dari negara lain misalnya dengan Singapura. Perbedaan mutu Indonesia dengan Singapura adalah 20 dan 80 persen, anak indoensia hanya mampu membaca teks tetapi tidak mampu membaca konteks sedangkan Singapura sudah mampu membaca teks dan konteks. Tingkat literasi Singapura lebih tinggi dari literasi Indonesia sehingga di Singapura rata-rata sekolah unggulan.

Armin menambahkan sekolah unggulan yang dibangun ini harus dapat diakses oleh seluruh peserta didik dari berbagai kota kabupaten dan kecamatan di kaltim, mereka memiliki hak yang sama mengunyah sekolah unggulan ini, tidak ada diskriminasi diantara mereka. Penerimaan siswa baru harus dilakukan secara terbuka, transparan, dan akuntabel. 

Sekolah harus berkerjasama dengan orang tua, bagaimana sekolah bisa merubah mindset atau cara berpikir orang tua bahwa pendidikan itu penting sehingga tidak ada lagi orang tua yang melarang anaknya untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Pemerintah Kaltim sudah menyiapkan pendidikan gratis sehingga anak dapat bersekolah sampai perguruan tinggi. Kemudian ada anak yang ingin kuliah tapi kendala biaya. Kaitannya dengan ha ini memang ada program pendidikan gratis, pemerintah yang kita sebut “gratispoll” tetapi tidak menyentuh akar masalahnya. Masalahnya adalah anak-anak tersebut tidak mampu mengakses pendidikan gratis tersebut, harusnya pemerintah 'jemput bola' dengan mendata siswa disetiap sekolah yang ingin kuliah dan memastikan mereka sudah duduk di bangku Perguruan tinggi. 

Untuk mewujudkan sekolah unggulan tentu salah satu yang menjadi prioritas adalah kualifikasi guru, pendidikan guru minimal S2 atau Master Pendidikan. Untuk itu Guru, dosen, pengawas, dan widiaswara dalam menempuh pendidikan S2 gratis tidak dibatasi oleh umur selagi dia sehat dan mampu memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan melalui program gratispool. 

Armin menyadari betul bahwa masalah sekolah unggulan saat ini meliputi potensi kesenjangan kualitas pendidikan, ketidakadilan akses, dan pelabelan negatif bagi siswa dari sekolah lain. Sekolah unggulan dengan fasilitas canggih dan guru berkualitas dapat memperburuk ketidaksetaraan, sementara sekolah lain yang tidak memiliki sumber daya serupa mungkin tertinggal lebih jauh. Selain itu, sekolah unggulan dapat memicu masalah sosio-psikologis seperti kecemburuan dan stigma. 

Sekolah unggulan sering kali memiliki fasilitas, sumber daya, dan guru berkualitas lebih tinggi, yang menciptakan jurang perbedaan dengan sekolah lain yang mungkin hanya memiliki sumber daya dasar. 

Proses seleksi masuk yang ketat tidak menjamin akses yang adil bagi semua siswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu yang mungkin tidak memiliki akses informasi yang baik atau sumber daya untuk mengikuti seleksi. Kondisi tidak adil ini memberi preseden buruk bagi dia pendidiakan. 

Adanya label "unggulan" dan "non-unggulan" dapat menciptakan stigma negatif yang mempengaruhi kepercayaan diri siswa dan memperkuat stereotip sosial, stigmatisasi semacam ini menimbulkan perpecahan. 

Perbedaan kualitas dan fasilitas dapat menimbulkan kecemburuan antar siswa, orang tua, dan bahkan guru di sekolah yang berbeda hal ini menjadi masalah sosio spiskoligis. Terkadang, anggaran untuk sekolah unggulan bisa menjadi tidak efisien jika tidak disesuaikan dengan kebutuhan riil pendidikan dasar dan menengah secara keseluruhan.

Dengan adanya masalah tersebut dinas pendidikan memprioritaskan pemenuhan hak atas pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas secara merata di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Kemudian menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah non-unggulan dan memastikan mereka memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Lalu Menerapkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan tidak diskriminatif agar setiap siswa mendapatkan kesempatan dan layanan pendidikan yang setara, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi mereka.

SEKOLAH BILINGUL

Sekolah bilingual adalah sekolah yang menerapkan dua bahasa dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah. Program ini harus disesuaikan dengan kesiapan tenaga pengajar di sekolah misalnya guru bahasa Inggris atau bahasa lain yang sekira bisa dikembangkan. misalnya, Guru bahasa Inggris bertanggungjawab penuh terhadap bilingual ini karena dia harus menjadi role model dalam berkomunikasi, mengajarkan, memperbaiki ucapan, dan menyusun program, dll. Semua warga sekolah harus belajar menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi khususnya guru dalam membuka dan menutup kegiatan pembelajaran bahkan dalam mengajarkan materi pelajaran. oleh karena itu, semua guru mengajarkan mata pelajaran yang diampuhnya dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa ibu (bahasa Indonesia) dan bahasa asing (bahasa Inggris). 

Siswa diajarkan berbagai mata pelajaran menggunakan kedua bahasa tersebut, bukan hanya mengajarkan bahasa asing sebagai mata pelajaran terpisah. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya mahir dalam bahasa tersebut tetapi juga mampu berpikir, berkomunikasi, dan menguasai materi pelajaran secara menyeluruh dalam kedua bahasa. 

Program sekolah Billingual ini menarik memang tetapi sepertinya sulit untuk dilakukan apalagi menjadi tanggung jawab guru bahasa Inggris karena jumlahnya terbatas, guru yang bersangkutan memiliki beban kerja yang tinggi, jam mengajarnya banyak hampir tidak ada perkerjaan lain yang bisa dilakukan kecuali mengajar. Kemudian komitmen yang kurang terbangun dari seluruh warga sekolah untuk menggunakan bahasa Inggris dalam beraktivitas di sekolah. 

Adapun manfaat dari sekolah bilingual ini diantaranya Siswa bilingual cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, seperti kemampuan memecahkan masalah dan mengerjakan berbagai tugas sekaligus. Siswa dapat menguasai kedua bahasa secara seimbang dan lebih terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ini juga mendorong keberagaman dan pemahaman budaya dengan memperkenalkan siswa pada cara berpikir yang berbeda. 


BELAJAR DARI ABU BAKAR UNTUK MERAIH GELAR AT-TAQWA

PENYOLONGAN_ Sabtu, 7 Maret 2026 dilaksanakan Buka Bersama di  Muhammadiyah Boarding School (MBS)  Tahfiz Alquran At-Tanwin Penyolongan Sang...